THORIQOH AL-MUTABAROH

Thoriqoh AlMutabaroh

Dalam tasawuf seringkali dikenal istilah Thoriqoh, yang berarti jalan, yakni jalan untuk mencapai Ridlo Allah. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi menyatakan, Aturuk biadadi anfasil mahluk, yang artinya jalan menuju Allah itu sebanyak nafasnya mahluk, aneka ragam dan bermacam macam. Kendati demikian orang yang hendak menempuh jalan itu haruslah berhati hati, karena dinyatakan pula, Faminha Mardudah waminha maqbulah, yang artinya dari sekian banyak jalan itu, ada yang sah dan ada yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak diterima. Yang dalam istilah ahli Thoriqoh lazim dikenal dengan ungkapan, Mu’tabaroh. Wa ghoiru Mu’tabaroh.
KH. Dzikron Abdullah menjelaskan, awalnya Thoriqoh itu dari Nabi yang menerima wahyu dari Allah, melalui malaikat Jibril. Jadi, semua Thoriqoh yang Mu’tabaroh itu, sanad(silsilah)-nya muttashil (bersambung) sampai kepada Nabi. Kalau suatu Thoriqoh sanadnya tidak muttashil sampai kepada Nabi bisa disebut Thoriqoh tidak (ghoiru) Mu’tabaroh. Barometer lain untuk menentukan ke-mu’tabaroh-an suatu Thoriqoh adalah pelaksanaan syari’at. Dalam semua Thoriqoh Mu’tabaroh syariat dilaksanakan secara benar dan ketat.
Diantara Thoriqoh Muktabaroh itu adalah :

Thoriqoh Syathariyah pertama kali digagas oleh Abdullah Syathar (w.1429 M). Thoriqoh Syathariyah berkembang luas ke Tanah Suci (Mekah dan Medinah) dibawa oleh Syekh Ahmad Al-Qusyasi (w.1661/1082) dan Syekh Ibrahim al-Kurani (w.1689/1101). Dan dua ulama ini diteruskan oleh Syekh ‘Abd al-Rauf al-Sinkili ke Nusantara, kemudian dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhan al-Din ke Minangkabau. Thoriqoh Syathariyah sesudah Syekh Burhan al-Din, berkembang pada 4 (empat) kelompok, yaitu; Pertama silsilah yang diterima dari Imam Maulana. Kedua, silsilah yang dibuat oleh Tuan Kuning Syahril Lutan Tanjung Medan Ulakan. Ketiga, silsilah yang diterima oleh Tuanku Ali Bakri di Sikabu Ulakan. Keempat; silsilah oleh Tuanku Kuning Zubir yang ditulis dalam Kitabnya yang berjudul Syifa’ al-Qulub. Thoriqoh ini berkembang di Minangkabau dan sekitarnya. Untuk mendukung ke1embagaan Thoriqoh, kaum Syathariyah membuat lembaga formal berupa organisasi sosial keagamaan Jama’ah Syathariyah Sumatera Barat, dengan cabang dan ranting-ranting di seluruh alam Minangkabau, bahkan di propinsi-tetangga Riau dan jambi. Bukti kuat dan kokohnya kelembagaan Thoriqoh Syathariyah dapat ditemukan wujudnya pada kegiatan ziarah bersama ke makam Syekh Burhan al-Din Ulakan.

Sementara Thoriqoh Naqsyabandiyah masuk ke Nusantara dan Minangkabau pada tahun 1850. Thoriqoh Naqsyabandiyah sudah masuk ke Minangkabau sejak abad ke 17, pintu masuknya me1alui daerah Pesisir Pariaman, kemudian terus ke Agam dan Limapuluh kota. Thoriqoh Naqsyabandiyah diperkenalkan ke wilayah ini pada paruh pertama abad ketujuh belas oleh Jamal al-Din, seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai sebelum dia melanjukan ke Bayt al-Faqih, Aden, Haramain, Mesir dan India. Naqsyabandiyah merupakan salah satu Thoriqoh sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alfi Tsani (Pembaru Milenium kedua, w. 1624). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan Thoriqoh tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Thoriqoh Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati (Sirri). Penyebaran Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyah ditunjang oleh ulama ulama Minangkabau yang menuntut ilmu di Mekah dan Medinah, mereka mendapat bai’ah dari Syekh Jabal Qubays di Mekah dan Syekh Muhammad Ridwan di Medinah. Misalnya, Syekh Abdurrahman di Batu Hampar Payakumbuh (w. 1899 M), Syekh Ibrahim Kumpulan Lubuk Sikaping, Syekh Khatib Ali Padang (w. 1936), dan Syekh Muhammad Sai’d Bonjol. Mereka adalah ulama besar dan berpengaruh pada zamannya serta mempunyai anak murid mencapai ratusan ribu, yang kemudian turut menyebarkan Thoriqoh ini ke daerah asal masing masing Di Jawa Tengah Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyyah disebarkan oleh KH. Abdul Hadi Girikusumo Mranggen yang kemudian menyebar ke Popongan Klaten, KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdullah Salam Kajen Margoyoso Pati, KH. Hafidh Rembang. Dari dari tangan mereka yang penuh berkah, pengikut Thoriqoh ini berkembang menjadi ratusan ribu. Ajaran dasar Thoriqoh Naqsyabandiyah pada umumnya mengacu kepada empat aspek pokok yaitu: syari’at, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Ajaran Thoriqoh Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara atau jalan yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin merasakan nikmatnya dekat dengan Allah. Ajaran yang nampak ke permukaan dan memiliki tata aturan adalah khalwat atau suluk. Khalwat ialah mengasingkan diri dari keramaian atau ke tempat yang terpencil, guna melakukan zikir dibawah bimbingan seorang Syekh atau khalifahnya, selama waktu 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya adalah 40 hari. Tata cara khalwat ditentukan oleh syekh antara lain; tidak boleh makan daging, ini berlaku setelah melewati masa suluk 20 hari. Begitu juga dilarang bergaul dengan suami atau istri; makan dan minumnya diatur sedemikian rupa, kalau mungkin sesedikit mungkin. Waktu dan semua pikirannya sepenuhnya diarahkan untuk berpikir yang telah ditentukan oleh syekh atau khalifah..

Thariqat Ahmadiyah didirikan oleh Ahmad ibn ‘Aly (al-Husainy al-Badawy). Diantara nama-nama gelaran yang telah diberikan kepada beliau ialah Syihabuddin, al-Aqthab, Abu al-Fityah, Syaikh al-‘Arab dan al-Quthab an-Nabawy. Malah, asy-Syaikh Ahmad al-Badawy telah diberikan nama gelar (laqab) yang banyak, sampai dua puluh sembilan nama. Al-Ghautha al-Kabir, al-Quthab al-Syahir, Shahibul-Barakat wal-Karamat, asy-Syaikh Ahmad al-Badawy adalah seorang lelaki keturunan Rasulullah SallAllahu ‘alaihi wa sallam, melalui Sayidina al-Husain. Sholawat Badawiyah sughro dan Kubro, adalah sholawat yang amat dikenal masarakat Indonesia, dinisbatkan kepada waliyullah Sayid Ahmad Badawi ini, akan tetapi Tarekat badawiyah sendiri tidak berkembang secara luas di indonesia khususnya di Jawa

Abul Hasan Ali asy-Sadzili, merupakan tokoh Thoriqoh Sadziliyah yang tidak meninggalkan karya tulis di bidang tasawuf, begitu juga muridnya, Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya ajaran lisan tasawuf, Doa, dan hizib. Ketika ditanya akan hal itu, ia menegaskan :”karyaku adalah murid muridku”, Asadzili mempunyai murid yang amat banyak dan kebanyakan mereka adalah ulama ulama masyhur pada zamannya, dan bahkan dikenal dan dibaca karya tulisnya hingga hari ini. Ibn Atha’illah as-Sukandari adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga kasanah Thoriqoh Sadziliyah tetap terpelihara. Ibn Atha’illah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan Thoriqoh Sadziliah, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, yang menjadi rujukan bagi angkatan-angkatan setelahnya. Sebagai ajaran, Thoriqoh ini dipengaruhi oleh al-Ghazali dan al-Makki. Salah satu perkataan as-Sadzili kepada murid-muridnya: “Jika kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid al-Ghazali”. Perkataan yang lainnya: “Kitab Ihya’ Ulum ad-Din, karya al-Ghozali, mewarisi anda ilmu. Sementara Qut al-Qulub, karya al-Makki, mewarisi anda cahaya.” Selain kedua kitab tersebut, al-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atah’illah. Thoriqoh Sadzaliah berkembang pesat di Jawa, tercatat Ponpes Mangkuyudan Solo, Kyai Umar , Simbah Kyai Dalhar Watucongol, Simbah Kyai Abdul malik Kedongparo Purwokerto, KH Muhaiminan Parakan, KH. Abdul Jalil Tulung Agung. KH . Habib Lutfi Bin Yahya, Pekalongan .Simbah KH.M.Idris, kacangan Boyolali, adalah pemuka pemuka Sadzaliah yang telah membaiat dan membina ratusan ribu bahkan jutaan murid Sadziliah.

Thoriqoh Qodiriyah dinisbahkan kepada Syekh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Riwayat hidup dan keutamaan akhlak (Manaqib) Syech Abdul Qodir Jaelani ini, dikenal luas oleh masarakat Indonesia khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan dibaca dalam acara-acara tertentu guna tabarruk dan tawassul kepada Syekh Abdul Qodir. Thoriqoh Qodiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, Thoriqoh ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya baru berkembang setelah Muhammad Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku keturunan Syekh Abdul Qodir Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, Thoriqoh Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M. Thoriqoh Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syekh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti Thoriqoh gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi Thoriqoh yang lain ke dalam Thoriqohnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Syekh Abdul Qadir Jaelani sendiri,”Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syekh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.” Seperti halnya Thoriqoh di Timur Tengah. Sejarah Thoriqoh Qodiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah al-Mukarromah. Thoriqoh Qodiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syekh Abdul Karim dari Banten adalah murid kesayangan Syekh Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran Thoriqoh Qodiriyah. Murid-murid Syekh Sambas yang berasal dari Jawa dan Madura, setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar Thoriqoh Qodiriyah tersebut.

Di Jawa Tengah Thoriqoh Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah muncul dan berkembang antara lain dari Mbah Ibrahim Brumbung Mranggen diturunkan kepada antara lain KH. Muslih pendiri Ponpes Futuhiyyah ,Mranggen. Dari Kyai Muslih ini lahir murid-murid Thoriqoh yang banyak. Dan dari tangan mereka berkembang menjadi ratusan ribu pengikut. Demikian pula halnya Simbah Kyai Siradj Solo yang mengembangkan Thoriqoh ini ke berbagai tempat melalui anak muridnya yang tersebar ke pelosok Jawa Tengah hingga mencapai puluhan ribu pengikut. Sementara di Jawa Timur, Thoriqoh ini dikembangkan oleh KH. Musta’in Romli Rejoso Jombang dan Simbah Kyai Utsman yang kemudian dilanjutnya putra-putranya diantaranya KH. Asrori yang juga mempunyai murid ratusan ribu. Di Jawa Barat tepatnya di Ponpes Suryalaya Tasikmalaya juga turut andil membesarkan Thoriqoh ini sejak mulai zaman Abah Sepuh hingga Abah Anom dan murid-muridnya yang tersebar di berbagai penjuru Jawa Barat.

Thoriqoh Alawiyyah berbeda dengan Thoriqoh sufi lain pada umumnya. Perbedaan itu, misalnya, terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani) yang berat, melainkan lebih menekankan pada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan. Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad.serta beberapa ratib lainnya seperti Ratib Al Attas dan Alaydrus juga dapat dikatakan, bahwa Thoriqoh ini merupakan jalan tengah antara Thoriqoh Syadziliyah (yang menekankan olah hati) dan batiniah) dan Thoriqoh Al-Ghazaliyah (yang menekankan olah fisik). Thoriqoh ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Thoriqoh ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir–lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir—seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat. Al Imam Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali Baalwi, juga merupakan tokoh kunci Thoriqoh ini. Dalam perkembangannya kemudian, Thoriqoh Alawiyyah dikenal juga dengan Thoriqoh Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Habib Abdullah al-Haddad, Attasiyah yang dinisbatkan kepada Habib Umar bin Abdulrahman Al Attas, serta Idrusiyah yang dinisbatkan kepada Habib Abdullah bin Abi Bakar Alaydrus, selaku generasi penerusnya. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Thoriqoh Alawiyyah, secara umum, adalah Thoriqoh yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW–yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal Thoriqoh ini didirikan, pengikut Thoriqoh Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid di Hadhramaut, atau Ba Alawi.Thoriqoh ini dikenal pula sebagai Toriqotul abak wal ajdad, karena mata rantai silisilahnya turun temurun dari kakek,ayah, ke anak anak mereka, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami. Di Purworejo dan sekitarnya Thoriqoh ini berkembang pesat, diikuti bukan hanya oleh para saadah melainkan juga masarakat non saadah , Sayid Dahlan Baabud, tercatat sebagai pengembang Thoriqoh ini, yang sekarang dilanjutkan oleh anak cucunya.

Umumnya, nama sebuah Thoriqoh diambil dari nama sang pendiri Thoriqoh bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Thoriqoh Khalwatiyah justru diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati (w. 717 H), pendiri Thoriqoh Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi. Secara “nasabiyah”, Thoriqoh Khalwatiyah merupakan cabang dari Thoriqoh Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi (539-632 H). Thoriqoh Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir. Ia dibawa oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syiria. Ia mengambil Thoriqoh tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan Thoriqoh ini di Mesir, tak heran jika Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik. Diantara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan (Pelipur Duka).

Thoriqoh Syattariyah adalah aliran Thoriqoh yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Thoriqoh ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar. Awalnya Thoriqoh ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, Thoriqoh ini disebut Bistamiyah. Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Thoriqoh Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Thoriqoh ini dianggap sebagai suatu Thoriqoh tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik. Perkembangan mistik Thoriqoh ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana’. Penganut Thoriqoh Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut Thoriqoh ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan Thoriqoh ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.

Thoriqoh Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan. At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun. Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh Thoriqoh-Thoriqoh lain. Gugatan keras dari kalangan ulama Thoriqoh itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Thoriqoh Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan diperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Thoriqoh Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru Thoriqoh lain, Meski demikian, Thoriqoh ini terus berkembang, utamanya di Buntet- Cirebon dan seputar Garut (Jawa Barat), dan Jati barang brebes, Sjekh Ali Basalamah, dan kemudian dilanjutkan putranya, Sjekh Muhammad Basalamah, adalah muqaddam Tijaniah di Jatibarang yang pengajian rutinnya, dihadiri oleh puluhan ribu ummat Islam pengikut Tijaniah. Demikian pula Madura dan ujung Timur pulau Jawa, tercatat juga, sebagai pusat peredarannya. Penentangan terhadap Thoriqoh ini, mereda setelah, Jam’iyyah Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan, Thoriqoh ini bukanlah Thoriqoh sesat, karena amalan-amalannya sesuai dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Keputusan itu diambil setelah para ulama ahli Thoriqoh memeriksa wirid dan wadzifah Thoriqoh ini.

Thoriqah Sammaniyah didirikan oleh Syekh Muhammad Samman yang bernama asli Muhammad bin Abd al-Karim al-Samman al-Madani al-Qadiri al-Quraisyi dan lebih dikenal dengan panggilan Samman. Beliau lahir di Madinah 1132 H/1718 M dan berasal dari keluarga suku Quraisy. Semula ia belajar Thoriqoh Khalwatiyyah di Damaskus, lama kelamaan ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik dzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang akhirnya disebut sebagai Thoriqoh Sammaniyah. Sehingga ada yang mengatakan bahwa Thoriqoh Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah. Di Indonesia, Thoriqoh ini berkembang di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapatkan pengikut karena popularitas Imam Samman. Sehingga manaqib Syekh Samman juga sering dibaca berikut dzikir Ratib Samman yang dibaca dengan gerakan tertentu. Di Palembang misalnya ada tiga ulama Thoriqoh yang pernah berguru langsung pada Syekh Samman, ia adalah Syekh Abd Shamad, Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syekh Syihabuddin dan Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad. Di Aceh juga terkenal apa yang disebut Ratib Samman yang selalu dibaca sebagai dzikir .

 

MEMILIH ALIRAN THARIQAH

Aisyatul Karima <salsa_sakura@yahoo.com> wrote:

Assalamu’alaikum,,

 

Terima kasih atas infonya pak fidri…

Bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan lagi?

Dari ketiga tarekat tsb, manakah yg paling bagus???

dan ketiga tarekat tsb masing2 lebih cocok diperuntukkan untuk siapa saja?

Terima kasih sebelumnya….

 

Wassalam….

“T.Fidriansyah” <fidri@yahoo.com> wrote:

jelas berbeda antara thariqah an-naqshbandiyah, Syadzaliyyah dsb…

thariqah adalah jalan menuju kehadirat Ilahi…maka contohnya seperti tujuan kita ke Monas.

maka banyak jalan menuju ke monas. ada yang lewat kuningan (nqshbandi), Sudirman (Qadiriah), atau lewat salemba (Syadzaliyah) berbagai jalan yang ditempuh tetapi semuanya menuju pada satu tujuan yang sama yakni Monas.

karena berbeda rute jalan (thariqah) yang dilalui maka, rute jalan tersebut melalui jalan yang berbeda-beda masing-masing rutenya. Yang melalui di jalan Sudirman maka membutuhkan perlengkapan kendaraan yang sempurna karena melewati jalan protokol, banyak polisinya. STNK-SIM harus komplit dan kondisi kendaraan harus lebih fit. (kerena sangat repot dan mengganggu kalo sampai mogok di jalan tsb).

