TATA CARA BER-THARIQAH

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa di dalam thariqah terdapat banyak aliran-aliran, yang tentu saja masing-masing aliran mempunyai tata cara sendiri-sendiri di dalam melaksanakan amalan thariqahnya.

Perbedaan tata cara di antara aliran thariqah yang satu dengan yang lainnya, bukanlah pada persoalan pokok dan inti, yakni “talqin dzikir”. Karena talqin dzikir inilah sebenarnya inti di dalam thariqah, yang membedakannya dari kegiatan dzikir-dzikir lain di luar thariqah. Oleh karena itu ada baiknya pada bagian ini dijelaskan terlebih dahulu tata cara Talqin Dzikir atau yang lazim disebut Bai’at, yang biasa dilakukan oleh seorang Guru Mursyid kepada murid thariqah. Yaitu -sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Ahmad Al-Kamisykhonawi.ra dalam kitabnya jami’ul Ushul- sebagai berikut ;

“Adapun tata cara pengambilan dzikir adalah hendaknya si murid dan sang syaikh atau salah satunya beristikharah terlebih dahulu. Apabila hasil istikharahnya sesuai, dan itulah yang diharapkan, maka hal itu dapat dijadikan petunjuk  bahwa ia telah mendapatkan izin dari Hadirat ’Allarnul Ghuyub (Allah). Setelah itu sang syaikh akan mendudukkan si murid di hadapannya setelah dia sempurna bersuci, sambil menempelkan kedua lututnya dengan kedua lutut si murid, sebagaimana yang dilakukan oleh Jibril ‘alaihis-salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dengan tangan kanannya, dia memegang tangan kanan si murid layaknya orang bersalaman, lalu memintanya bertobat dari segala kesalahan dan maksiat serta menyuruhnya meminta halal kepada orang-orang yang mempunyai hak padanya, mengembalikan apa-apa yang bukan haknya, meninggalkan bid’ah, melaksanakan sunnah, menjauhi rukhshah dan melaksanakan ‘azimah. Selanjutnya keduanya bersama-sama dengan niat taubat dari apa yang menyalahi ridlo Allah membaca ayat:

kemudian si murid memejamkan kedua matanya dan sang syaikh mengucapkan “tahlil” (La ilaaha illallah) tiga kali, sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Sahabat Ali, lalu membaca ayat

untuk tabarruk dan isyarat bahwa seakan-akan ia berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Setelah ini keduanya menaruh kedua tangan mereka pada kedua lutut sambil memejamkan kedua mata mereka, lalu sang syaikh dengan hatinya berdzikir menyebut Ismudz-Dzat (Allah) tiga kali, dengan niat mentalqin dan mengajarkan pada hati si murid dengan memanjangkan (bacaan) dan hudlur seakan-akan melihat Al-Malik Al-Ghofur. Kemudian disuruhnya si murid membaca istighfar, Al-Fatihah dan Al-Ikhlas kepada silsilah thariqahnya, dan rabithah dengan syaikhnya dengan syarat hendaknya si murid meyakini bahwa syaikhnya adalah khalifah (penerus) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal penganugerahan, dan naib (pengganti) beliau dalam membina dan membimbing manusia.”

Itulah tata cara dalam talqin dzikir secara umum, yang dalam prakteknya ada yang persis seperti itu, ada yang sedikit ditambah dan ada yang sedikit dikurangi. Namun semuanya itu tidak ada yang keluar dari hal-hal yang prinsip dan pokok.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: