SEKILAS KEMUNCULAN THARIQAH

Sekilas Kemunculan Thariqah

Thariqah adalah salah satu tradisi keagamaan dalam Islam yang sebenamya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thariqah dari generasi ke generasi sampai kita sekarang ini.

Lihat saja misalnya hadits yang meriwayatkan bahwa ketika Islam telah berkembang luas dan kaum muslimin telah memperoleh kemakrnuran, Sahabat Umar bin Khotthob RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Ketika dia telah masuk didalamnya, dia tertegun melihat isi rumah beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanyalah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah griba (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk berwudlu’. Keharuan muncul di hati Umar, yang kemudian tanpa disadarinya air matanya berlinang. Maka kemudian Rasulullah SAW pun menegumya: “Gerangan apakah yang membuatmu menangis, wahai Sahabatku?”, Umar pun menjawab: Bagaimana aku tidak menangis, ya Rasulullah?, hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah Tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja clan sebuah griba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia timur dan dunia barat, dan kemakmuran telah melimpah.” Lalu beliau menjawab:”Wahai Umar, aku ini adalah Rasul Allah. Aku bukan seorang kaisar dari Romawi dan juga bukan seorang Kaisar dari Persia. Mereka hanyalah mengejar duniawi, sementara aku mengutamakan ukhrowri.”

Suatu hari Malaikat Jibril AS datang kepada Nabi SAW. Setelah menyampaikan salam dari Allah, dia bertanya:”Ya Muhammad, manakah yang Engkau sukai, menjadi nabi yang kaya raya seperti Sulaiman AS atau menjadi nabi yang papa seperti Ayyub AS ?” Beliau menjawab: “Aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari. Di saat kenyang, aku bisa bersyukur kepada Allah clan di saat lapar, aku bisa bersabar dengan ujian dari Nya.”

Bahkan suatu hari Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabatnya: “Bagaimana sikap kalian, jika sekiranya kelak telah terbuka untuk kalian kekayaan Romawi dan Persia?” Di antara sahabat ada yang se­gera menjawab:”Kami akan tetap teguh memegang agama, ya Rasulullah!” Tetapi beliau segera menukas, “Pada saat itu kalian akan berkelahi sesama kalian. Dan kalian akan berpecah belah, sebagian kalian akan bermusuhan dengan sebagian lainnya. Jumlah kalian banyak tetapi lemah, laksana buih di lautan. Kalian akan hancur lebur seperti kayu dimakan anai-anai!” Para sahabat penasaran, lalu bertanya: “Mengapa bisa begitu, ya Rasulullah?” Lalu Nabi SAW pun menjawab: “Karena pada saat itu hati kalian telah terpaut kepada duniawi (materi) dan takut menghadapi kematian.” Di kesempatan lain, beliau juga menegaskan: “Harta benda dan kemegahan pangkat akan menimbulkan fitnah di antara kalian!.”

Apa yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW tersebut bukanlah ramalan, karena beliau pantang untuk meramal. Tetapi adalah suatu ikhbar bil mughoyyabat (pemberitaan tentang sesuatu yang masih ghaib) yang mengandung indzar(peringatan) kepada umatnya agar benar-benar waspada terhadap godaan dan tipu daya dunia.

Sepeninggal Nabi pun, ternyata apa yang beliau sabdakan itu menjadi kenyataan. Fitnah yang sangat besar terjadi di separoh terakhir pemerintahan Khulafaur-Rasyidin. Dan lebih hebat lagi di zaman Daulat Bani Umayyah, dimana sistem pemerintahan telah mirip dengan kerajaan. Penguasa memiliki kekuasaan yang tak terbatas, yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka, keluarga atau kelompoknya dan mengalahkan kepentingan rakyat kebanyakan. Dan akhimya berujung pada munculnya pemberontakan yang digerakkan oleh golongan Khawarij, golongan Syi’ah dan golongan Zuhhad (orang-orang yang berperilaku zuhud).

Hanya saja ada perbedaan di antara mereka. Kedua golongan yang pertama  memberontak dengan motifasi politik, yakni untuk merebut kekuasaan dan jabatan, sementara golongan terakhir memberontak untuk mengingatkan para penguasa agar kembali kepada ajaran agama Islam dan memakmurkan kehidupan rohani, serta menumbuhkan keadilan yang merata bagi warga masyarakat. Mereka berpendapat bahwa kehidupan rohani yang terpelihara dengan baik akan dapat memadamkan api fitnah, iri dengki dan dendam.

Meskipun saat itu Daulat Bani Umayyah merupakan pemerintahan yang terbesar di dunia, dengan wilayah kekuasaannya yang sangat luas, yang terbentang dari daratan Asia dan Afrika di bagian timur sampai daratan Spanyol Eropa di bagian barat, pada akhirnya mengalami kehancuran. Pengalarnan dan nasib yang sama juga dialami oleh Pemerintahan Daulat Bani Abbasiyah. Meskipun saat itu umat muslim sangat banyak dan kekuasaan rnereka sangat besar, tetapi hanya laksana buih di lautan atau kayu yang dimakan anak-anak, sebagaimana dinyatakan Nabi SAW diatas. Semua itu disebabkan oleh faktor hubbud-dunya (cinta dunia) dan karihiyatul-­maut (takut menghadapi kematian). Sebab yang tampak makmur hanya kehidupan lahiriah/duniawi, sementara kehidupan bathiniyah/rohani mereka mengalami kegersangan. Inilah yang menjadi motivasi gerakan golongan Zuhhad.

Golongan Zuhhad inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam penulisan buku ini, karena gerakan-gerakannya mengajak kembali kepada ajaran Islam yang benar dan mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.

Gerakan yang muncul di akhir abad pertama hijriyah ini, pada mulanya merupakan kegiatan sebagian kaum muslimin yang semata-mata berusaha mengendalikan jiwa mereka dan menempuh cara hidup untuk menggapai ridhlo Allah SWT, agar tidak terpengaruh dan terpedaya oleh tipuan dan godaan duniawi (materi). Karenanya, pada saat itu mereka lebih dikenal dengan sebutan “Zuhhad” (orang-orang yang berperilaku zuhud), “Nussak” (orang-orang yang berusaha melakukan segala ajaran agama) atau “Ubbad” (orang-orang yang rajin melaksanakan ibadah).

Lama kelamaan cara kehidupan rohani yang mereka tempuh, kemudian berkembang menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lebih murni, bahkan lebih mendalam yaitu kehendak mencapai hakekat ketuhanan dan ma’rifat (mengenal) kepada Allah yang sebenar-benarnya, melalui riyadlah (laku-latihan prihatin), mujahadah (perjuangan batin yang sungguh-sungguh), mukasyafah (tersingkapnya tabir penghalang antara diri mereka dengan Allah) dan akhirnya musya-hadah (penyaksian terhadap keberadaan Allah). Atau dengan istilah lain, laku batin yang mereka tempuh dimulai dengan takhalli” yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela, lalu tahalliyaitu menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji dan akhirnya “tajalli” yaitu mendapatkan pencerahan dari Allah. Tata cara kehidupan rohani tersebut kemudian tumbuh berkembang di kalangan masyarakat muslim, yang akhirnya menjadi disiplin keilmuan tersendiri, yang dikenal dengan “Ilmu Tashawuf”.

Sejak munculnya Tasawuf Islam di akhir abad kedua hijriyah, sebagai kelanjutan dari gerakan Golongan Zuhhad, muncullah istilah “Thariqah” yang tampilan bentuknya berbeda dan sedikit demi sedikit menunjuk pada sesuatu yang tertentu, yaitu sekumpulan akidah-akidah, akhlaq-akhlaq dan aturan-aturan tertentu bagi kaum Shufi. Pada saat itu sebutan “Thariqah Shufiyah” (metode orang-orang shufi) menjadi pengimbang terhadap sebutan “Tharriqah Arbabil-aql wal-fikr” (metode orang-orang yang mengandalkan akal fikiran). Yang pertama lebih menekankan pada dzauq (rasa), sementara yang kedua lebih menekankan pada burhan (bukti nyata/empiris). Istilah “thariqah” terkadang kemudian digunakan untuk menyebut suatu pembimbingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridnya. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak difahami oleh banyak kalangan, ketika mendengar kata “thariqah”.

Pada perkembangan berikutnya, terjadi perbedaan di antara para tokoh shufi di dalam menggunakan metode laku batin mereka untuk menggapai tujuan utamanya, yaitu Allah dan ridhlo-Nya. Ada yang menggunakan metode latihan-latihan jiwa, dari tingkat terendah yaitu Nafsu Ammarah, ke tingkat Nafsu Lawamah, terus ke tingkat Nafsu Muthmainnah, lalu ke tingkat Nafsu Mulhamah, kemudian ke tingkat Nafsu Radhliyah, selanjutnya ke tingkat Nafsu Mardhliyah dan akhirnya sampai pada Nafsu Kamaliyah. Ada pula yang menggunakan metode takhalli, lalu tahalli dan akhirnya tajalli: Ada pula yang menggunakan metode dzikir, yaitu dengan cara Mulazamatudz-dzikr, yakni melanggengkan dzikir dan senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun.

Dari perbedaan metode itulah, akhirnya muncul aliran-aliran thariqah yang mengambil nama dari tokoh-tokoh sentral aliran-aliran tersebut, seperti Qodiriyah, Rifa’iyah, Syadzaliyah, Ahmadiyah, Dasuqiyah/Barahamiyah, Zainiyah, Tijaniyah, Naqsyabandiyah dan sebagainya.

 

MENGAMALKAN AJARAN THARIQAH

 

THORIQOH atau tarekat berarti “jalan”. Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thariqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.” (dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah).

Para ulama menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (syubhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunat pada malam hari, berpuasa sunat, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak beguna. [dalam kitab Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah Imam Ghazali]

Thariqoh yang dimaksud dalam pembicaraan ini lebih mengacu kepada peristilahan umum yang berlaku dikalangan umat Islam di seluruh dunia, khususnya warga NU, yakni semacam aliran dalam tasawuf (berbeda dengan mistik atau klenik) yang mengharuskan para pengikutnya menjalankan amalan peribadatan tertentu secara rutin –biasanya berupa bacaan atau wiridan khusus– yang dipandu oleh seorang guru atau mursyid. Hadits yang disebutkan di atas sekaligus menjadi dalil naqli diperbolekannya ajaran-ajaran thoriqoh.

Para murid yang mengikuti aliran thoriqoh tertentu sedianya berniat belajar membersihkan hati dengan bantuan guru atau mursyid mereka dengan cara menjalankan amalan-amalan dan doa-doa khusus. Jika mereka masih awam dalam masalah keagaman dasar seperti masalah wudlu, sholat, puasa, nikah dan waris, maka mereka sekaligus belajar itu kepada sang mursyid. Para murid berbai’at atau mengucapkan janji setia untuk menjalankan amalan-amalan thariqoh yang dibimbing oleh sang mursyid. Bai’at thariqoh adalah berjanji dzikrullah dalam bacaan dan jumlah tertentu kepada guru dan berjanji mengamalkan ajaran islam dan meninggalkan larangannya. Sebagaimana bermadzab atau mengikuti imam tertentu dalam bidang fikih, para murid tidak diperkenankan berpindah thoriqoh kecuali dengan pertimbangan yang jelas dan mampu melaksanakan semua amalan thoriqohnya yang baru.

Sementara itu sang mursyid wajib menyayangi, membimbing, dan membantu membersihkan hati murid-muridnya dari kotoran dunia. Mursyid harus memiliki sifat kasih sayang yang tinggi terhadap kaum muslimin, khususnya terhadap murid-muridnya. Ketika ia mengetahui mereka belum mampu melawan hawa nafsu mereka dan belum mampu meninggalkan kejelekan, misalnya, maka ia harus bersikap toleran. Setelah ia menasihati mereka dan tidak memutus mereka dari thoriqah, juga tidak mengklaim mereka celaka, melainkan senantiasa menyayangi mereka sampai mereka mendapatkan hidayah.

Demikian syarat seorang mursyid yang disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub. Mursyid harus arif dalam hal kesempurnaan hati, adab-adabnya, dan bersih dari penyakit-penyakit hati. Mursyid juga harus memiliki ilmu yang dibutuhkan oleh murid-murdnya, yaitu fikih dan aqa’id tauhid dalam batas-batas yang bisa menghilangkan kemusyrikan dan ketidakjelasan yang dihadapi oleh mereka di tingkat awal, sehingga mereka tidak perlu bertanya kepada orang lain.

Ada beberapa thoriqoh yang berkembang di Indonesia. Yang paling banyak pengikutnya, antara lain, Qodiriyah, Naqsabandiyah, Qodiriyah wan Naqsbandiyah, Syadziliyah. Dalam Muktamanya ke-26 di Semarang pada bulan Rajab 1399 H bertepatan dengan bulan Juni 1979 Nahdlatul Ulama meresmikan berdirinya Jam’iyyah Ahlit Thariqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah dan dikukuhkan dengan suat keputusan PB Syuriah NU Nomor: 137/Syur.PB/V/1980). Jam’iyyah ini beranggotakan beberapa thariqot di Indonesia yang mu’tabaroh dan nahdliyah.

Mu’tabaroh artinya thariqoh yang dimaksud bersambung ajarannya kepada Rasulullah SAW. Sementara Rasulullah menerima ajaran dari malaikat Jibril dan Malaikat Jibril dari Allah SWT. Nahdliyah maksudnya adalah bahwa para penganutnya selalu bergerak untuk melaksanakan ibadah dan dzikir kepada Allah SWT yang syariatnya menurut ahlussunnah wal jama’ah ‘ala madzahibil arba’ah (sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para Sabahat Beliau dan disejalaskan oleh imam Madzab empat yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali).

Jam’iyyah Ahlit Thariqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah sering mengadakan perkumpulan untuk membahas persolan-persoalan keagamaan, khususnya berkaitan dengan thoriqoh. Jam’iyyah ini juga berfungsi untuk saling memberikan masukan dan sekaligus membedakan diri dengan aliran-aliran kebatinan yang tidak muk’tabar dan tidak berdasar pada ajaran Rasulullah SAW.

Para pengamal thoriqoh senantiasa menjauhkan diri dari kehidupan dunia yang fana; membersihkan hati

MENCINTAI RASULULLAH SAW

Mencintai Allah Swt dan Rasulullah Saw adalah sesuatu yang wajib, begitu pula mencintai orang yang sholeh, orang yang dekat pada Allah Swt, orang yang menghabiskan hidupnya untuk berjuang dijalan Allah, berdzikir menyebut keagungan dan kemulyaan Allah dan orang orang yang menapaki jejak Rasulullah, kecintaan kepada mereka akan mendatangkan manfa’at yang amat besar, terlebih lagi manakala kecintaan itu diwujudkan dengan mengikuti petuah mereka, serta diikuti dengan berkhidmah, mengabdikan diri dengan ikhlas tanpa pamrih untuk melayani dan meringankan kebutuhan mereka, pada saatnya semua itu menjadi sebab turunnya keberkahan dari Allah Swt, dan akan mendatangkan kemaslahatan dalam semua urusan, di dunia ini maupun di akherat kelak. Sebuah cerita dalam kitab Syarah Hikam Libni’ Abbad, tentang syeikh Ibnu Atho’illah Pengarang AL HIKAM, kitab yang berisi mutiara mutiara kata yang menyentuh keimanan dan meneguhkan keyakinan, yang menjadi rujukan orang orang Saleh sejak zaman dulu hingga kini, dimana dikisahkan, Ibnu Atho’illah mengunjungi Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, seorang wali qutub yang agung dan penerus syaikh Abul Hasan asy-Syadyiliy, dan sekaligus bermaksud hendak berguru kepadanya. Sebagai umumnya seorang murid yang penuh kesungguhan untuk menimba ilmu dan berkah dari gurunya, Ibnu Atho”illah ingin mendapatkan perhatian lebih dari gurunya tersebut (Nadhor Sjech), karena dikalangan kaum Sufi diyakini Nadhorus Sjech akan dapat mengkatrol seorang murid, menuju peringkat yang luar biasa. Sebelum Ibnu Athoillah menyampaikan keinginannya, untuk berguru kepada Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, Waliullah Ibnu Abbas itu sudah terlebih dahulu tahu, maksud hati tamunya, dan beliau berkata : “Kecintaan dan perhatian guru terhadap murid, ditentukan seberapa besar kecintaan dan perhatian murid terhadap gurunya, dan jangan khawatir kamu disini akan menjadi orang yang hebat”. Dalam kesempatan yang lain, pada saat Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, berkeinginan menulis kitab Tahdzib yang waktu itu hanya dipunyai oleh anaknya saja, tanpa memberitahu pada gurunya Ibnu Athoillah mulai menulisnya. Karena kitab cukup tebal yang terdiri dari tiga jilid, maka setelah mendapat satu jilid Ibnu Athoillah segera bersilaturahmi ke kediaman Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra untuk menyerahkan tulisan tersebut. Dan ternyata sang guru menerimanya dengan rasa bahagia dan mendo’akan Ibnu Athoillah. Hal demikian itu terjadi sampai tiga kali. Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra berkata : “Kamu harus mampu menjadi pemuka dalam ilmu tasawuf, aku tidak terima kalau kamu hanya mengusai ilmu fiqih saja”. Ibnu Athoilah mengakui, berkat bimbingan dan do’a Syeikh Ibnu Abas Al Mursiy Ra, ia mengalami perkembangan spiritual yang luar bisa. Ini adalah salah satu contoh barokahnya berkhidmah dan memperhatikan sang guru. Dan itu adalah pendidikan yang berlaku antara santri dan Kyai. Oleh karenanya sebagai santri atau murid hendaknya merasa mantap dan selalu tawadhu’ lahir dan bathin dihadapan sang guru, berhidmah melayani kebutuhan sang guru. Yang semua itu akan menjadi sebab kebahagiannya di dunia dan akherat. Allah Swt Berfirman dalam surat At Taubah ayat 119 yang artinya : “wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama-sama orang-orang yang benar/terpercaya”. Rasululah saw bersabda : “Hendaknya kamu bersama Allah, kalau belum mampu maka bersamalah dengan orang yang telah bisa bersama dengan Allah, karena orang ini nantinya akan bisa menyampaikan kamu kepada Allah, jika kamu betul-betul mau bersamanya”. Dalam kitab Iqozhul Himam, (Syarah Al Hikam ) dikatakan : “Mengabdi kepada para masyayikh adalah suatu ibadah yang agung dan suatu derajat yang agung pula. Demikian pula, Syeikh Sayid Abdul warits berkata : “Mengabdi kepada orang-orang yang mulia disisi Allah, bisa menyebabkan wushul atau dekat dan sampai kepada Allah Swt…” Syeikh Hasan Al Bashri ra berkata : “Siapa saja yang bisa diikuti tentang ketaatannya kepada Allah, maka wajiblah dicintai. Dan barang siapa cinta dengan orang sholeh maka berarti senang dengan Allah. Sulthonul Auliya’ abu Yazid Al Busthami menyatakan : “Cintailah para waliyullah, agar mereka mencintaimu, sesungguhnya Allah melihat hati para wali-Nya, mungkin saja Allah melihat namamu di dalam hati wali-Nya yang bisa menyebabkan dosamu diampuni-Nya. Bahkan dalam kitab Fathul Mu’in menyebutkan salah satu dari obat hati adalah berkumpul dengan orang-orang yang sholeh. Begitu banyaknya dorongan dan ajakan untuk cinta dan berbakti kepada kaum sholihin atau orang-orang yang dekat dengan Allah, karena mencintai dan berhidmah kepada mereka pada hakikatnya adalah, kita mengabdikan diri dan cinta kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw. (Rdk)

MENGAPA KITA BER-THORIQOH

Sebagai orang Islam, kita meyakini bahwa kita harus melalui tahap iman, Islam, dan ihsan. Setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana kita ucapkan dalam syahadat kita -aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah- kita juga beriman kepada para malaikat, kepada para rasul dan nabi, kepada hari kiamat, dan beriman terhadap takdir.

Sebagai orang Islam, kita juga harus mengetahui serta mengerjakan syariah, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji; juga mengikuti apa yang diperintahkan Allah SWT serta menghindari apa yang dilarang­-Nya. Kalau kita shalat, kita harus mengikuti rukun dan syaratnya. Seperti wudhu, pakaian yang bersih, menghadap kiblat, dan melakukan semua rukun dan syarat shalat lainnya.

Kewajiban itu, kalau sudah dikerjakan, urusannya sudah selesai. Kewajiban shalat­nya, misalnya, sudah ditunaikan. Namun tim­bul pertanyaan: Untuk apa shalat itu?

Kita mendapatkan jawabannya dalam ta­rekat. Sebab tarekat itu menyingkap makrifat di balik ibadah syariat. Contohnya pengetahuan di balik ibadah shalat, atau lebih luas lagi pengetahuan di balik syariat Islam.

Seharusnya, orang yang ingin bertarekat, sudah mafhum dalam hal syariat. Kalau sudah mengetahui syariat dengan baik, jalan selanjutnya baru tarekat. Dalam perjalanan waktu dia mempelajari syariat, bisa saja muncul pertanyaan: Mengapa kita harus shalat, puasa, dan lainnya? Dia ingin menge­tahui apa yang ada di balik ibadah yang dia lakukan.

Saat seseorang sudah perlu kepada haki­kat dan makrifat, yaitu pengetahuan di balik syariat Islam, saat itulah dia masuk tarekat. Dan kalau pengetahuan itu dianggap wajib diperolehnya, dia juga wajib memasuki ta­rekat. Jadi, tarekat sebenarnya bukan se­kadar orang membaca wirid, tetapi yang lebih panting adalah mendapatkan penge­tahuan terhadap ibadah-ibadah yang kita lakukan. Wirid dan lainnya sekadar latihan dan ketekunan, supaya lebih dekat ke­pada Allah, Dzat Yang Memberikan Penge­tahuan Makrifat kepada manusia.

Manusia harus menyadari atau menge­tahui secara mendasar bahwa dia adalah makhluk (yang diciptakan) oleh Khaliq (Pen­cipta, Allah). Hubungannya dengan pertanyaan: Mengapa kita melakukan shalat? Karena, selain itu sebagai perintah Allah, dalam shalat itu kita mengetahui (makrifat) bahwa diri kita makhluk. Sudah menjadi ke­wajiban seorang makhluk menyembah, mengabdi, dan tunduk kepada Pencipta­nya.

Inti shalat adalah doa. Jadi, orang yang berdoa kepada Allah, menyadari bahwa dirinya makhluk, yang lemah dan butuh per­tolongan serta lindungan dari Allah, sebagai Dzat Yang Maha Memberi Pertolongan dan Perlindungan.

Hanya saja, manusia memiliki sifat lupa (ghaflah). Maka shalat dan ibadah lainnya, seperti wirid dan dzikir, serta latihan lainnya, bertujuan untuk terus mengingatkan kepada manusia akan hakikat dirinya, sebagal makh­luk, yang diciptakan oleh Khaliq. Dengan be­gitu, semua ibadah yang dilakukan akan dilaksanakan dengan ikhlas, sebab semua lillahi ta’ala, hanya untuk Allah Ta’ala. Bukan karena alasan untuk harta benda, kekuasa­an, atau kepentingan duniawi lainnya.

Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, (Pekalongan)

Ra’is Am Idarah ‘aliyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah

DEFINISI DAN ARTI THORIQOH

Definisi dan Arti Thorîqoh

Oleh: Naufal bin Muhammad Alaydrus

Secara bahasa tharîqah (tarekat) dapat berarti jalan, metode, sistem, cara, perjalanan, aturan hidup, lintasan, garis, pemimpin sebuah suku dan sarana.

Tharîqah dalam arti jalan, dapat kita temukan di dalam beberapa ayat Al-Qurân, di antaranya adalah wahyu Allâh berikut:

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ َلأَسْقَيْنَاهُمْ مَآءً غَدَقًا

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). (Al-Jin, 72:16)

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al-Jin, 72:11)

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ إِذْ يَقُوْلُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيْقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلاَّ يَوْمًا

Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja”. (Thâhâ, 20:104)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِيْنَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).

(Al-Mukminûn, 23:17)

Menurut ‘Abdurrazzâq Al-Kâsyânî, tharîqah adalah jalan khusus yang ditempuh oleh para Sâlik dalam perjalanan mereka menuju Allâh, yaitu dengan melewati jenjang-jenjang tertentu dan meningkat dari satu maqâm ke maqâm yang lain.

Dalam bukunya yang berjudul Al-Kibrîtul Ahmar wal Iksîrul Akbar Habîb ‘Abdullâh bin Abû Bakar Al-‘Aidarûs radhiyallâhu ‘anhu menyebutkan:

Menurut para sufi, syariat adalah ibarat sebuah kapal, tarekat (tharîqah) adalah lautnya dan hakikat (haqîqah) adalah permata yang berada di dalamnya. Barang siapa menginginkan permata, maka dia harus naik kapal kemudian menyelam lautan, hingga memperoleh permata tersebut.

Kewajiban pertama penuntut ilmu adalah mempelajari syariat. Yang dimaksud dengan syariat adalah semua perintah Allâh dan Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam, seperti wudhu, shalat, puasa, zakat, haji, mencari yang halal, meninggalkan yang haram dan berbagai perintah serta larangan lainnya. Seyogyanya seorang hamba menghiasi lahirnya dengan pakaian syariat hingga cahaya syariat tersebut bersinar dalam hatinya dan kegelapan insâniyyah sirna dari hatinya. Akhirnya dia dapat menempuh tarekat dan cahaya tersebut dapat selalu bersemayam dalam hatinya.

Tarekat (tharîqah) adalah pelaksanaan takwa dan segala sesuatu yang dapat mendekatkanmu kepada Allâh, seperti usaha untuk melewati berbagai jenjang dan maqâm. Setiap maqâm memiliki tarekat tersendiri.

Setiap guru sufi memiliki tarekat yang berbeda. Setiap guru akan menetapkan tarekatnya sesuai maqâm dan hâl-nya masing-masing. Di antara mereka ada yang tarekatnya duduk mendidik masyarakat. Ada yang tarekatnya banyak membaca wirid dan mengerjakan shalat sunah, puasa sunah dan berbagai ibadah lainnya. Ada yang tarekatnya melayani masyarakat, seperti memikul kayu bakar atau rumput serta menjualnya ke pasar dan kemudian hasilnya ia dermakan. Setiap guru memilih tarekatnya sendiri.

Adapun hakikat adalah sampainya seseorang ke tujuan dan penyaksian cahaya tajallî, sebagaimana ucapan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam kepada Hâritsah, “Setiap kebenaran ada hakikatnya, lalu apakah hakikat keimananmu?” Hâritsah menjawab, “Aku palingkan diriku dari dunia sehingga batu dan lumpur, emas maupun perak, sama saja bagiku. Di siang hari aku berpuasa, sedangkan di malam hari aku bergadang (shalat malam).”

Keteguhan Hâritsah dalam memegang agama Allâh serta menjalankan perintah-Nya adalah syariat. Kehati-hatian dan semangatnya untuk beribadah (bergadang) di malam hari, haus di siang hari dan berpaling dari segala keinginan nafsu adalah tarekat. Sedangkan tersingkapnya berbagai keadaan akhirat kepada Hâritsah adalah hakikat.

Dalam sebuah kajian di kota Solo, Jawa Tengah, Habîb ‘Umar bin Muhammad bin Sâlim bin Hafidz, telah menjelaskan sejarah terbentuknya tharîqah tersebut. Berikut saduran ceramah ilmiah beliau:

Jika berbicara tentang tharîqah berarti kita sedang membicarakan inti sari dan ruh Islam serta tujuan akhir seorang Muslim di dalam hubungannya dengan Allâh Subhânahu Wa Ta’âlâ.

Sebelum membahas lebih jauh permasalahan ini, pertama-tama kita harus mengetahui bahwa wahyu yang diturunkan Allâh kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam berisi hukum-hukum yang berhubungan dengan jasmani dan hukum-hukum yang berhubungan dengan permasalahan hati; bagaimana kondisi hatinya terhadap Allâh di saat dia beramal.

Hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan anggota tubuh ini selanjutnya dikenal dengan nama fiqih atau fiqhudh dhâhir. Sedangkan hukum-hukum yang berhubungan dengan sifat-sifat hati, selanjutnya disebut fiqhul Bâthin, yang oleh sebagian besar umat Islam dikenal dengan nama tasawuf.

Ayat-ayat yang membahas perbuatan anggota tubuh melahirkan beberapa madzhab dalam ilmu fiqih. Sedangkan ayat-ayat yang membahas berbagai permasalahan hati serta metode penyucian hati, melahirkan sejumlah tharîqah dalam tasawuf.

Sebenarnya dalil atau landasan pendirian madzhab dan tharîqah tersebut sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam.

Pada saat itu, para sahabat menerima seruan dakwah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam dengan hati yang suci dari gejolak nafsu, bersih dari berbagai keinginan duniawi, serta kosong dari tujuan-tujuan yang tidak benar dan berbagai sifat tercela.

Setiap saat mereka berusaha memperkuat pondasi tauhid yang terdapat di dalam hatinya dengan mengerjakan berbagai ibadah, seperti shalat, doa dan berbagai amal saleh lain yang diajarkan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam. Kita pun menyaksikan bagaimana mereka berijtihad di hadapan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam tentang sebuah persoalan dan Rasul membenarkan kedua ijtihad tersebut. Kita juga melihat, ada sahabat yang menjadikan puasa sunah sebagai ibadah pokoknya, ada pula yang menjadikan shalat malam sebagai ibadah pokoknya dan ada pula yang berlama-lama ketika sujud dengan memperbanyak doa yang diajarkan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam diberbagai kesempatan sebagai ibadah pokoknya. Kondisi-kondisi semacam inilah yang menjadi landasan munculnya berbagai madzhab dalam fiqih dan tharîqah dalam tasawuf.

Setelah agama Allâh (Islam) tersebar luas di bumi Allâh, sebagaimana telah dijanjikan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wasallam, maka tersebar pula ilmu-ilmu fiqih yang menjelaskan berbagai hukum dhâhir dan ilmu-ilmu tasawuf yang menjelaskan metode mengolah hati menjadi ihsân, yaitu senantiasa memperhatikan bagaiman hubungan hati dengan Allâh yang Maha Penyayang dan Maha Mulia. Dalam kondisi semacam ini di tengah-tengah masyarakat tumbuh berbagai madzhab dan tharîqah tersebut.

Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan bahwa tharîqah adalah sebuah metode atau sistem khusus yang digunakan oleh seseorang dalam menempuh jalan menuju Allâh.

 

ALIRAN-ALIRAN THORIQOH

ALIRAN-ALIRAN THARIQAH

 

Sejak awal kemunculannya, thariqah terus mengalami perkembangan dan penyebarluasan ke berbagai negeri, sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya aliran-aliran di dalam thariqah. Dalam kitab Dairatul Ma’arif Al-Islamiyah disebutkan ada 163 aliran thariqah, yang salah satu di antaranya mempunyai 17 cabang. Sementara Syaikh Muhammad Taufiq Al-Bakry dalam kitabnya Baitus-Shiddiq, menyebutkan aliran-aliran thariqah di dunia Islam, (yang lama dan yang baru) kurang lebih sekitar 124 aliran thariqah.

Dari sekian banyak aliran tersebut, oleh Jam’iyah Ahli Al Thariqah Al ­Mu’tabaroh An-Nahdliyah dikelompokkan menjadi mu’tabaroh dan ghoi’ru mu’tabaroh. Yang dimaksud Thariqah Mu’tabaroh adalah aliran thariqah yang memiliki sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau menerima dari Malaikat Jibril AS. Dan Malaikat Jibril AS dari Allah SWT. Sehingga dapat diikuti dan dikembangkan, yang jumlahnya – menurut Rais ‘Am, Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya ada-43 aliran thariqah. Sedang Thariqah Ghairu Mu’tabarah adalah aliran thariqah yang tidak memiliki kriteria seperti tersebut diatas, dan jumlahnya adalah sisanya yang ada.

Adapun aliran – aliran thariqah yang dinilai mu’tabaroh itu adalah sebagai berikut;

1. ‘Abbasiyah,                                                  22. Ahmadiyah,

2. Akbariyah,                                                    23. ‘Alawiyah,

3. Baerumiyah,                                                 24. Bakdasyiyah,

4. Bakriyah                                                       25. Bayumiyah,

5. Buhuriyah,                                                   26. Dasuqiyah,

6. Ghoibiyah,                                                    27. Ghozaliyah,

7. Haddadiyah,                                                 28. Hamzawiyah,

8. Idrisiyah,                                                      29. ‘Idrusiyah,

9. ‘Isawiyah,                                                    30. Jalwatiyah,

10. Justiyah,                                                    31. Kal-syaniyah,

11. Khodliriyah,                                                32. Kholwatiyah,

12. Kholidiyah wan-Naqsyabandiyah,              33. Kubrowiyah,

13. Madbuliyah,                                               34. Malamiyah,

14. Maulawiyah,                                               35. Qodiriyah wan-Naqsyabandiyah,

15. Rifa’iyah                                                     36. Rumiyah,

16. Sa’diyah,                                                    37. Samaniyah,

17. Sumbuliyah,                                               38. Sya’baniyah,

18. Syadzaliyah,                                              39. Syathoriyah,

19. Syuhrowiyah,                                             40. Tijaniyah,

20. ‘Umariyah,                                                  41. ‘Usyaqiyah,

21. ‘Utsmaniyah,                                              42. Uwaisiyah dan 43. Zainiyah.

Dalam buku ini tidak akan dijelaskan semua aliran thariqah tersebut, tetapi hanya sebagian kecil saja, yang dipandang lebih awal kemunculannya dan banyak penganutnya di dunia Islam, itu pun hanya sekilas dan secara singkat garis besarnya saja.

 

JALAN MENUJU WUSHUL ILALLAH

a. Melalui Muraqabah.

Petunjuk Al-Qur’an tentang Muraqabah/pendekatan diri kepada Allah SWT. disebutkan dalam Al-Qur’an antara lain :

 

186. dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

(S. Al Baqarah : 186).

 

Ketahuilah wahai saudaraku, Allah SWT selalu mengawasi segala sesuatu, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an S. Al-Ahzab (33) : 52.

 

52. ……………. dan adalah Allah Maha mengawasi segala sesuatu.

 

Hal ini mengandung pelajaran bahwa seseorang selalu merasa diawasi/diintai oleh Allah SWT, karena pada dasarnya Allah adalah sangat dekat dengan hamba-hambanya, sebagaimana petunjuk S. Al-Qof (50) : 16.

 

16. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

 

Demikian juga petunjuk dari Al-Qur’an dalam S. Al-Hadid (57) : 4.

 

4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

 

 

Hadis Nabi SAW. juga memberi arahan yakni ketika Nabi menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang Ihsan, beliau menjawab : Hendaklah engkau beribadah kepada Allah se-olah-olah engkau melihat­nya. Apabila engkau tak mampu meli­hat-Nya, yakinlah bahwasanya Allah meli­hatmu.

(HR. Bukhari-Muslim).

 

Kesadaran rohani bahwa Allah SWT. selalu hadir di dalam dan disekitar dirinya akan menjadikan dirinya selalu merasa diawasi segala apa yang dilakukan, bahkan sampai apa yang terlintas dalam hatinya.

 

Banyak kisah dalam dunia sufi Guru dan santrinya yang empat orang itu, satu diantaranya tidak mau menyembelih ayam yang diberikan oleh sang Guru, karena bagi Allah tidak ada suatu yang tersembunyi, Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka luluslah murid tersebut dari ujian yang diberikan gurunya tersebut.

 

Selanjutnya Al-Imam al-Qusairi.rhm berkata : “Barang siapa yang muraqabah dengan Allah dalam hatinya, maka Allah akan memiliharanya dari perbuatan dosa pada anggota tubuhnya. Imam tokoh Sufi Sufyan Sauri.rhm juga berpesan hendaklah engkau melakukan muraqobah terhadap Dzat yang tidak lagi samar terhadap segala sesuatu, hendaklah engkau selalu mengharap raja’ (pengharapan dengan sangat berharap) terhadap Dzat yang memiliki siksa (Abu Bakar Jabir al-Jazairi 1976 : 85).

 

Maka dari uraian diatas dapat dicermati adanya dampak positif muroqobah bagi yang mampu melakukannya, yakni :

q Memiliki rasa malu yang positif.

q Akan senantiasa hati-hati dalam segala ucapan dan perbuatannya.

q Tidak pernah merasa ditinggalkan oleh Allah meski sendirian ataupun kelihatan doanya yang dipanjatkan belum dikabul­kan

q Tidak mudah putus asa apapun nasib yang menimpanya

q Menjadi hamba yang mukhlis sebagai diisyaratkan dalam Al-Qur’an S. Yusuf (12) : 24.

 

24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia (Nabi Yusuf) tidak melihat tanda (dari) Tuhannya[*]. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

 

[*] Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besanya sehingga andaikata Nabi Yusuf tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu Dia jatuh ke dalam kemaksiatan. Dan ayat inilah menunjukkan keimanan dari Nabi Yusuf yang kuat dalam melaksanakan Ihsan, merasa dilihat dan diawasi oleh Allah SWT.

 

 

b. Melalui Muhasabah

Muhasabah berarti orang selalu memi­kirkan, memperhatikan dan memperhitung­kan apa saja yang telah dan yang akan di perbuat. Pedomannya dalam S. Al-Hasyr (59) : 18.

 

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Dari pengertian ini dapat diambil pelajaran bahwa Muhasabah :

 

1. Membuktikan adanya iman dan takwa kepada Allah dalam dirinya dan Allah mengakui hal itu. Bagi ummat Islam, iman merupakan kekuatan yang maha dahsyat untuk memelihara manusia dari nilai-nilai rendah, dan merupakan alat yang menggerakan manusia untuk meningkatkan nilai luhur dan moral yang bersih. Orang yang beriman akan berusaha mengamalkan akhlak yang mulia/mah­mudah, bukan akhlak yang tercela/mazmumah dalam kehidupannya sehari­-hari sehingga orang tersebut akan terhindar dari kejahatan apapun. Itulah gambaran orang bertakwa, bersih dari dosa, dapat mengalahkan tuntutan hawa nafsu.

 

2. Orang yang bermuhasabah, pasti mem­punyai keyakinan akan datangnya Hari Pembalasan (secara khusus) begitu merasuk dalam hatinya sehingga ia merasa pelu sangat hati-hati dalam setiap langkahnya. Dia tidak berani main-main akan larangan Allah SWT.

 

3. Orang tersebut akan selalu berusaha meningkatkan kualitas amalnya, karena ia merasa tak mau merugi dari hari ke hari. Ibaratnya seperti pedagang, se­belum berangkat akan memperhitungkan berapa modalnya, berapa pula ia harus menjual dagangannya, dan setelah selesai akan menghitung lagi berapa hasil uang yang bisa dibawa pulang. Begitu juga dalam hal beragama, modalnya adalah kumpulan kewajiban yang berhasil dikerjakan, sedang labanya adalah amalan-amalan sunnah yang berhasil dikerjakannya.

 

4. Pesan Sayidina Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a : Perhitungkanlah dirimu sendiri sebelum dirimu diperhitungkan. Oleh karena itu sikap hidup muraqobah dan muhasabah merupakan peningkatan ruhaniyah dan mental manusia sehingga benar-benar menjadi hamba Allah yang bertakwa, hidup dalam ketaatan dan terhindar dari maksiat.

 

c. Melalui Dzikir

Dzikir berarti ingat, mengingat, mere­nung, menyebut. Termasuk dalam pengertian dzikir ialah dia, membaca Al-Qur’an, tasbih (mensucikan Allah) tahmid (memuji Allah), takbir (membesarkan Allah) tahlil (men­tauhidkan Allah), istighfar (memohon ampun kepada Allah) hauqalah (membaca lahula wala quwwata illah billahi ‘aliylil ‘adziem) dan lain sebagainya.

 

Ada dzikir yang menyatu dengan ibadah lainnya seperti dengan salat, thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya. Dan ada pula dzikir yang dilakukan secara khusus/ter­sendiri diucapkan pada saat-saat tertentu, atau pada, setiap saat. Ada dzikir yang jumlahnya tidak ditentukan oleh syara’, tetapi ada dzikir yang jumlahnya ditentukan oleh syara’ menurut ketentuan Thoriqoh yang bersangkutan, Nabi SAW. sendiri baik dengan pernyataan beliau maupun dengan contoh amalan beliau. Sedang dzikir dalam pengertian ingat atau mengingat Allah, seharusnya dilakukan pada setiap saat. Artinya kegiatan apapun yang dilakukan oleh seorang Muslim hendaknya jangan sampai melupakan Allah SWT.

 

Dimanapun seorang Muslim berada, hendaknya selalu ingat kepada Allah, sehingga melahirkan cinta beramal saleh kepada Allah dan malu berbuat dosa dan maksiat kepada Allah SWT. Dzikir dalam arti menyebut asma Allah yang diamalkan secara rutin, biasanya disebut wind atau jamaknya disebut aurad.

 

Dzikir dalam menyebut asma Allah termasuk ibadah makhdhoh yaitu ibadah langsung kepada Allah SWT. Sebagai ibadah langsung, maka terikat dengan norma-norma ibadah langsung kepada Allah SWT, yaitu mesti ma’sur ada contoh atau ada perintah dari Rasulullah SWT. atau ada izin dari beliau. Artinya jenis dzikir ini tidak boleh dikarang oleh seseorang. Dzikir hanyalah mengingat atau menyebut asma Allah, atau nama-nama Allah atau kalamullah, Al-Qur’an.

Petunjuk Al-Qur’an dan Hadis perihal kegiatan dzikir cukup banyak, antara lain dapat disebutkan :

 

Firman Allah : Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu.

(S. Al-Baqarah (2) : 152)

 

41. Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

(S. Al-Ahzab (33) : 41).

 

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

 

 (Q.S. Ali-Imran : 191).

 

 

205. dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.

 

(S. Al-A’rof (7) : 205).

 

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

 (S. Ar-Ra’du (13) : 28).

 

Hadis-hadis Nabi :

Telah berfirman Allah SWT. (dalam suatu hadis Qudsi) : Aku bersama-sama hamba-Ku selama ini mengingat Aku dan bibirnya bergerak menyebut nama-Ku. (HR. Al Baihaqy dan Ibnu Hiban).

 

Tak seorangpun manusia mengerjakan suatu perbuatan yang dapat menjauhkan dari azab Allah SWT. lebih baik dari pada dzikir. Para sahabat bertanya tidak pula jihad fi sabi­lillah, kecuali apabila engkau menghantam musuh dengan pedangmu itu sehingga ia patah, kemudian engkau menghantam lagi dengan pedangmu sehingga ia patah, ke­mudian menghantam lagi dengan pedangmu sehingga ia patah. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Musshanaf).

 

 

Rasulullah SAW. pernah ditanya : Amalan apa yang paling afdol ? Jawab beliau : Engkau mati dalam keadaan lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah (HR. Ibnu Hiban & Athabrani).

 

Nabi SAW. telah bersabda : Allah SWT. berfirman dalam suatu hadis qudsy : Barang siapa disibukkan dzikir kepada-Ku, sedemikian sehingga tidak sempat memohon sesuatu dari-Ku, maka Aku akan mem­berinya yang terbaik dari apa saja yang Ku berikan kepada para pemohon (HR. Bukhori)

 

Seorang tokoh Shufian Abdul Qosim berkata : Ingat kepada Allah adalah bagian yang sangat kuat untuk menempuh jalan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Suci. Bahkan sebagai unit/pokok didalam jalan/thoriqah ini (jalan shufiyah). Dan seorang hanya dapat sampai kepada Allah dengan terus menerus ingat kepada Allah (Abul Muhammad Abdulah Al-Yafi’i : Nasrul Mahasin Al-Ghoyah : 247).

 

Perlu disampaikan secara garis besar bahwa praktek dzikir dalam dunia thoriqoh, pelaksanaannya bisa berbeda-beda dalam tehnisnya tergantung ciri dan kepribadian thoriqoh itu sendiri sesuai petunjuk Mursyid­nya.

 

Ulama Thoriqoh membaca jenis dzikir menjadi tiga jenjang :

a. Dzikir lisan : Laa ilaaha Illalah. Mula­mula pelan kemudian bisa naik menjadi cepat setelah merasa meresap dalam diH.

b. Dzikir qalbu (hati) : Allah, Allah.

Mula-mula mulutnya berdzikir diikuti oleh hati, kemudian dari hati ke mulut, lalu lidah berdzikir sendiri, dengan dzikir tanpa sadar, akal pikiran tidak jalan lagi, melainkan terjadi sebagai Ilham yang menjelma Nur Ilahi dalam hati membe­ritahukan : Innany Anal Laahu, yang naik ke mulut mengucapkan Allah, Allah.

c. Dzikir Sir atau Rahasia : Hu Hu. Biasa­nya sebelum sampai ke tingkat dzikir orang itu sudah fana lebih dahulu. Dalam situasi yang demikian perasaan antara diri dengan Dia menjadi satu. Man lam jazuk Lam ya’rif : Barang siapa belum merasakan, maka is belum mengetahui.

 

Adapun juga ulama ahl-Tharigoh yang membagi jenis dzikir menjadi empat macam : Dzikir Qolbiyah, Dzikir Aqliyah, Dzikir Lisan dan Dzikir Amaliyah.

 

Semua tehnis berdzikir itu baik semua. Pada akhirnya terpulang kepada kemampuan kita masing-masing untuk melaksanakan dzikir itu sesuai dengan pilihan Thoriqoh dan petunjuk Mursyid yang bersangkutan selaku murid hanya bisa taat dengan petunjuk gurunya.

