SYARAT THARIQAH

Syarat Thariqah

 

Alhamdulillah, terima kasih atas keterangan dan penjelasannya.

Insya ALLAH dari apa yang mas Affan utarakan, maka jelas mas Affan “belum” masuk thariqah. karena salah satu syarat ber-thariqah, adalah bai’at dari seorang Mursyid yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW, yang mana mursyid tersebut telah memiliki empat syarat Thariqah sbb:

1. Sanad-nya silsilahnya muktabaroh, artinya tidak putus shahih sampai kepada Baginda Nabi SAW.Ath-Thoriqotil-Baidlo’ yakni Thoriqoh yang bersih yang muttasil sanadnya sampai Rosulillah SAW

2. Bay’at, melalui guru mursyid yang memilki otoritas dari guru mursyidnya sambung menyambung sampai kepada Baginda Nabi SAW.

3. tidak didapat melalui mimpi.

4. adanya khirqah atau ilbas yang dimiliki oleh Mursyid tersebut. (ini yang sangat kuat menunjukkan otoritasnya) karena ia memiliki khirqah yang maknanya sesuatu peninggalan dari Baginda Nabi SAW atau dari Imam Thariqahnya, yang diberikan secara turun menurun dari setiap guru mursyid terdahulu sampai kepada sang mursyid guru kita sekarang tersebut yang mana bukti otentik khirqah/ilbas tersebut diketahui oleh banyak saksinya. misal yang saya ketahui dari guru-guru mursyid kami;

Abah Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, memilki banyak khirqah, jubah dan kain dari Rasulullah SAW, jubah dari ke-empat Sahabat Abu Bakar-Umar-Utsman-Ali.ra juga yang saya ketahui beliau memiliki selendang dari Sayidi Syekh Abu Bakar bin Salim, tasbih dari Mawlana Sunan Ampel, potongan kiswah kain Ka’bah dsb.

Mawlana Syaikh Nazim dan Mawlana Syaikh Hisyam memilki rambut Rasulullah SAW, Mawlana Syaikh Nazim juga memilki koin dari Kanjeng Syaikh Abdul Qodir al-Jailani.rhm

al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh memiliki kain sorban Kanjeng Nabi SAW.

Al-Habib as-Sayid Muhammad bin Alwy al-Maliki memilki kain sorban, transkrip surat serta tanda tangan Baginda Nabi SAW, memiliki tanda tangan hadist dari Sahabat Rasul SAW, kain kiswah Kabah, cincin. dll

 

demikian keterangan dari guru kami yang juga termaktub dalam kitab Jami’ ushul awliya..

 

berikut keterangan yang merupakan pedoman bagi orang yang berthoriqah

Di dalam thariqah ada yang disebut Talqinudz Dzikr, yakni pendiktean kalimat dzikir La ilaaha illallah dengan lisan (diucapkan) dan atau pendiktean Ismudz-Dzat lafadh Allah secara bathiniyah dari seorang Guru Mursyid kepada muridnya. Dalam pelaksanaan dzikir thariqah, seseorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang muttasil (bersambung) dari guru mursyidnya yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Penisbatan (pengakuan adanya hubungan) seorang murid dengan guru mursyidnya hanya bisa terjadi melalui talqin dan ta’lim(belajar) dari seorang guru yang telah memperoleh izin untuk memberikan ijazah yang sah yang bersandar sampai kepada Guru Mursyid Shohibut Thariqoh, yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Karena dzikir tidak akan memberikan faedah yang sempurna kecuali melalui talqin dan izin dari seorang guru mursyid. Bahkan mayoritas ulama thariqoh menjadikan talqin dzikir ini sebagai salah satu syarat dalam berthariqoh. Karena sirr(rahasia) dalam thariqoh sesungguhnya adalah keterikatan antara satu hati dengan hati yang lainnya sampai kepada Rasulullah SAW, yang bersambung sampai ke hadirat Yang Maha Haqq, Allah Azza wa jalla.

Dan seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir yang juga lazim disebut dengan bai’at dari seorang guru mursyid, berarti dia telah masuk silsilahnya para kekasih Allah yang agung. Jadi jika seseorang berbai’at Thariqoh berarti dia telah berusaha untuk turut menjalankan perkara yang telah dijalankan oleh mereka.

Perumpamaan orang yang berdzikir yang telah ditalqin/dibai’at oleh guru mursyid itu seperti lingkaran rantai yang saling bergandengan hingga induknya, yaitu Rasulullah SAW. Jadi kalau induknya ditarik maka semua lingkaran yang terangkai akan ikut tertarik kemanapun arah tarikannya itu. Dan silsilah para wali sampai kepada Rasulullah SAW itu bagaikan sebuah rangkaian lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan.

Berbeda dengan orang yang berdzikir yang belum bertalqin/berbai’at kepada seorang guru mursyid, ibarat anak rantai yang terlepas dari rangkaiannya. Seumpama induk rantai itu ditarik, maka ia tidak akan ikut tertarik. Maka kita semua perlu bersyukur karena telah diberi ghirah (semangat) dan kemauan untuk berbai’at kepada seorang guru mursyid. Tinggal kewajiban kita untuk beristiqomah menjalaninya serta senantiasa menjaga dan menjalankan syari’at dengan sungguh-sungguh. Dan hendaknya juga dapat istiqomah didalam murabithah (merekatkan hubungan) dengan guru mursyid kita masing-masing.
semoga bermanfaat, dan tidak menjadi kebimbangan lagi. Insya ALLAH kalau ada kesempatan waktu, jika ingin ber-bai’at dengan guru mursyid kami, Mas Affan diusahakan bisa hadir pada Jum’at Kliwon setelah subuh, di Pekalongan. Beliau biasa memberikan bai’at pada waktu tersebut. Syukur-syukur bisa janjian ketemuan, Insya ALLAH saya antarkan kepada Beliau.

untuk sementara ini jika mas Affan berkenan, meninggalkan dzikir2 tsb. lalu menggantikan dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW. min sehari 300x. (boleh bacanya dicicil, 300:5= 60 x setiap habis sholat 5 waktu, atau dsb).

Sholawat apa saja, atau yang pendek saja “Shalallahu ‘alaa Muhammad

 

mohon maaf jika kurang berkenan.

 

wass.wr.wb

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: