SANAD DAN SYAIKH

Pentingkah sanad dan syaikh itu?

كل من يطلب العلوم وحيدا # دون شيخ فانه في ضلال

ليس في الكتب و الدفاتر علم # انما العلم في صدور الرجال

Sanad dan syaikh/syekh adalah hal yang terpenting dalam kita mengkaji agama Allah ini. Rasulullah sering mengingatkan kepada kita pentingnya kedua hal tersebut. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Sirin, dikatakan “Undhuru ‘amman ta’khudzu dinakum”. Artinya lihatlah dari siapa kau ambil agamamu. Dan dalam hadis yang lain mengatakan, “Sanad adalah sebagian dari agama.”

 

Bertolak dari kedua hadis tersebut jelaslah bagaimana pentingnya sanad didalam agama ini. Hal ini karena adanya pemahaman khusus dalam mempelajari nas-nas samawi yang telah dititipkan oleh Allah ke dalam hati baginda Muhammad. Dan kemudian turun temurun ke dada para rijal Allah.

Syekh Faidli.rhm (seorang ulama dari Irak) ketika menafsirkan ayat Dan telah mengutus (Allah) seorang rosul diantara mereka, kemudian membacakan (rosul) kepada mereka ayat-ayat NYA serta mengajarkan kitab suci dan hikmah (hadis) dan menyucikan (tazkiyah) mereka.. Beliau mengatakan bahwa makna tazkiyah disini bukan melalui quran atau hadis seperti apa yang dipahami sebagian orang. Tetapi maknanya adalah suatu hal (keadaan) maknawi yang bersumber dari hati baginda Muhammad kemudian dititipkan ke dalam hati para auliya’ dan ulama-Nya.

 

Tafsir ini ber-istidlal dari sebuah hadis yang sering kita dengar yaitu hadits tentang seorang pemuda yang sangat menyukai perzinaan. Kemudian Rasulullah mengajak pemuda tersebut untuk berfikir secara rasional. Yaitu dengan mengatakan, “Bagaimana jika perzinaan tersebut dilakukan kepada ibumu, saudara perempuanmu, dan seterusnya.”

 

Tapi masih saja si pemuda merasa tidak puas dengan jawaban tersebut. Kemudian Rasulullah meletakkan telapak tangannya di dadanya. Berkatalah si pemuda, “Demi Allah sebelum ini tiada suatu hal yang lebih aku cintai di dunia ini seperti zina, tetapi setelah Rasulullah meletakkan tangannya ke dadaku, maka tiada hal yang paling kubenci di dunia ini seperti perbuatan zina.”

 

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa hal maknawi itulah yang harus dimiliki oleh seorang syekh atau ulama. Tentunya itu akan didapati melalui para ulama dan syekh yang mempunyai silsilah atau hubungan sanad yang menyambung kepada Rosulullah.

 

Begitu juga hal dhohir tentang pemahaman nusus yang bersumber dari Rosulullah SAW. Seperti suatu hadis yang yang mengatakan, “Barang siapa memakan daging onta harap berwudlu’!” Jika kita lihat secara dhohir, jelas bahwa makan daging onta adalah hal yang membatalkan wudlu’. Itu apabila kita memahaminya secara dhohir begitu saja. Padahal kalau kita tanyakan kepada para ulama’ yang mempunyai sanad talaqqi (dari syekh ke syekh), karena belajar dengan ilmu yang benar tentang periwayatan hadist, ilmu musthala’ah hadist. niscaya mereka akan mengatakan bahwa memakan daging onta tidak membatalkan wudlu’.

 

Mengenai hadis di atas, haruslah kita pahami terlebih dahulu asbabul wurud-nya (sebabnya keluar hadist). Yaitu ketika seorang sahabat akan sholat bersama Rasulullah, lalu ia lupa kalau wudlu’nya telah batal karena keluar angin. Nabi mengingatkanya dengan cara yang halus (sindiran) supaya ia tidak malu di hadapan orang lain. Yaitu dengan menyebut hadis tersebut karena kebetulan ia telah makan daging onta.

 

Imam Abdullah bin Alwi Al haddad dalam qosidahnya berkata :

و لا بد من شيخ تسير بسيره # الى الله من أهل النفوس الزكية

“Dan wajib atasmu untuk mengikuti seorang syekh dalam berjalan menuju ridho Allah dari golongan yang suci hatinya.”

 

Maka tak akan mungkin kita bisa mempelajari agama Allah ini dengan baik dan benar, kalau hanya bertumpu kepada kitab atau sembarangan dengan menghadiri pengajian, tanpa adanya guru atau syekh yang membimbing kita sesuai sanad silsilah ijazah keilmuan yang dimiliki. Sebagaimana dikatakan oleh seorang ulama, “Barang siapa yang guru/syeikhnya kitab, niscaya kesalahannya akan lebih banyak dari pada kebenarannya.”

 

Dan kita tak perlu kuatir atas keberadaan mereka di bumi ini karena Rosulullah SAW dalam sebuah hadisnya menegaskan “Akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang selalu memegang kebenaran.“ Tiada lain yaitu mereka para ulama dan auliya’ yang mempunyai hubungan erat kepada Allah dan Rosul-Nya.

 

Hal ini paling menonjol ada pada keturunan Ahl Bayt Nabi, Bani ‘Alawi, yaitu suatu sanad yang disebut dengan silsilah dzahabiyah (rantai emas). Artinya sanad yang bersambung dari seorang quthub ke quthub sampai kepada Rosulullah, atau dari wali ke wali sampai ke sayyidul awliya’ SAW.  Yang diperkuat juga dengan hubungan nasabnya, silsilah hubungan darah yang memang keturunan Baginda Nabi SAW.

 

Sanad ini tak akan pernah terputus sampai datangnya Imam Mahdi nanti. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Haddad, “Akan selalu tumbuh dipara anak cucu Rasulullah dari bani ‘alawi para pemegang tongkat estafet ajaran dan misi datuknya yaitu Rosulullah SAW.” Beliau dalam qoshidahnya mengatakan :

نيت النبوة و الفتوة و الهدى # و العلم في الماضى و في المتوقع

Semoga kita digolongkan oleh Allah dari golongan tersebut dan tak dipisahkan baik di dunia ataupun di akherat nanti.

Sebagaimana dikatakan oleh Al habib Ali Alhabsyi “wa laa nakhluf ma’a man kholaf” ….Amin

 

 

Waminallahi at taufik hidayah wal inayah, wa bihurmati Habib wa bihurmati Al-Fatihah !!

 

TASAWUF DAN MURSYID

Mengapa Perlu BerTasawuf dan Memiliki Mursyid/Guru
Ruhani sejati.

Assalamu ‘alaikum wr wb
Bismillah hirRohman nirRohim

Tasawuf pada masa Rasulullah saw, adalah realita tanpa
nama, tasawuf saat ini, adalah nama tanpa realita,
kecuali hanya sedikit yang menjalankan realitanya
dalam bimbingan Mursyid Hakiki. Tasawuf bukan membaca
buku2 Tasawuf dan mengkaji dari berbagai teori tasawuf
seperti Ibnu Arabi, Syadzili, Qodiri, Mevlevi Rumi
seperti banyak kajian tasawuf diberbagai Masjid saat
ini. Itu hanya baru mempelajari mengenal tasawuf bukan
bertasawuf. Sangat berbeda jauh antara bertasawuf dan
mempelajari buku atau hadir dalam ceramah tasawuf
jauh, dampak dan pemahamannya bagai setetes air
dibanding samudera. Bertasawuf adalah melaksanakan
dzikir dan mengambil Mursyid dengan berbayat. Bila ia
mendengarkan ceramah dari Mursyid tasawuf yang Wali
Allah, maka ia akan mendapatkan ilmu sekaligus Hikmah.

Ilmu seperti pesawat terbang yang indah bentuknya.
Hikmah seperti Bahan Bakarnya. Begitu banyak orang
yang bangga dengan keindahan ilmunya, tetapi tanpa
bahan bakar hikmah ia tetap didarat tak dapat terbang.
Hikmah didapatkan dari mendengarkan langsung dan
bersama Wali Allah, sementara ilmu dari ulama biasa
kadnag membebani. Himah tak dapat terlupa dan
mengatkan, sementara ilmu ketika kita sudah tua, maka
yang menghancurkan ilmu adalah LUPA ( Hadist Nabi
saw). Hikmah adalah langsung mendengar dan bertemu,
karena ada dua macam ilmu. Ilmu Awroq ( tulisan) dan
Ilmu Azwaq (Rasa). Ketika kita mendengar seorang
Kekasih Allah/Wali Allah bicara, maka ilmu rasa yang
ditransfer langsung kedalam kalbu kita. Ketika kita
menulis dari ceramah Wali Allah, maka yang semula kita
terima dalam bentuk Hikmah, berubah menjadi Ilmu.
HImah adalah RASA, peretmuan langsung dengan Para Wali
Allah. Berjamaah dengan wali Allah, bagaikan iabadah
70 tahun, maka carilah para Wali Allah.

Itulah sebabnya Umar ra ketika berencana membunuh Nabi
saw dan ketika berhadapan langsung dengan Nabi saw,
maka ia masuk islam. Inilah ilmu Rasa yang ditransfer
melalui tatapan mata, melalui pertemuan langsung, ilmu
para Nabi dan Kekasih Allah, yang merubah benci
menjadi cinta. Ada dua macam ilmu, Ilmu yang darei
ucapan ulama biasa dan Ilmu yang sejati ditransfer
dengan langsung bicara dan kemudian ditransfer dari
hati ke hati. Ilmu Ulama yang bukan Wali Allah, ketika
kalian mendengarnya kadang ego menolak, karena berasal
dari luar. Tetapi Ilmu Wali Allah bekerja dengan dua
cara , dari luar dan dari dalam, dari luar berupa
ucapan, dari dalam berupa ilham ilahiah yg dimasukkan
kehati setiap muridnya. Dan ketika muridnya
melakukannya ia mersakan hal itu dari inspirasinya
sendiri sehingga ia ihklas melakukannya tanpa beban
sedikitpun. Itulah cara kerja Wali Allah dalam
membersihkan dan membenahi para muridnya.

Seorang siswa kedokteran ahli bedah, tidak bisa
menjadi ahli bedah hanya dengan membaca buku2 tentang
ilmu bedah. Seperti orang yang menulis tentang mabuk
tetapi ia sendiri belum pernah merasakan mabuk.
Seorang ahli bedah haruslah telah menjalani praktek
bedah, latihan dengan langsung membedah dibawah
bimbingan dokter ahli bedah yang ahli yg telah
berkali2 membedah manusia.

Demikian pula tasawuf, ada banyak profesor, DR
mendalami tasawuf dan mengajar tasawuf, tetapi ketika
ditanya siapa Mursyidnya, mereka mengatakan tidak
memiliki mursid. Artinya bagaimana seorang penulis
tentang jantung bicara tentang membedah jantung
padahal dia bukan dokter ahli jantung, padahal dia
belum pernah melakukan pembedahan? Bagaimana seorang
yang belum pernah memiliki mursyid bicara tentang
tasawuf padahal dia belum bertasawuf? Tasawuf adalah
pengalaman rasa, bukan ilmu tulisan. Tasawuf adalah
Ilmu Azwaq ( Ilmu Rasa) bukan ilmu Awroq, Ilmu
tulisan. Tasawuf adalah mengambil bay’at dari Mursyid
hakiki dan melaksanakan dzikir yang telah ditetapkan
sesuai tariqahnya, dan menjalankan amalan hanya dengan
perintah Syaikh/Mursyid yang Hakiki.

Ada begitu banyak sufi palsu, ada begitu banyak Guru
sufi palsu yang hanya menjelekkan citra sufi. Secara
syariah mereka tidak mengerjakan, secara sunah mereka
menjauhi sunah. Tak ada tariqah tanpa syariah, karena
seumpama syariah adalah lilin penerang untuk menjalani
jalan tariqah agar tak tersesat dan menuju hakikat.
Imam Malik, Imam Mazhab Maliki mengatakan Syariat
tanpa tasawuf adalah zindik, dan tasawuf tanpa syariat
adalah sesat. Jadi muslim sejati harus memiliki
keduanya, untuk mencapai maqam mukmin (memiliki iman
yg sejati) dan mencapai maqam muhsin ( ihsan, dimana
ketika solat seolah berhadapan dgn Allah, Allah selalu
melihat kita)

Setiap orang perlu pembimbing ruhani sejati, hanya
124.000 wali disetiap masa yang merupakan pembimbing
sejati. Berdoalah,”Ya Allah kirimkanlah para KekasihMU
untuk membimbing hamba yang lemah ini”. Siapa berdoa,
maka ia akan medapat jawabannya. Siapa yg mencari
Mursyid sejati, maka ia akan menemukannya. Tetapi saat
ini setiap orang bangga dengan dirinya, mereka
mengatakan gurunya cukup dengan buku. Padahal ketika
mereka secara fisik sakit dan harus menjalani operasi,
mereka bagaikan orang lemah yg setuju harus
menandatangani berita acara operasi. Bahkan tanpa
mereka perlu membacanya, karena mereka telah pasrah
dengan penyakitnya.

Tetapi ketika qalbu mereka sakit, ketika hati mereka
berkarat, ketika mereka tak mampu mengalahkan egonya,
mereka tetap tak mau mencari obat dari Sang Pembimbing
Ruhani Sejati para Wali Allah. Mereka para Awliya (
Wali-Wali Allah) tak butuh uang anda, tak butuh
pujian, mereka orang yg ikhlas bekerja sepanjang hari
tak kenal lelah tanpa bayaran, cukup Allah dan
Rasulullah saw bagi mereka. Ketika kalian akan
menyebrang padang pasir yang tak dikenal, kalian
perlukan penunjuk jalan, agar tak tersesat, agar tahu
bahaya yg menanti disetiap langkah, mungkin badai
pasir, binatang buas, ular, pasir yang menelan dsb.
Tentu saja penunjuk jalan itu telah melalui padang
pasir itu berkali2 sehingga mengetahui karakter padang
pasir itu.

Demikian juga apakah kalian pikir meniti jalan ruhani
jauh lebih mudah daripada menyebrang padang pasir tak
dikenal?. Mereka yang dikuasai ego , memerlukan
bimbingan guru ruhani sejati yg telah mengalahkan
egonya, dan mengetahui cara memotong tangan2 gurita
ego dari korbannya. Setiap orang perlu mencari Wali
Allah sebagai pembimbing, bukan hanya ulama biasa yang
terkadang masih memiliki ego yang tinggi.

Ilmu Ulama biasa dibanding Wali Allah, ilmunya bagai
setetes air dari samudera ilmu wali Allah. Ilmu Wali
Allah dibanding ilmu sahabat Nabi saw, bagai setetes
dari samudera ilmu sahabat. Dan ilmu sahabat Nabi
dibanding Nabi saw, bagai setetes dari samudera ilmu
Nabi saw. Carilah Wali Sejati yang akan membimbing
kalian, begitu banyak jalan tariqah sufi ini telah
ditunjukkan tetapi ego selalu menolak. Ketika kita
akan melangkah kepada yang Haqq, maka seratus setan
dalam bentuk manusia, jin mencegah kalian untuk
mendekati yang Haqq. Berjuanglah untuk mencari yang
Haqq. Ada dua kubu dalam islam, Islam yang Penuh Cinta
dan Islam yang penuh kebencian. Hanya jalan CINTA yang
nanti akan Allah ridhoi. Hanya jalan cinta yang
merupakan jalan Nabi saw. Mengapa kalian tak megikuti
Nabi saw ketika dihujani batu di Thaif tetapi tetap
mendoakan umatnya agar selamat, tanpa dendam, itulah
jalan cinta.

Mengapa kita perlu Mursyid? Imam Ghazali dalam buku
Ihya Ulumudin mengatakan tanpa Mursyid maka mursyid
kalian adalah setan. Ya setan bermain dengan ego
kalian, karena kalian selalu akan terhambat mencapai
kemajuan spiritual bila tak memiliki bimbingan. Bahkan
untuk belajar matematika saja kalian perlu guru. Tentu
berbeda matematika SD dan Perguruan tinggi. Tentu
berbeda islamnya kalian ketiaka kecil dan untuk
mencapaiiman dan ihsan. Untuk mencapainya kalian perlu
mensucikan jiwa kalian, membersihkan dari ego,
membersihkan karat hati dari maksiat. Jalan pintas
tercepat adalah memiliki guru para Wali Allah yang
penuh cinta, dialah pembimbing sejati.

Mengapa kalian perlu guru dan bay’at? Karena di
Mahsyar nanti meskipun mereka ahli tahajud, ahli
quran, ahli puasa, mereka akan ditanya, Siapa Imam mu?
Apa yang kalian jawab, tak punya Imam, maka kalian
akan dibiarkan di mahsyar selama 50.000 tahun dimana
sehari sama dengan seribu tahun. Sampai kalian
mendapat syafaat Nabi saw atau ampunan Allah baru
kalian diperkenankan masuk surgaNYA. Itulah sebabnya
di Al-Quran dikatakan masukilah rumah melalui
pintu2nya. Artinya mengenal agama ini melalui
pintu2nya. Nabi saw mengenal islam melalui Malaikat
Jibril as, Abu Bakar ra mengenal agama melalui Nabi
saw, terus hingga tabiin, tabiit, Imam Mazhab dan
sampai kepada Wali Akhir Zaman ini. Merekalah yang
perlu kalian ikuti. Insya Allah siapapun yang mencari
dan berdoa, untuk memdapatkan Pembimbing Sejati Para
Kekasih Allah, maka mereka akan mendapatkannya. Amin
Ya Rabbal alamin. Karena Allah selalu menjaga Walinya
124.000 Wali disetiap jaman., Mereka adalah manusia
yang selalu dijaga Allah.

Wa min Allah at tawfiq

MURID THARIQAH

A. Pengertian Murid

Istilah murid di dalam thariqah adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir dari seorang guru mursyid untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu dari aliran thariqahnya. Atau dengan kata lain orang yang telah berbai’at kepada seorang guru mursyid untuk mengamalkan wirid thariqah. Dalam Thariqah Tijaniyah sebutan untuk para murid adalah ”ikhwan”.

Di dalam dunia thariqah hubungan seorang murid dengan guru mursyidnya merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, karena hubungan tersebut tidak hanya sebatas kehidupan dunia ini, tetapi akan terus berlanjut sampai di akherat kelak. Bahkan di kalangan ahli thariqah ada keyakinan bahwa seorang mursyid mempunyai peranan yang sangat penting di dalam menyelamatkan muridnya besok di kehidupan akherat. Oleh karena itu, seseorang yang berkehendak menjadi murid thariqah, hendaknya tidak sembarangan memilih guru mursyid. Bahkan sangat dianjurkan bagi seseorang yang akan berbai’at kepada seorang mursyid thariqah, urrtuk terlebih dahulu beristikharah tentang pilihannya tersebut. Karena seorang murid itu harus bisa mahabbah (cinta) yang sungguh­-sungguh dengan guru mursyidnya.

 

B. Kriteria dan Adab Murid

Untuk menjaga hubungan yang begitu penting antara seorang murid dengan guru mursyidnya, maka seorang murid harus memiliki kriteria-­kriteria serta adab dan tatakrama seperti yang disebutkan oleh Syaikh Ahmad Al-Kamisykhonawy.ra dalam Kitab Jami’ul Ushul fil  Auliya’, yaitu sebagai berikut ;

1.      Setelah yakin dan mantap dengan seorang syaikh (mursyid), dia segera mendatanginya seraya berkata: “Aku datang ke hadapan Tuan agar dapat ma’rifat (mengenal) dengan Allah ta’ala.” Setelah diterima oleh sang mursyid, hendaknya dia berkhidmah dengan penuh kecondongan dan kecintaan agar dapat memperoleh penerimaan di hatinya dengan sempurna.

2.      Tidak membebani orang lain untuk menyampaikan salam kepada mursyidnya, karena hal seperti itu tidak sopan.

3.      Tidak berwudlu di tempat yang bisa dilihat oleh mursyidnya, tidak meludah dan membuang ingus di majelisnya dan tidak melakukan shalat sunnat di hadapannya.

4.      Bersegera melakukan apa yang diperintahkan oleh mursyidnya dengan tanpa keengganan, tanpa menyepelekan dan tidak berhenti sebelum urusannya selesai.

5.     Tidak menebak-nebak di dalam hatinya terhadap perbuatan-perbuatan mursyidnya. Selama mampu dia boleh menta’wilkannya, namun jika tidak, dia harus mengakui ketidak-  fahamannya.

6.      Mau mengungkapkan kepada mursyidnya apa-apa yang timbul di hatinya berupa kebaikan maupun keburukan, sehingga dia dapat mengobatinya. Karena mursyid itu ibarat dokter, apabila dia melihat ahwal (keadaan) muridnya dia akan segera memperbaikinya dan menghilangkan penyakit-penyakitnya.

7.      Ash-shidqu (bersungguh-sungguh) didalam pencarian ma’rifatnya, sehingga segala ujian serta cobaan tidak mempengaruhinya dan segala celaan serta gangguan tidak akan menghentikannya. Dan hendaknya kecintaan yang jujur kepada mursyidnya melebihi cintanya kepada diri, harta dan anaknya, seraya berkeyakinan bahwa maksudnya dengan Allah (wushul) tidak akan kesampaian tanpa wasilah (perantaraan) mursyidnya.

8.      Tidak mengikuti segala apa yang biasa diperbuat oleh mursyidnya, kecuali diperintahkan olehnya. Berbeda dengan perkataannya, yang mesti diikuti semuanya. Karena seorang mursyid itu terkadang melakukan sesuatu sesuai dengan tuntutan tempat dan keadaannya, yang bisa jadi hal itu bagi si murid adalah racun yang mematikan.

9.      Mengamalkan semua apa yang telah ditalqinkan oleh mursyidnya, berupa dzikir, tawajjuh atau muroqobah. Dan meninggalkan semua wirid dari yang lainnya sekalipun ma’tsur. Karena firasat seorang mursyid menetapkan tertentunya hal itu, merupakan nur dari Allah.

10.  Merasa bahwa dirinya lebih hina dari semua makhluk, dan tidak melihat bahwa dirinya memiliki hak atas orang lain serta berusaha keluar dari tanggungan hak-hak pihak lain dengan menunaikan kewajibannya. Dan memutus segala ketergantungannya dari selain Al- Maqshud (Allah).

11. Tidak mengkhianati mursyidnya dalam urusan apapun. Menghormati clan mengagungkannya sedemikian rupa serta memakmurkan hatinya dengan dzikir yang telah ditalqinkan padanya.

12.  Menjadikan segala keinginannya baik di dunia maupun akherat tidak lain hanyalah Dzat Yang Maha Tunggal, Allah SWT. Sebab jika tidak demikian berarti dia hanya mengejar kesempurnaan diri pribadinya.

13. Tidak membantah pembicaraan mursyidnya, sekalipun menurutnya benar. Bahkan hendaknya berkeyakinan bahwa salahnya mursyid itu lebih kuat (benar) daripada apa yang benar menurut dirinya. Dan tidak memberi isyarat (keterangan) jika tidak ditanya.

14.  Tunduk dan pasrah terhadap perintah mursyidnya dan orang-orang yang mendahuluinya berkhidmah, yakni para khalifah (orang-orang kepercayaan mursyid) dari para muridnya, sekalipun secara lahiriah amal ibadah mereka lebih sedikit dibandingkan amal ibadahnya.

15. Tidak mengadukan hajatnya selain kepada mursyidnya. Jika dalam keadaan darurat sementara sang mursyid tidak ada, maka hendaklah menyampaikannya kepada orang saleh yang dapat dipercaya, dermawan serta taqwa.

16.  Tidak suka marah kepada siapapun, karena marah itu dapat menghilangkan nur (cahaya) dzikir. Dan meninggalkan perdebatan serta perbantahan dengan para penuntut ilmu, karena perdebatan itu menyebabkan ghoflah (kealpaan). Jika muncul pada dirinya rasa marah kepada seseorang, hendaknya segera minta maaf kepadanya. Dan hendaknya tidak memandang remeh kepada siapapun juga.

 

Sedangkan adab seorang murid secara khusus kepada mursyidnya antara lain sebagai berikut;

1.      Keyakinan seorang murid hendaknya hanya kepada mursyidnya saja. Artinya dia yakin bahwa segala apa yang diinginkan dan dimaksudkan tidak akan berhasil kecuali dengan wasilah mursyidnya.

2.      Tunduk, pasrah dan ridla dengan segala tindakan mursyidnya. Dan berkhidmah kepadanya dengan harta dan badannya, karena jauharul mahabbah (mutiara kecintaan) tidak akan nampak kecuali dengan cara ini, clan kejujuran serta keikhlasan tidak akan diketahui kecuali dengan ukuran/timbangan ini.

3.     Mengalahkan ikhtiar dirinya terhadap ikhtiar mursyidnya dalam segala urusan, yang bersifat kulliyah (menyeluruh) atau juz-iyah (bagian-­bagian), yang berupa ibadah ataupun kebiasaan.

4.     Meninggalkan jauh-jauh apa-apa yang tidak disenangi mursyidnya dan membenci apa yang dibenci sang mursyidnya.

5.     Tidak mencoba-coba mengungkapkan makna peristiwa-peristiwa dan mimpi-mimpi, tapi menyerahkannya kepada mursyidnya. Dan setelah mengungkapkan hal tersebut kepadanya, dia tunggu jawabannya tanpa tergesa-gesa menuntutnya. Dan kalau ditanya, segera menjawabnya.

6.     Memelankan suara ketika berada di majelis sang mursyid, karena mengeraskan suara di majelis orang-orang besar itu termasuk su’ul adab (perilaku yang buruk). Dan tidak berpanjang lebar ketika berbicara, memberikan jawaban atau bertanya padanya. Karena hal tersebut akan dapat menghilangkan rasa segannya terhadap mursyidnya, yang menjadikannya bisa terhijab (terhalang) dari kebenaran.

7.     Mengetahui waktu-waktu untuk berbicara dengan mursyidnya, sehingga tidak berbicara dengannya kecuali pada waktu-waktu luangnya dan dengan sopan, tunduk dan khusyu’ tanpa melebihi batas kebutuhannya, sambil memperhatikan dengan sungguh-sungguh jawaban jawaban yang diberikannya.

8.     Menyembunyikan semua yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya melalui mursyidnya, yang berupa keadaan-keadaan dan peristiwa­-peristiwa tertentu ataupun karomah-karomah dan anugerah lainnya.

9.     Tidak menukil keterangan-keterangan mursyidnya untuk disampaikan kepada orang lain, kecuali sebatas apa yang dapat mereka fahami clan mereka fikirkan.

 

C. Adab kepada Diri Sendiri

Di samping adab seorang murid kepada guru mursyidnya, ada hal lain yang juga harus diperhatikan oleh seorang murid, yakni adab terhadap dirinya sendiri yang antara lain sebagai berikut;

1.     Selalu merasa bahwa dirinya dilihat oleh Allah dalam segala keadaan, sehingga dirinya dapat tersibukkan oleh lafadh Allah… Allah…, sekalipun sedang melakukan pekerjaan (duniawi).

2.     Mencari teman bergaul yang baik dan tidak bergaul dengan orang yang buruk perilakunya.

3.     Tidak berlebihan didalam hal makan dan berpakaian.

4.     Tidak tamak mengharapkan sesuatu yang ada pada orang lain.

5.     Tidak tidur dalam keadaan junub (berhadats besar).

6.      Hendaknya suka melanggengkan wudhlu’ (senantiasa dalam keadaan suci).

7.      Menyedikitkan tidur, terlebih dalam waktu sahur (1/3 malam terakhir).

8.     Tidak suka mujadalah (berdebat) dalam masalah ilmu, karena hal itu bisa menyebabkan ghoflah (lalai) kepada Allah dan menjadikan buta/ gelap hati.

9.     Suka duduk-duduk bersama saudaranya (sejama’ah thariqah) ketika hatinya sedang gundah dan membicarakan adab berthariqah.

10.  Tidak suka tertawa terbahak-bahak.

11.  Tidak suka membahas perilaku seseorang dan tidak suka bertengkar.

12.  Merasa takut terhadap siksa Allah clan senantiasa memohon ampunan­Nya. Dan jangan pernah merasa bahwa amal dan dzikirnya sudah bagus.

 

ADAB MURID SYADZALIYAH

 

Kriteria dan Adab Murid

Untuk menjaga hubungan yang begitu penting antara seorang murid dengan guru mursyidnya, maka seorang murid yang sudah berbai’at thariqah Syadzaliyah harus memiliki kriteria-­kriteria serta adab dan tatakrama seperti yang disebutkan oleh as-Sayyidi Syekh al-Arifbillah al-Imam al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Yahya Ba’Alawy–Pekalongan, di dalam Kitab al-Awrad ath-Thariqah asy-Syadzaliyah ’Aliyah’, yaitu sebagai berikut :

 

  1. Jangan mempersalahkan Guru. Artinya jika ada murid bai’at kepada Guru kemudian murid itu tidak segera mendapat futuh, jangan sekali-kali menyangka yang bukan-bukan dan menyalahkan kepada Guru, akan tetapi teliti dan salahkanlah dirinya dan nafsunya sendiri. Sebab tidak adanya segera terfutuh itu, kemungkinan mengandung hikmah yang besar yang tidak diketahui. Bisa juga sebab diri sang murid masih sangat kotor karena masih sangat besar ta’aluqnya kepada aghyar (selain Allah).
  2. Murid tidak boleh menyembunyikan sesuatu dan keadaan dirinya kepada Guru, baik dhohir maupun batin, jika ada masalah (dalam hal ilmu, maisah -pekerjaan atau nafakah dan kesusahan pribadi) supaya berkata sejujurnya di hadapan Guru. Karena dengan itu Insya Allah Guru dapat memberi jalan keluar bagi masalahnya.
  3. Murid jangan sampai melakukan perkara yang menyebabkan mamqut atau mendapat murka dari Allah sebab ada ulama yang bersabda,” Innallaha yaghdlobu bi ghodobisy-syaikhi wa yardho li ridhoohu” (sesungguhnya Allah murka dengan murkanya sang Syaikh dan Allah pun akan ridho dengan ridhonya sang Syaikh).
  4. Murid agar meminta izin kepada Syaikh jika ingin melakukan suatu perkara. Terutama dalam hal perkawinan, pekerjaan dan tempat tinggal agar mendapat ridho dan doa restu dari sang Syaikh.
  5. Murid jangan membuat hati Gurunya ruwet atau susah dan berburuk sangka kepada Guru sebab semua tindakan Guru kepada murid itu pasti berdasarkan tujuan berbuat baik demi sang murid.
  6. Murid harus menetapi kepada Guru ketika berada di majelis zikir.Dan murid harus tanggap, athu diri terhadap perintah dan larangan Guru sehingga murid tidak perlu terlalu banyak bertanya atau meminta keterangan kepada Guru.
  7. Murid jangan menduakan Guru dengan seseorang di dalam masalah Mahabbah (kecintaan).
  8. Murid jangan hanya mujarodul i’tiqod artinya hanya mempunyai keyakinan yang baik kepada Guru, namun murid berusaha mempermudah segala perintah dan larangan Guru.
  9. Murid jangan sampai merubah dan berubah i’tiqod baiknya kepada Guru.

10.Murid harus mempunyai rasa dan merasakan, bahwa dia selalu haus membutuhkan ilmu sang Guru, walaupun si murid menjadi lebih alim atau lebih pandai.

11.Murid harus selalu memadukan hati di tawajjuh-kan kepada Allah, artinya selalu mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

12.Murid jangan mudah meninggalkan Guru. Sebab Sayyidi Syaikh Muhammad Wafa’ ra. Telah bersabda ,” Siapapun murid yang meninggalkan Guru, apalagi mendiamkan Guru maka murid tadi tidak bisa menerima bekas pengaruh (asrar), serta tidak bisa segera memperbaiki khotirul qolbi (gerakan hati).

13.Murid agar memperbanyak syukur kepada Allah jika murid tadi bisa sering berkumpul dengan Guru.

14.Murid jangan sampai mempersulit Guru pada waktu tarbiyah (pendidikan atau pelajaran). Artinya sang murid mendengarkan dan mentaati apa-apa yang disyaratkan Guru ketika ditarbiyah.

15.Murid jangan sampai mengatakan ”limaa” (mengapa) tentang suatu perkara kepada Guru. Seperti, mengapa Guru berkata seperti ini? Mengapa Guru bertindak seperti itu? dstnya. Sebab masyaikh thariqah telah mufakat bahwa murid yang mengucapkan lafal ”mengapa” kepada Guru, itu termasuk murid yang tidak beruntung di dalam bab thariqah.

16.Murid tidak boleh mempunyai i’tiqod bahwa ia dapat menandingi Gurunya, walaupun  dia telah berhikmah kepada Guru seribu tahun lamanya dan menafkahkan seluruh hartanya. Barangsiapa yang terlintas dalam hatinya seperti yang disebutkan tadi maka murid tersebut bisa khuruj anit thorieq atau keluar dari thariqah dan terhitung merusakkan janji atau bai’at.

17.Murid jangan datang kepada Guru, kecuali dia datang dengan membawa sifat tashdiq artinya mantap dan percaya kepada Guru. Walau sehari dapat menghadap seribu kali ia harus bisa mempunyai sifat tashdiq. Sebab Sayyidi Syaikh Ali bin Wafa’ telah berkata, ”Tidak adalagi murid yang menghadap Guru dengan hati yang tashdiq kecuali murid tadi menjadi golongan ahli dari Guru dan Guru tadi bisa juga menjadi wasilah terbukanya asrar sang murid disebabkan sifat tashdiq yang dimiliki oleh sang murid.”

18.Murid jika menghadap Guru harus mempunyai niat ihtida’ artinya meminta petunjuk kepada Guru, merasa dirinya sangat membutuhkan petunjuk Guru.

19.Murid jangan sampai mendahului berbicara kepada Guru kecuali darurat dan supaya sabar menunggu pertanyaan Guru dan ijin Guru untuk berbicara.

20.Murid harus menetapi tata krama adab kepada Guru jangan sampai sekalipun memberanikan diri meminta kepada Guru agar dirinya menjadi orang yang keramat atau menjadi wali atau menjadi khalifah dan jangan meminta Guru untuk memperlihatkan karomahnya karena siapapun yang meminta kepada Gurunya untuk memperlihatkan karomahnya berarti murid tidak percaya kepada sang Guru.

21.Murid jangan sampai memberatkan pendapat akalnya sendiri mengalahkan pendapat dan perkataan Guru.

22.Murid harus memiliki i’tiqod bahwa Gurunya merupakan ahli kamal atau sempurna.

23.Murid harus mendengarkan dan melaksanakan isyarat Guru dan harus sabar serta lapang dada jika Guru melarangnya melakukan suatu perkara.

24.Murid tidak boleh meneliti tindakan Guru dan ahwal (keadaan) Guru sebab meneliti ahwal Guru bisa menyebabkan mamqut.

25.Murid harus musholahah kepada Guru. Artinya jika Guru marah kepadanya harus segera shuluh (meminta maaf) walau murid tidak mengerti  kesalahannya.  Sebab murid yang tidak segera minta maaf atau meremehkan islah (damai) dengan Guru itu bisa menjadi khodzlan artinya rendah dan hina malah bisa menjadi sebab merosotnya maqam thariqahnya.

 

Didalam kitab Tarbiyyatul Muriddin wa tabyidis Salikin, menerangkan sebagai adabnya murid kepada guru Mursyidnya, yaitu:

  1. Mengagungkan Gurunya dhohiran wa bathinan. (lahir dan batin)
  2. Mengi’tiqodkan bahwa segala maksud serta upaya murid tidak akan berhasil, jika tidak sebab wasilah gurunya.
  3. Mengikuti, khidmat dan ridho dengan segala perintah Guru melakukan dengan badan dan hartanya.
  4. jangan menentang terhadap perkara yang dilakukan gurunya walaupun pada dhohirnya itu haram, bahkan harus dita’wilkan. Sesuai dengan kisah Nabiyullah Musa.as dengan Khidir.as yang diterangkan di dalam Al-Qur’an al-Karim surat al-Kahfi ;

øŒÎ)ur š^$s% 4Óy›qãB çm9tFxÿÏ9 Iw ßytö/r& #_¨Lym x÷è=ö/r& yìyJôftB Ç`÷ƒtóst7ø9$# ÷rr& zÓÅÓøBr& $Y7à)ãm ÇÏÉÈ   $£Jn=sù $tón=t/ yìyJøgxC $yJÎgÏZ÷t/ $u‹Å¡nS $yJßgs?qãm x‹sƒªB$$sù ¼ã&s#‹Î6y™ ’Îû ̍óst7ø9$# $\/uŽ|  ÇÏÊÈ   $£Jn=sù #y—ur%y` tA$s% çm9tFxÿÏ9 $oYÏ?#uä $tRuä!#y‰xî ô‰s)s9 $uZŠÉ)s9 `ÏB $tR̍xÿy™ #x‹»yd $Y7|ÁtR ÇÏËÈ   tA$s% |M÷ƒuäu‘r& øŒÎ) !$uZ÷ƒurr& ’n<Î) Íot÷‚¢Á9$# ’ÎoTÎ*sù àMŠÅ¡nS |Nqçtø:$# !$tBur çm‹Ï^9|¡øSr& žwÎ) ß`»sÜø‹¤±9$# ÷br& ¼çntä.øŒr& 4 x‹sƒªB$#ur ¼ã&s#‹Î6y™ ’Îû ̍óst7ø9$# $Y7pgx” ÇÏÌÈ   tA$s% y7Ï9ºsŒ $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£‰s?ö‘$$sù #’n?tã $yJÏd͑$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ   #y‰y`uqsù #Y‰ö6tã ô`ÏiB !$tRϊ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu‘ ô`ÏiB $tRωZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ   tA$s% ¼çms9 4Óy›qãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #’n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Y‰ô©â‘ ÇÏÏÈ   tA$s% y7¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÏÐÈ   y#ø‹x.ur çŽÉ9óÁs? 4’n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #ZŽö9äz ÇÏÑÈ   tA$s% þ’ÎT߉ÉftFy™ bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ   tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# Ÿxsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^ω÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.ό ÇÐÉÈ   $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym #sŒÎ) $t6Ï.u‘ ’Îû ÏpuZŠÏÿ¡¡9$# $ygs%tyz ( tA$s% $pktJø%tyzr& s-̍øóçFÏ9 $ygn=÷dr& ô‰s)s9 |M÷¥Å_ $º«ø‹x© #\øBÎ) ÇÐÊÈ   tA$s% óOs9r& ö@è%r& š¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÐËÈ   tA$s% Ÿw ’ÎTõ‹Åz#xsè? $yJÎ/ àMŠÅ¡nS Ÿwur ÓÍ_ø)Ïdöè? ô`ÏB “̍øBr& #ZŽô£ãã ÇÐÌÈ   $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym #sŒÎ) $u‹É)s9 $VJ»n=äñ ¼ã&s#tGs)sù tA$s% |Mù=tGs%r& $T¡øÿtR Op§‹Ï.y— ΎötóÎ/ <§øÿtR ô‰s)©9 |M÷¥Å_ $\«ø‹x© #[õ3œR ÇÐÍÈ   * tA$s% óOs9r& @è%r& y7©9 y7¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÐÎÈ   tA$s% bÎ) y7çGø9r’y™ `tã ¥äóÓx« $ydy‰÷èt/ Ÿxsù ÓÍ_ö6Ås»|Áè? ( ô‰s% |Møón=t/ `ÏB ’ÎoT߉©9 #Y‘õ‹ãã ÇÐÏÈ   $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym !#sŒÎ) !$u‹s?r& Ÿ@÷dr& >ptƒös% !$yJyèôÜtGó™$# $ygn=÷dr& (#öqt/r’sù br& $yJèdqàÿÍh‹ŸÒム#y‰y`uqsù $pkŽÏù #Y‘#y‰É` ߉ƒÌãƒ br& žÙs)Ztƒ ¼çmtB$s%r’sù ( tA$s% öqs9 |Mø¤Ï© |Nõ‹y‚­Gs9 Ïmø‹n=tã #\ô_r& ÇÐÐÈ   tA$s% #x‹»yd ä-#tÏù ÓÍ_øŠt/ y7ÏZ÷t/ur 4 y7ã¤Îm;tRé’y™ È@ƒÍrù’tGÎ/ $tB óOs9 ìÏÜtGó¡n@ ÏmøŠn=¨æ #·Žö9|¹ ÇÐÑÈ   $¨Br& èpoY‹Ïÿ¡¡9$# ôMtR%s3sù tûüÅ3»|¡yJÏ9 tbqè=yJ÷ètƒ ’Îû ̍óst7ø9$# ‘NŠu‘r’sù ÷br& $pkz:‹Ïãr& tb%x.ur Nèduä!#u‘ur Ô7Î=¨B ä‹è{ù’tƒ ¨@ä. >puZŠÏÿy™ $Y7óÁxî ÇÐÒÈ   $¨Br&ur ÞO»n=äóø9$# tb%s3sù çn#uqt/r& Èû÷üuZÏB÷sãB !$uZŠÏ±y‚sù br& $yJßgs)Ïdöãƒ $YZ»u‹øóèÛ #\øÿà2ur ÇÑÉÈ   !$tR÷Šu‘r’sù br& $yJßgs9ωö7ム$yJåk›5u‘ #ZŽöyz çm÷ZÏiB Zo4qx.y— z>tø%r&ur $YH÷q①ÇÑÊÈ   $¨Br&ur â‘#y‰Ågø:$# tb%s3sù Èû÷üyJ»n=äóÏ9 Èû÷üyJŠÏKtƒ ’Îû ÏpuZƒÏ‰yJø9$# šc%x.ur ¼çmtFøtrB ֔\x. $yJßg©9 tb%x.ur $yJèdqç/r& $[sÎ=»|¹ yŠ#u‘r’sù y7•/u‘ br& !$tóè=ö7tƒ $yJèd£‰ä©r& %y`̍÷‚tGó¡tƒur $yJèdu”\x. ZpyJômu‘ `ÏiB y7Îi/¢‘ 4 $tBur ¼çmçGù=yèsù ô`t㠓̍øBr& 4 y7Ï9ºsŒ ã@ƒÍrù’s? $tB óOs9 ìÏÜó¡n@ ÏmøŠn=¨æ #ZŽö9|¹ ÇÑËÈ

60. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya[885]: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

61. Maka tatkala mereka sampai ke Pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.

63. Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”.

64. Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

65. lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami[886].

66. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

67. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

68. dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

70. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

72. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.

73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

75. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

78. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

80. dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

81. dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

 

[885] Menurut ahli tafsir, murid Nabi Musa a.s. itu ialah Yusya ‘bin Nun.

[886] Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.

 

  1. Memilih apa yang menjadi pilihan Guru. Baik berupa ibadah atau adatjuz’iyyah atau kulliyah.
  2. Jangan membuka rahasia Guru walaupun telah tersebar ke orang banyak.
  3. Jangan mengi’tiqodkan terhadap kurangnya maqom Guru.
  4. Menjauhi perkara yang dibenci oleh Guru dan melakukan perjara yang disenangi Guru.

 

Adab Murid Terhadap Dirinya Sendiri, antara lain :

  1. Selalu merasa dilihat oleh Allah Ta’ala di dalam keadaan (tingkah lakunya) murid supaya dapat tersibukkan menjalankanlafal ”ALLAH ALLAH”  walaupun dalam keadaan bekerja.
  2. Mencari teman duduk yang baik, jangan duduk-duduk dengan orang yang buruk kelakuannya.
  3. Jangan berlebihan di dalam sandang pangan.
  4. Jangan tamak mengharapkan sesuatu barang yang berada dalam tangan orang lain.
  5. Jangan tidur dalam keadaan junub.
  6. Supaya me-langgeng-kan (nggantung wudhu) wudhu.
  7. Mengurangi / menyedikitkan tidur terlebih dalam waktu sahur.
  8. Jangan mujadalah ilmu (berdebat masalah ilmu) sebab itu dapat menyebabkan ghoflah (lupa) kepada Allah dan membutakan hati / menyebabkan hati menjadi gelap.
  9. Mau duduk-duduk bersama ikhwan ketika hati sedang sempit dan membicarakan adab thariqah.

10.Jangan tertawa terbahak-bahak.

11.Jangan (mujadalah ilmu / debat kusir).

12.Takut siksa Allah dan memohon ampunan-Nya. Jangan merasa telah bagus amalnya dan dzikirnya.

 

Adab Murid Terhadap Temannya dan Orang Islam Seluruhnya. Antara lain :

  1. Memulai mengucapkan salam dan berbicara yang baik.
  2. Rendah hati kepada temannya. Dan melihat bahwa dirinya lebih rendah dari temannya.
  3. Saling menolong dengan temannya dalam amal kebaikan dan taqwa serta cinta kepada Allah.
  4. Dapat menerima alasan temannya (dapat memberi maaf kepada temannya).
  5. Mau mendamaikan teman-temannya yang sedang bertengkar.
  6. Menjenguk ketika temannya sakit dan ber-ta’ziah ketika temannya meninggal.
  7. Baik persangkaannya kepada temannya.
  8. Menepati janji kepada temannya.

TALQIN

 

Dzikir yang diucapkan / diamalkan itu harus hasil dari menirukan ucapan Guru ketika dibai’at. Karena dengan begitu berarti pengakuan bahwa dalam berdzikir itu dia hanya mengikuti atau berjamaah, bukan rekayasa sendiri atau berdiri sendiri. Adapun faedah talqin dzikir atau bai’at dzikir itu ada dua (2) macam yaitu faidah umum dan faidah khusus.

Di sini yang perlu diterangkan adalah faidah yang umum. Ketahuilah bahwa dengan mentalqinkan dzikir/berbai’at kepada seorang Guru mursyid berarti engkau masuk silsilahnya para muthasowiffin, yang artinya masuk dalam kalangan para wali Allah. Jadi jika engkau bai’at thariqah berarti engkau turut melakukan perkara yang dijalankan para kekasih Allah yang agung-agung.

Perumpamaan orang dzikir yang telah ditalqin/dibai’at oleh guru mursyid itu, seperti sebuah lingkaran rantai yang saling bergandengan hingga kepada induknya; pokoknya yaitu Baginda Nabi Rasulullah SAW. Jadi seumpama induknya diseret atau digoyang maka gandengannya akan turut tertarik. Sebagaimana rantai jika di depan ditarik maka yang belakang pun akan turut tertarik.

Dan silsilah para wali sampai kepada Rasulullah SAW itu bagaikan sebuah lingkaran dari lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan. Berbeda dengan dzikir yang belum bertalqin/berbai’at kepada seorang guru mursyid, ibarat anak rantai yang terpisah. Seumpama yang didepan itu ditarik, maka yang lain tidak akan ikut tertarik. Karena itu kita semua perlu bersyukur kepada Allah SWT bagi yang telah diberi kesempatan berbai’at atau ghirah (semangat) dan kemauan untuk berbai’at kepada seorang guru mursyid. Begitu pula perlu bersyukur kepada Allah SWT bagi kita yang telah diperkenankan olehnya mengenal dan mengetahui tentang thariqah berikut dengan adab tata caranya. Tinggal kewajiban kita untuk beristiqomah menjalaninya serta senantiasa menjaga dan menjalankan syari’at dengan sungguh-sungguh. Dan hendaknya juga dapat istiqomah didalam murabithah (merekatkan hubungan) dengan guru mursyid kita masing-masing.

 

Adab Murid Terhadap Guru Mursyidnya di dalam Kitab al-Adab Fii ad-Diin, Imam Abu Hamid Ghazali rhm. :

  1. Mendahului Gurunya di dalam memberi salam.
  2. Tidak banyak berbicara di hadapannya.
  3. Berdiri untuk menghormatinya manakala Gurunya berdiri.
  4. Tidak mengatakan atau mengungkapkan kepada Guru ”pernyataan si fulan (Guru atau Syaikh yang lain) berlawanan dengan pernyataan Anda”.
  5. Tidak bertanya atau berbicara pada temannya yang berada dalam satu majelis dengan Gurunya.
  6. Tidak tersenyum ketika ia berbicara (serius).
  7. Tidak menampakkan pendapat yang berbeda dengan Gurunya.
  8. Tidak memegangi / menarik bajunya.
  9. Tidak bertanya tentang sesuatu persoalan di jalanan, hingga Guru sampai ke rumah.

10.Tidak banyak bertanya saat Guru sedang jenuh atau lelah.

Di dalam Kitab Risalah Al Wa’dhiyyah, Imam Ghazali menerangkan tata krama murid :

  1. Mendahulukan kesucian hati dari akhlak yang rendah dan sifat tercela, karena ilmu adalah ibadah dan sholatnya dari hati dan pendekatan batin (tawajjuh) kepada Allah.
  2. Memperkecil keterkaitan hati atau ta’aluq kepada kesibukan dunia. Dikatakan.” Ilmu tidak akan memberimu sebagian sampai kamu memberikan kepadanya keseluruhan”.
  3. Tidak menyombongkan ilmunya dan tidak membangkang kepada Gurunya. Tetapi tunduk dan patuh kepada nasihatnya seperti patuhnya pasien yang parah kepada dokter yang ahli.
  4. Penuntut ilmu yang masih pemula, hendaknya menghindari perbedaan pendapat ulama, baik berkaitan dengan ilmu dunia maupun ilmu akhirat.
  5. Seorang murid hendaknya tidak meninggalkan satu ilmu dari ilmu-ilmu yang terpuji dan tidak meninggalkan seluruhnya, kecuali melakukan kajian akan maksud dan tujuannya terlebih dahulu. Jika ada waktu ia dapat mendalaminya jika tidak maka mengambil yang terpenting saja.
  6. Tidak mempelajari suatu ilmu sekaligus, tetapi hendaknya secara berkala atau berjenjang dimulai dengan yang awal dan yang terpenting serta mengambil yang terbaik dari semuanya.
  7. Tidak mendalami suatu jenjang ilmu di atasnya sebelum jenjang ilmu di bawahnya dikuasai karena pada hakikatnya ilmu-ilmu itu disusun secara runut.
  8. Mengetahui faktor-faktor yang dengannya dapat mengetahui ilmu-ilmu yang terbaik.
  9. Niat murid hendaknya untuk memperbaiki lahir-bathin dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

10. Hendaknya mengetahui bahwa hubungan suatu ilmu pengetahuan dengan niat pemiliknya (penyusun).

 

Di dalam Kitab At-Tasawuf fii al-Islam, Al Mursyid Sayyidi Syaikh Abdul Halim Mahmud asy-Syadzali ra. Berwasiat bagi para murid :

Langkah awal yang harus dijalani dan diperhatikan oleh para murid (orang yang berkehendak menuju Allah SWT) thariqah ini melangkah di atas jalan kejujuran hati yang benar agar mampu membangun berdasarkan prinsip yang shahih. Para Syaikh Tasawuf berkata,” Mereka terhalang untuk wushul (sampai kehadirat Allah Ta’ala) karena menyia-nyiakan ushul (prinsip-prinsip akidah).

Sayyidi Syaikh Abu Ali Ad-Daqqaq rhm. Berkata,”Awal kewajiban yang harus diperhatikan oleh murid adalah meluruskan akidah antara dirinya dengan Allah Ta’ala, bersih dari segala dugaan dan syirik, jauh dari kesesatan dan bid’ah, menuangkan berbagai bukti dan hujjah. Seorang murid menjadi cela bila ia mengaitkan diri pada suatu mazhab yang bukan mazhab dari thariqah ini. Hal ini karena hujjah dalam persoalan mereka lebih jelas daripada siapapun. Kaidah mereka lebih kuat dibanding mazhab manapun.”

 

Manusia adakalanya terpukau pada ayat dan hadist, adakalanya cenderung pada penggunaan akal dan pikiran. Sementara itu para Syaikh golongan tasawuf thariqah melampaui semunya. Bagi manusia pada umumnya, sesuatu bisa saja tampak ghaib, namun pada kalangan sufi thariqah hal itu tampak jelas. Bagi khalayak, pengetahuan merupakan tumpuan, namun bagi kalangan sufi thariqah, pengetahuan maujud dari Allah-lah Yang Maha Haqq. Karena mereka adalah kalangan yang selalu bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla (ahlul wishol- ahli wushul). Sementara manusia pada umumnya berpihak pada pencarian bukti (ahlul istidlal).

 

Syarat Bai’at Thariqah :

  1. Aqil Baligh (umur lebih dari 18 tahun)
  2. Wanita yang sudah menikah harus mendapat izin dari suaminya
  3. Sebelum bai’at berpuasa sunah 3 hari : Senin, Selasa, Rabu atau Selasa, Rabu, Kamis.

 

Sebelum bai’at berniat :

  1. Niat wushul kepada Allah dengan mahabbah kepada Rasulullah SAW dengan cara ikut thariqah Syadzaliyah.
  2. Niat meninggalkan dosa besar dan mengurangi dosa kecil.
  3. Niat Takdzim kepada para Guru, Sholihin dan Auliya.

 

Awrad Thariqah :

  1. Diamalkan pada waktu ba’da (setelah) sholat Subuh dan ba’da sholat Maghrib.
  2. Jika kelupaan tidak diamalkan maka wajib diqodho (diganti).
  3. Ketika mau mengamalkannya harus dalam kondisi berwudhu atau suci. Dan posisinya duduk seperti tahiyat awal atau akhir.

 

Adab ketika berdoa kepada Allah selalu memohon :

  1. Minta diatur Allah di dalam agama, dunia dan akhirat.
  2. Minta dicukupkan oleh Allah di dalam agama, dunia dan akhirat.
  3. Minta diselamatkan oleh Allah di dalam agama, dunia dan akhirat.

 

Suluk Thariqah Syadzaliyah :

  1. Belajar atau mengajar, baik ilmu agama maupun ilmu umum.
  2. Diusahakan shalat fardhu berjama’ah.
  3. Membaca Al-Qur’an setiap hari walau hanya satu ayat.

 


DZIKIR

A. Pengertian Dzikir

Yang dimaksud dzikir di dalam thariqah adalah bacaan “Allah” atau bacaan “La ilaaha illallah”. Dzikir dengan bacaan ‘Allah'; yang biasanya dilakukan didalam hati, disebut dengan Dzikir Sirri atau Dzikir Khofi atau Dzikir Ismuz-Dzat, yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Sedang dzikir dengan bacaan ‘Laa ilaaha illallah'; yang biasanya dilakukan secara lisan , disebut Dzikir jahri atau Dzikir Nafi Itsbat, yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah. Kedua jenis dzikir dari kedua sahabat inilah yang menjadi sumber utama pengamalan thariqah, yang terus menerus bersambung sampai sekarang, kepada kita semua.

 

B. Talqin Dzikir

Di dalam thariqah ada yang disebut Talqinudz Dzikr, yakni pendiktean kalimat dzikir La ilaaha illallah dengan lisan (diucapkan) dan atau pendiktean Ismudz-Dzat lafadh Allah secara bathiniyah dari seorang Guru Mursyid kepada muridnya. Dalam pelaksanaan dzikir thariqah, seseorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang muttasil (bersambung) dari guru mursyidnya yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Penisbatan (pengakuan adanya hubungan) seorang murid dengan guru mursyidnya hanya bisa terjadi melalui talqin dan ta’lim(belajar) dari seorang guru yang telah memperoleh izin untuk memberikan ijazah yang sah yang bersandar sampai kepada Guru Mursyid Shohibut Thariqoh, yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Karena dzikir tidak akan memberikan faedah yang sempurna kecuali melalui talqin dan izin dari seorang guru mursyid. Bahkan mayoritas ulama thariqoh menjadikan talqin dzikir ini sebagai salah satu syarat dalam berthariqoh. Karena sirr(rahasia) dalam thariqoh sesungguhnya adalah keterikatan antara satu hati dengan hati yang lainnya sampai kepada Rasulullah SAW, yang bersambung sampai ke hadirat Yang Maha Haqq, Allah Azza wa jalla.

Dan seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir yang juga lazim disebut dengan bai’at dari seorang guru mursyid, berarti dia telah masuk silsilahnya para kekasih Allah yang agung. Jadi jika seseorang berbai’at Thariqoh berarti dia telah berusaha untuk turut menjalankan perkara yang telah dijalankan oleh mereka.

Perumpamaan orang yang berdzikir yang telah ditalqin/dibai’at oleh guru mursyid itu seperti lingkaran rantai yang saling bergandengan hingga induknya, yaitu Rasulullah SAW. Jadi kalau induknya ditarik maka semua lingkaran yang terangkai akan ikut tertarik kemanapun arah tarikannya itu. Dan silsilah para wali sampai kepada Rasulullah SAW itu bagaikan sebuah rangkaian lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan.

Berbeda dengan orang yang berdzikir yang belum bertalqin/berbai’at kepada seorang guru mursyid, ibarat anak rantai yang terlepas dari rangkaiannya. Seumpama induk rantai itu ditarik, maka ia tidak akan ikut tertarik. Maka kita semua perlu bersyukur karena telah diberi ghirah (semangat) dan kemauan untuk berbai’at kepada seorang guru mursyid. Tinggal kewajiban kita untuk beristiqomah menjalaninya serta senantiasa menjaga dan menjalankan syari’at dengan sungguh-sungguh. Dan hendaknya juga dapat istiqomah didalam murabithah (merekatkan hubungan) dengan guru mursyid kita masing-masing.

 

C. Dasar Talqin Dzikir

Di dalam mentalqin dzikir, seorang guru mursyid dapat melakukannya kepada jama’ah (banyak orang) atau kepada perorangan. Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW telah mentalqin para sahabatnya, baik secara berjama’ah maupun perorangan.

Adapun talqin Nabi SAW kepada para sahabatnya secara jama’ah sebagaimana diriwayatkan dari Syidad bin Aus RA: “Ketika kami (para sahabat) berada di hadapan Nabi SAW, beliau bertanya: “Adakah di antara kalian orang asing?” (maksud beliau adalah ahli kitab), aku menjawab: “Tidak.” Maka beliau menyuruh untuk menutup pintu, lalu berkata: “Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah La ilaaha illallah!” Kemudian beliau melanjutkan: “Alhamdulillah, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini (La ilaaha ilallah), Engkau perintahkan aku dengannya dan Engkau janjikan aku surga karenanya. Dan sungguh Engkau tidak akan mengingkari janji.” Lalu beliau berkata: “Ingat! Berbahagialah kalian, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.”

Sedangkan talqin Beliau kepada sahabatnya secara perorangan adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Yusuf Al-Kirwany dengan sanad yang sahih bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah memohon kepada Nabi SAW : “Ya Rasulullah, tunjukkan aku jalan yang paling dekat kepada Allah, yang paling mudah bagi para hambaNya dan yang paling utama di sisiNya!” Maka beliau menjawab: “Sesuatu yang paling utama yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah La illaaha illallaah. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi berada diatas daun timbangan dan La illaaha illallaah diatas daun timbangan satunya, maka akan lebih beratlah ia (La illaaha illallaah),”  lalu lanjut beliau: “Wahai Ali, kiamat belum akan terjadi selama di muka bumi masih ada orang yang mengucapkan kata Al­lah.” Kemudian Sahabat Ali berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku berdzikir menyebut Allah?,” Beliau pun menjawab: “Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, lalu tirukan tiga kali dan aku akan mendengarkannya.” Kemudian Nabi SAW mengucapkan La ilaaha illallah tiga kali dengan memejamkan kedua mata dan mengeraskan suara beliau, lalu Sahabat Ali bergantian mengucapkan La illaaha illallaah seperti itu dan Nabi SAW mendengarkannya. Inilah dasar talqin dzikir jahri (La illaaha illallaah).

Adapun talqin dzikir qolbi yakni dengan hati tanpa menggerakkan lisan dengan itsbat tanpa nafi, dengan lafadh Ismudz-Dzat (Allah) yang diperintahkan Nabi SAW dengan sabdanya: “Qul Allah tsumma dzarhum” (Katakan “Allah” lalu biarkan mereka), adalah dinisbatkan kepada Ash-­Shiddiq Al-Adhom (Abu Bakar Ash-Shiddiq RA) yang mengambilnya secara batin dari Al-Mushthofa SAW. Inilah dzikir yang bergaung mantap di hati Abu Bakar. Nabi SAW bersabda: “Abu Bakar mengungguli kalian bukan dikarenakan banyaknya puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang bergaung mantap di dalam hatinya.” Inilah dasar talqin dzikir sirri.

Semua aliran thariqah bercabang dari dua penisbatan ini, yakni nisbat kepada Sayyidina Ali karramallahu wajhah untuk dzikir jahri dan nisbat kepada Sayyidina Abu Bakar RA untuk dzikir sirri. Maka kedua beliau inilah sumber utama dan melalui keduanya pertolongan Ar-Rahman datang. Nabi SAW mentalqin kalimah thoyyibah ini kepada para sahabat radliallahu ‘anhum untuk membersihkan hati mereka clan mensucikan jiwa mereka, serta menghubungkan mereka ke hadirat Ilahiyah (Allah) dan kebahagiaan yang suci murni. Akan tetapi pembersihan dan pensucian dengan kalimat thoyyibah ini atau Asma-asma Allah lainnya itu, tidak akan berhasil kecuali apabila si pelaku dzikir menerima talqin dari syaikhnya yang alim, amil, kamil, fahim terhadap makna Al-Qur’an dan syari’ah, mahir dalam hadits atau sunnah dan cerdas dalam hal ‘aqidah dan ilmu kalam, dimana syekh tersebut juga telah menerima talqin kalimah thoyyibah tersebut dari syaikhnya yang terus bersambung dari syaikh agung yang satu dari syaikh agung lainnya sampai kepada Rasulullah SAW.

 

 

D. Adab Berdzikir

Untuk melaksanakan dzikir di dalam thariqah ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni Adab Berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al-Mafakhir Al-Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan pada fasal Adabudz-dzikr, sebagaimana dituturkan oleh Asy-Syekh Abdul Wahab Sya’rani.ra bahwa adab berdzikir itu banyak, tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum berdzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir dan 3 (tiga) adab dilakukan setelah selesai berdzikir.

 

Adapun 5 (lima) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah;

1.   Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya baik yang berupa ucapan, perbuatan maupun keinginan.

2.   Mandi dan atau wudlu.

3.   Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam berdzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan La ilaaha illallah.

4.   Menyaksikan dengan hatinya -ketika sedang melaksanakan dzikir ­terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.

5.   Meyakini bahwa dzikir thariqah yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat dari Rasulullah SAW, karena syaikhnya adalah na’ib (pengganti/wakil) dari beliau.

 


Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan di saat melakukan dzikir adalah;

1.   Duduk di tempat yang suci seperti duduknya di dalam shalat.

2.   Meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua pahanya.

3.   Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula pakaian di badannya.

4.   Memakai pakaian yang halal dan suci.

5.   Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.

6.   Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dhohir, karena tertutupnya indra dhohir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati/bathin.

7.   Membayangkan pribadi guru mursyidnya di antara kedua matanya. Dan ini menurut Para ulama thariqah merupakan adab yang sangat penting. (rabithah)

8.   Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) ataupun ramai (banyak orang). Bukannya kalau ramai banyak orang perasaannyaketika berdzikir lebih baik dan hebat, karena dilihat banyak orang ketimbang ketika sepi.

9.  Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan, seorang yang berdzikir akan sampai pada derajat Ash-Shiddi’qiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbersit didalam hatinya -berupa kebaikan dan keburukan­ kepada syaikhnya. Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti ia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan batiniyah).

10. Memilih shighot dzikir bacaan Laa ilaaha illallah, karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan-bacaan dzikir syar’i lainnya.

11. Menghadirkan makna dzikir di dalam hatinya.

12. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah, agar pengaruh kata ”illallah” terhujam di dalam hati dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.

 

Dan 3 (tiga) adab setelah berdzikir adalah;

1.  Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzikr. Para ulama thariqah berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar daripada apa yang dihasilkan oleh riyadlah dan mujahadah tiga puluh tahun.

2.  Mengulang-ulang pernafasannya berkali-kali. Karena hal ini -menurut para ulama thariqah- lebih cepat menyinarkan bashi’rah, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan-bisikan hawa nafsu dan syetan.

3.  Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat) di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq dan tahyij (rasa rindu dan gairah) kepada Al-Madzkur/Allah yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.

Para Guru Mursyid berkata: “Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tatakrama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan itu.” Wallahu a’lam.

 

 

Keterangan:

1.   Himmah para syaikh/guru mursyid adalah keinginan para beliau agar semua muridnya bisa wushul kepada Allah SWT.

2.   Sikap duduk pada waktu melakukan dzikir ada perbedaan antara aliran thariqah satu dengan lain-nya, bahkan antara satu mursyid dengan lainnya dalam satu aliran thariqah. Ada yang menggunakan cara duduk seperti duduk didalam shalat (tawarruk dan iftirasy), ada yang dengan tawarruk dibalik artinya kaki kanan yang dimasukkan dibawah lutut kiri, ada yang dengan duduk murobba’ (bersila) dan ada yang dengan cara seperti saat dibai’at oleh mursyidnya. Oleh karena itu maka sikap duduk didalam berdzikir bisa dilakukan sesuai dengan petunjuk guru mursyidnya masing-masing.

3.   Membayangkan pribadi syaikhnya seakan berada di hadapannya pada saat melakukan dzikir, yang lazim disebut “rabithah” atau “tashawwur” bagi seorang murid thariqah. Hal tersebut lebih berfaidah clan lebih mengena daripada dzikirnya itu. Karena syaikh adalah washillah/ perantara untuk wushul ke hadirat Sang Maha Haq ‘azza wa jalla bagi si murid, dan setiap kali bertambah wajah kesesuaian bayangannya bersama syaikhnya maka bertambah pula anugerah-anugerah dalam bathiniyahnya, dan dalam waktu dekat akan sampailah dia pada apa yang dicarinya (Allah). Dan lazimnya bagi seorang murid untuk fana’/lebur lebih dahulu dalam pribadi syaikhnya, kemudian setelah itu dia akan sampai pada fana’/lebur pada Allah ta’ala. Wallahu a’lam.

4.   Yang dimaksud dengan waridudz-dzrkr adalah adalah segala sesuatu yang datang/muncul di dalam hati berupa makna-makna atau pengertian-pengertian setelah berdzikir yang bukan dikarenakan oleh usaha kerasnya si pelaku dzikir.

 

 

Muhimmah, Tanda-tanda murid yang beruntung ada tiga :

 

  1. Cinta kepada guru bil itsar, artinya mementingkan kehendak guru mengalahkan kepentingannya sendiri.
  2. Apa yang menjadi kehendak dan perintah guru yang baik diterimanya dengan  hati yang lapang dan niat laa hawla quwwata illa billahil ’aliyyil adzhim.
  3. Sesuai di dalam setiap perkara yang dikerjakannya dengan yang dimaksudkan oleh gurunya.

 

 

 

CERITA MURID NAQSHBANDIYYAH

Murid Naqshbandiyyah
Maulana Syaikh Hisyam Kabbani
London, 18 Ramadhan 1422

Cerita berikut ini sering diulang oleh Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim , dan Saya juga telah menceritakannya berulang kali. Cerita ini harus bisa merasuk ke dalam hati. Hanya jika kalian mendengarkan dan menyimpannya baik-baik di dalam hati, baru bisa berhasil. Jika tidak, kalian tidak akan berhasil.

Seseorang datang kepada Grandsyaikh dan berkata, “Wahai Syaikhku, aku ingin meminta thariqat Naqsybandi darimu.” Orang itu datang kepada Syaikh dengan membawa belati yang besar dan sebilah pedang. Dia berasal dari Daghestan dan kalian tahu bahwa orang-orang Daghestan berkumis tebal dan mengarah ke atas… mereka adalah para pegulat, seperti beberapa saudara kita di sini. Orang itu datang dengan seluruh egonya, meminta Syaikh agar menerimanya sebagai pengikut thariqat Naqsybandi.

Pada awalnya Grandsyaikh berkata, ”Aku tidak akan memberimu thariqat!” Orang itu kaget, ”Apa! Aku mempunyai pedang dan beberapa belati, dan aku bisa memukul siapa saja! Aku ingin thariqat! Jika engkau tidak memberinya, Aku akan memukulmu!” Walau begitu orang itu mempunyai  berkataeniat yang baik. Grandsyaikh melihatnya, dan dengan segera Rasulullah  kepadanya bahwa orang ini mempunyai niat yang baik. Perintah pun datang, walaupun dia seorang pegulat dan membawa belati, dia harus diajari untuk menjadi pengikut thariqat Naqsybandi. Grandsyaikh berkata, “Aku tidak bisa memberimu thariqat kecuali engkau mau mendengar perintahku. Namun demikian, sebelum Aku memberimu perintah, Aku akan mengutusmu ke kota.”

Grandsyaikh menyuruh orang itu pergi ke pasar di tengah kota untuk mencari orang yang membawa usus biri-biri di punggungnya, “Pergilah di belakangnya lalu tepuk lehernya dengan tanganmu. Perhatikan apa yang dia katakan lalu laporkan kepadaku.” Si pegulat tadi—karena dia seorang pegulat—sangat bergembira mendengar perintah itu. Jika ini ajaran Naqsybandi, Alhamdulillah, baiklah Syaikhku ini memang pekerjaanku—memukuli orang! Dengan senang hati Aku akan pergi dan menamparnya, bukan cuma sekali tetapi ratusan kali.” “Tidak!” sahut Grandsyaikh, “Sekali saja!”

Pegulat itu pergi ke kota mencari orang yang dimaksud. Setelah ditemukan, dia berjalan di belakangnya, mengangkat tangannya dan menepuk lehernya dengan sekuat tenaga. Orang itu menengok kepadanya dengan kemarahan di matanya—tetapi dia tidak berkata apa-apa, kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Si pegulat menjadi marah, sebab dia mengharapkan ada reaksi dari orang itu, sehingga dia dapat menghajarnya lagi dua-tiga atau empat kali atau bahkan meng-KO-nya dengan satu pukulan yang telak. Tetapi sekarang dia harus kembali kepada Syaikh dan melaporkannya. “Wahai Syaikhku, aku melihat hal yang sangat tidak biasa hari ini. Ketika Aku memukulnya, dia tidak bereaksi, tetapi dia melihatku dengan marah, dan Aku menunggu dia untuk menghampiriku sehingga Aku bisa menghajarnya, ternyata dia tidak melakukannya!” Grandsyaikh berkata,”lupakan saja!”

Hari berikutnya, Grandsyaikh berkata kepadanya, “Pergilah engkau ke tempat yang sama. Engkau akan menemukan orang lain, kali ini seorang pedagang lambung biri-biri (jeroan).” Pada saat itu, biasanya para pedagang menggantung semua bagian daging dan menjualnya. “Dengan yang satu ini, engkau boleh menggunakan tenaga yang lebih besar, kalau perlu dengan kekasaran untuk menghajarnya. Lalu perhatikan apa yang dikatakannya, kemudian engkau kembali dan ceritakan apa yang terjadi kepadaku.” ”Baiklah, Syaikh!” orang itu menjawab, “Perintahmu adalah keinginanku! Aku akan memukul siapa saja untukmu! Ini adalah perintah yang sangat mudah.”

Dia pergi ke kota, menemukan orang yang dimaksud, dan dengan segala kekuatannya dia meninju orang itu hingga KO. Ketika orang itu terjatuh, dia berbalik badan dan tersenyum kepada pegulat itu tanpa berkata apa-apa. Lalu dia mengumpulkan barang-barangnya dan pergi. Kali ini si pegulat lebih marah lagi dibandingkan yang pertama. Mengapa orang itu tidak bereaksi sehingga dia bisa mengambil belati dan menghabisinya? Dia kembali kepada Syaikh dan melaporkan apa yang terjadi.

Hari berikutnya, Grandsyaikh berkata, “Aku utus engkau ke sebuah pertanian, di sana engkau akan menemukan orang yang sangat tua sedang membajak ladangnya. Sekarang jangan gunakan tanganmu, sebab dia adalah orang tua. Dia harus mendapatkan yang lebih baik, engkau harus menggunakan tongkat untuk memukulnya!” Sekarang si pegulat mulai berpikir, mengapa Syaikh menyuruhnya memukul anak muda? Bukankah tidak lebih baik jika Aku gunakan tongkat pada mereka, daripada untuk orang tua ini? Tetapi Syaikh lalu beranjak sambil berkata, “Gunakan tongkat dengan seluruh tenagamu sampai tongkat itu patah di punggungnya! Kalau tidak jangan kembali kepadaku.”

Perhatikanlah rahasia thariqat Naqsybandi, ketika Nabi Musa datang, beliau berkata,”Al ‘aynu bil ‘ayni was sinnu bis sinn,“ mata untuk as mata dan gigi untuk gigi: jika seseorang menghantam kalian, kalian harus menghantam balik. Terlalu banyak keinginan (untuk berkuasa) di sana—karena hal itu memang dibenarkan pada masa itu—kenyataannya sampai sekarang juga masih berlaku. Ketika Nabi ‘Isa datang, beliau berkata, jika seseorang menamparmu di pipi kanan, berikan juga yang kiri. Di sini juga masih terdapat keinginan, sama halnya bila kalian berkata, “Baiklah, pukullah aku di sisi yang ini juga.” Masih ada suatu keinginan dari dirimu. Dalam ajaran Naqsybandi, kalian bahkan tidak diizinkan untuk memiliki keinginan itu.

Sekarang, sesuatu telah merasuk ke dalam hati si pegulat dan mengubah dirinya. Tetapi dia tidak menolak perintah yang diberikan oleh Syaikh. Sekarang jika Syaikh menyuruhmu untuk memukul orang dengan sebuah tongkat, apa yang akan kalian katakan? Kalian akan menolak perintah itu. Seorang murid mengambil tongkat dan pergi, tetapi dia merasa bimbang sekarang. Mengapa dia harus memukul orang tua itu? Namun dia tetap pergi juga ke ladang dan menemukannya, seperti yang dikatakan Syaikh, orang itu sedang membajak ladangnya. Dia berjalan di belakangnya, dan mengingat pesan Syaikh bahwa dia harus mematahkan tongkatnya di punggung orang tua itu. Pada saat itu perasaannya bercampur, sedih dan gembira, lain halnya pada kedua orang sebelumnya, di mana dia benar-benar bisa menikmatinya!

Dia mengambil tongkat dan memukul punggung orang tua itu. Tetapi karena perasaannya galau, dia tidak melakukannya dengan tenaga yang cukup untuk mematahkan tongkat itu. Segera setelah dia memukulnya, petani itu menginjak alat bajaknya, lebih dalam agar bisa bekerja lebih cepat, tanpa melihat ke belakangnya. Si pegulat berpikir, “Aku harus mematahkan tongkat ini.” Dengan segala kekuatannya sekarang dia memukul kembali, namun masih belum bisa mematahkan tongkatnya. Petani itu menekan kembali alat bajaknya dengan penuh tenaga sehigga kerbaunya makin cepat bergerak, demikian cepat sampai petani itu jatuh berlutut. Tetapi si pegulat harus mematahkan tongkatnya, sekarang dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan dengan seluruh tenaga yang dimiliki, dia ayunkan tongkat itu ke atas punggung petani hingga tongkatnya patah.

Orang tua yang malang itu terjerembab ke tanah, tetapi dengan segera dia bangkit dan mendatangi pegulat tadi dengan merangkak. Tanpa sepatah kata pun, dia meraih tangan si pegulat dan berucap, Berikanlah tanganmu, biarkan aku menciumnya. Karena dosa-dosaku Syaikh mengutusmu kepadaku untuk memperbaiki aku. Aku tahu kalau aku melakukan kesalahan. Engkau adalah alat untuk mengoreksi kesalahanku.” Orang tua ini berkata demikian meskipun dia membutuhkan koreksi sebab dia telah menjadi orang yang “terkoreksi”, dia adalah seorang murid thariqat Naqsybandi, yang berarti dia telah mencapai derajat yang tinggi. Dia melanjutkan, “Aku menyebabkan tanganmu merasa sakit karena harus memukulku dengan keras. Maafkanlah aku, janganlah engkau menentangku di Hari Pembalasan nanti, dalam kehadiran Allah , Rasulullah dan Syaikhku! Aku merasa malu terhadap Syaikhku, yang mengirimkanmu kepadaku untuk mengoreksiku. Maafkanlah aku karena menyakiti tanganmu.” Dia bahkan tidak menyinggung- nyinggung soal punggungnya.

Bagaikan tersiram air dingin, pegulat itu meleleh. Dia kembali kepada Grandsyaikh dengan perasaan sangat malu. Di sana, Grandsyaikh menyuruhnya duduk dan menerangkan semuanya. “Wahai anakku, orang pertama yang engkau temui adalah orang pada tingkat pertama, seorang pemula yang belum memasuki thariqat Naqsybandi. Ketika engkau menepuknya, dia hanya melihatmu, tetapi dia melihat dengan kemarahan. Hal itu berarti dia tahu ini berasal dariku, bahwa aku mengutusmu untuk mengoreksinya, tetapi dia tetap memiliki rasa marah dalam hatinya, sehingga engkau bisa melihat pada raut mukanya. Orang kedua berada di tingkat kedua, musta’idd, “siap” untuk masuk dan menjalani thariqat Naqsybandi. Ketika kalian memukulnya, dia menoleh padamu, tetapi dia tertawa, ini menunjukkan adanya suatu keinginan, seolah-olah dia berkata, “Wahai Syaikhku, Aku tahu ini berasal darimu dan Aku tertawa. Engkau mengujiku, dan Aku akan bertahan.” Oleh sebab itu di sana masih terdapat suatu keinginan.

Perhatikan hal-hal kecil yang diperhatikan oleh Syaikh. Maulana mengatakan sesuatu, lalu orang-orang menentang, berkeberatan, atau menolaknya. Jika kalian menolak, mengapa kalian mengikuti Maulana? Kalian mengikutinya untuk belajar. Oleh sebab itu, belajarlah sebanyak-banyaknya. Jika kalian tidak menolak, jangan melawan, jangan berkeberatan, apapun yang ingin dilakukan Maulana kepadamu, apakah boots, atau sepatu atau tanpa sepatu. Jangan bertanya mengapa… terima saja. Apa yang akan terjadi? Apakah kalian menginginkan cinta Maulana atau cinta orang-orang? Apakah kalian menginginkan gelar dari Allah dan dari Surga, gelar dari Syaikh atau kalian ingin mendapat gelar dari orang-orang yang akan memanggilmu Syaikh?

Orang ketiga yang harus dipukul oleh si pegulat, ketika dia terjatuh dan tongkatnya patah di punggungnya, menoleh ke belakang dan mencium tangan penyerangnya. Dia berkata kepadanya, “Maafkan aku karena menyebabkan tanganmu terluka karena dosa-dosaku, jika aku bukan pendosa, Syaikhku tidak akan mengirimkan engkau kepadaku untuk mengoreksiku.” Orang itu tidak mempunyai dosa, dia termasuk pengikut thariqat Naqsybandi dan telah berusia 80 tahun. Tetapi dia masih menganggap dirinya pendosa dan menerima anggapan bahwa dirinya seperti itu. Dia tidak ingin memberitahu egonya bahwa dia adalah sesuatu. Kalian harus selalu menempatkan egomu serendah-rendahnya dan katakan kepada egomu, “Meskipun kalian adalah Wali terbesar, kalian tetap bukan apa-apa.” Sebagaimana yang dikatakan oleh Maulana Syaikh Nazhim, “Saya selalu berusaha untuk berkata kepada ego bahwa Saya adalah debu—tidak eksis.” Kalian tidak bisa memberikan sesuatu kepada egomu untuk dibanggakan. Kalau tidak, dia akan membunuhmu, padahal kalianlah yang harus membunuhnya.

Orang tua itu berkata, ”Maafkan aku karena menyakiti tanganmu. Di Hari Pembalasan jangan datang kepada Allah dan meminta pembalasan terhadapku. Oleh sebab itu, biarlah kucium tanganmu.“ Sangat penting bagi seseorang yang tidak bersalah, menganggap dirinya bersalah. Ini adalah pengorbanan terbesar. Ketika Sayyidina Abu Yazid Tayfur al-Bistami pergi dengan kapal laut pada saat badai, kapten kapal berpikir bahwa kapalnya akan terbalik, sehingga dia berteriak, “Pasti ada seorang pendosa di antara kita! Kita harus melemparkan orang itu ke laut agar menjadi tenang.” Sayyidina Abu Yazid mengamati mereka dan berkata, “Mereka ini adalah sekumpulan orang-orang bodoh, mereka akan melemparkan seseorang yang tidak bersalah ke laut.” Beliau mengorbankan dirinya dan berkata, “Akulah si pendosa.” Lalu mereka melemparkan dirinya ke laut, dan laut pun menjadi tenang.

Menganggap dirimu seorang pendosa meskipun sebenarnya bukan adalah pengorbanan terbesar. Grandsyaikh melanjutkan, “Orang yang berumur 80 tahun itu adalah murid thariqat Naqsybandi, sebab dia melihat segala sesuatu yang datang berasal dari Syaikh, bukan dari si-X, Y, atau Z.” Maulana Syaikh Nazhim membawa kita ke sini (Masjid Pekham di London) setiap tahun untuk menguji kita, sebab ini adalah tempat untuk percobaan. Di sini terdapat berbagai macam kesulitan. Seperti halnya naik haji, setiap orang bertengkar dengan yang lain, sebab terlalu banyak orang dan terlalu banyak urusan. Kalian harus belajar bersabar

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.