 

Demikian uraian singkat kami dalam menyajikan Thoriqoh sebagai jalan- menuju khusnul khatimah, yang semoga merupakan ikhtiar seorang hamba menjadi idaman bagi setiap muslim diakhir hayatnya. Mudah­-mudahan ada manfaatnya. Dan Allah SWT, selalu membimbing dan memberi hidayah kepada kita semua. A

PENGERTIAN THORIQOH

I. Pengetian Thoriqoh.

 

Arti Thoriqoh menurut bahasa adalah jalan atau bisa disebut Madzhab mengetahui adanya jalan, perlu pula mengetahui “cara” melintasi jalan itu agar tidak kesasar/tersesat. Tujuan Thoriqoh adalah mencari kebenaran, maka cara melinta­sinya jalan itu juga harus dengan cara yang benar. Untuk itu harus sudah ada persiapan batin, yakni sikap yang benar. Sikap hati yang demikian tidak akan tampil dengan sendirinya, maka perlu latihan-latihan batin tertentu dengan cara-cara yang tertentu pula.

 

Sekitar abad ke 2 dan ke 3 Hijriyah lahirlah kelompok-kelompok dengan metoda latihan berintikan ajaran “Dzikrullah”. Sumber ajarannya tidak terlepas dari ajaran Rasulullah SAW. Kelompok-kelompok ini kemudian me­namakan dirinya dengan nama “Thoriqoh”, yang berpredikat/bernama sesuai dengan pem­bawa ajaran itu. Maka terdapatlah beberapa nama antara lain :

a. Thoriqoh Qadiriyah, pembawa ajarannya adalah :Syekh Abdul Qodir Jaelani q.s. (Qaddasallahu sirrahu).

b. Thoriqoh Syadzaliyah, pembawa ajarannya : Syekh Abu Hasan As-Syadzali q.s.

c. Thoriqoh Naqsabandiyah : pembawa ajaran­nya : Syekh Baha’uddin An-Naqsabandi q.s.

d. Thoriqoh Rifa’iyah, pembawa ajarannya : Syekh Ahmad bin Abil Hasan Ar-Rifa’ i q.s.

 

dan masih banyak lagi nama-nama Thoriqoh yang sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah SWT. :

 

Artinya :

“Jika mereka benar-benar istiqomah – (tetap pendirian/terus-menerus diatas Thoriqoh (jalan) itu, sesungguhnya akan Kami beri minum mereka dengan air (hikmah) yang berlimpah-­limpah.

(Q.S. Al-Jin : 16)

 

Dalam pertumbuhannya, para Ulama Thoriqoh berpendapat dari jumlah Thoriqoh yang tersebar di dunia Islam, khususnya di Indonesia, ada Thoriqoh yang Mu’tabaroh (diakui) dan ada pula Thoriqoh Ghairu Mu’tabaroh (tidak diakui keberadaannya/ kesahihannya).

 

Seseorang yang menganut/mengikuti Thoriqoh tertentu dinamai salik (orang yang berjalan) sedang cara yang mereka tempuh menurut cara-cara tertentu dinamakan suluk. Banyak hal-hal yang hams dilakukan oleh seorang salik bila ingin sampai kepada tujuan yang dimaksud.

 

Dalam menempuh jalan (thoriqoh) untuk membuka rahasia dan tersingkapnya dinding (hijab) maka mereka mengadakan kegiatan batin, riyadoh (latihan-latihan) dan mujahadah (perjuangan) keruhaniyan. Perjuangan yang demikian dinamakan suluk, dan orang yang mengerjakan dinamakan “salik“.

 

Maka cukup jelaslah bahwa Thoriqoh itu suatu sistem atau metode untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan adanya Tuhan. Dimana seseorang dapat melihat Tuhannya dengan mata hatinya (ainul basiroh), sesuai dengan hadist sebagai berikut :

 

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah saw. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  {QS Al-Lukman ayat 34} Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka

(HR Bukhari dan Muslim)

 

Hadist tersebut jelas merupakan tujuan bagi semua orang yang mengaku dan menyatakan muslim, tidak hanya sekedar iman dan islam tetapi juga dituntut untuk menjadi jati diri yang ‘ihsan’, dan ath-Thariqoh adalah merupakan jalan yang untuk menggapai derajat ihsan dengan baik sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

 

Hal yang demikian didasarkan pertanyaan Sayidina Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah SAW. Ya Rasulullah, manakah jalan yang paling dekat untuk menuju Tuhan. Jawab Rasulullah : Tidak ada lain, kecuali dengan dzikrullah.

 

Dalam hal ini pun Allah SWT juga menegaskan dalam Firman-Nya di dalam Al-Qur’an Kariim ;

 

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

(QS Ar-Ra’d ayat 28)

 

 

Dengan demikian jelaslah bahwa jalan yang sedekat-dekatnya mencapai Allah SWT ; merasa dilihat dan diperhatikan, hanya bisa diraih oleh seorang hamba dengan dzikir kepadaNya (Zikrullah), disamping melakukan latihan (riyadoh) lahir-batin seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Shufi antara lain : Ikhlas, jujur, zuhud, muraqabah, musyahadah, tajarrud, mahabah, cinta kepada Allah SWT. dan lain sebagainya, yang merupakan bentuk dari dzikrullah itu sendiri; para ulama thariqah/tasawuf mendefinisikannya  dalam bentuk dzikrullah Amaliyah.

 

Melihat petunjuk Allah dan Rasulullah SAW tersebut, maka Thoriqah mempunyai dua pengertian :

Pertama : Ia berarti metode bimbingan spiritual kepada individu (per­orangan) dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedeka­tan dengan Tuhan.

Kedua : Thoriqoh sebagai persaudaraan kaum Shufi yang ditandai adanya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

 

Kedudukan Guru Thoriqoh diperkokoh dengan adanya ajaran wasilah dan silsilah(sanad). Keyakinan berwasilah dengan Guru diper-erat dengan kepercayaan karomah, barokah dan syafa’at atau limpahan pertolongan dari Allah SWT melalui KaruniaNya kepada guru. Kepatuhan murid kepada Guru dalam Thoriqoh digambarkan seperti mayat di tangan orang yang memandikannya.

 

Dengan demikian dapat diambil benang merah bahwa inti Thoriqoh adalah wushul (bertemu) dengan Allah. Jika hendak bertemu, maka jalan yang dapat dipakai bisa bermacam-macam. Ibarat orang mau berpergian menuju Jakarta, kalau orang itu berangkat dari Surabaya ya harus menuju ke barat. Berbeda jika orang itu berangkat dari Medan ya harus berjalan ke timur menuju Jakarta. Ini artinya bahwa Thoriqoh yang ada, terutama di Indonesia mempunyai tujuan yang sama yaitu wushul, kepada Allah SWT.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.