tentu kondisi ini tidak sama dengan yang mengambil rute melalui Kuningan, juga tidak sama pula yang dihadapi di dalam jalan di Salemba, dimana bus-motor-gerobak-speda-mobilnya bercampur baur jadi satu. yang tidak dihadapi di sudirman maupun beda di kuningan tidak/jarang bertemu sepeda/gerobak.

hampir sama tapi tentunya tidaklah sama, maka kurang tepat jika saling bertukar amalan, tanpa seijin guru Mursyidnya; karena yang dihadapi berbeda-beda kondisinya. jika ia biasa melewati jalan sudirman tentunya ia akan kagok bahkan khawatir bisa terjadi tabrakan/nyerempet jika ia jalan di salemba. begitu pula sebaliknya. maka para Imam Thariqah; Imam Syadzali.rhm, Imam Abdul Qadir al-Jaelani.rhm atau Imam Muhammad Baha’uddin an-Naqshbandi.rhm; menyusun ajaran-ajaran untuk menempuh jalan kedekatan Illahi berbeda-beda tetapi sama satu tujuannya, menunjukkan keluasan dan kebesaran lautan samudera bahtera Rahmat-Nya ALLAH SWT.

 

demikian informasi yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat.

 

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi

 wabarakatuh,

THARIQAH SYADZALIYAH

Thariqah Syadzaliyah

Pendiri Thariqah Syadzaliyah adalah Wali Agung Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzali radliallahu ‘anhu (593 – 656 H). Kehidupan beliau adalah kehidupan seorang syaikh pengembara di muka bumi, sambil bersungguh-sungguh dengan dzikir dan fikir untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri) pada Allah. Dan beliau ajarkan pada para muridnya sikap zuhud terhadap dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah). Dan juga menganjurkan mereka untuk dzikir di setiap waktu, tempat dan keadaan serta menempuh jalan tashawuf. Beliau juga mewasiatkan agar (para muridnya) membaca kitab Ihya’ Ullumiddin dan kitab Qhutul Qulub.

Syaikh Asy-Syadzali.ra menjelaskan kepada para muridnya bahwa thariqahnya berdiri diatas lima perkara yang pokok, yaitu;

a.       Taqwa pada Allah SWT dalam keadaan rahasia dan terbuka.

b.       Mengikuti sunnah Nabi SAW dalam ucapan dan perbuatan.

c.       Berpaling dari makhluk (tidak menumpukan harapan) ketika berada di depan dan di belakang mereka.

d.       Ridlo terhadap Allah SWT dalam (pemberian) sedikit maupun banyak.

e.       Kembali kepada Allah SWT dalam keadaan senang dan duka.

Disamping juga mengajak mereka untuk mengiringi thariqahnya dengan dzikir-dzikir dan do’a-do’a sebagaimana termuat dalam kitab-kitabnya, seperti Kitab Al-Ikhwah, Hizb Al-Bahr, Hizb Al-Barr; Hizb Al-Kabir; Hizb Al-lathif, Hizb Al-Anwar dan sebagainya.

Thariqah Syadzaliyah ini berkembang dan tersebar di Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Al-Jazair, Negeri-negeri utara Afrika dan juga Indonesia.

Seseorang yang ingin memasuki atau mengambil dzikir dari Thariqah Syadzaliyah, persyaratan secara umumnya adalah Islam, berakal, dewasa (umur 18 tahun keatas) dan sudah faham Ilmu Syari’at, minimal tentang amaliah sehari-hari, khususnya shalat. Jika dia seorang wanita yang sudah bersuami, maka harus mendapatkan izin dari suaminya.

Sedang persyaratan khususnya atau kaifiah dan tata caranya adalah sebagai berikut;

1.      Datang kepada guru mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izin dan perkenannya.

2.      Puasa 3 hari (biasanya hari Selasa, Rabu dan Kamis).

Setelah selesai berpuasa, datang lagi kepada guru mursyid dalam keadaan suci yang sempurna untuk menerima talqin dzikir atau bai’at. Setelah memperoleh talqin dzikir atau bai’at dari guru mursyid tersebut, yang berarti telah tercatat sebagai anggota Thariqah Syadzaliyah, maka dia berkewajiban untuk melaksanakan aurad (wirid-wirid) sebagai berikut;

a.      Rabithah kepada Guru Mursyid.

b.      Hadlrah (hadiah) Al-Fatihah untuk;

1.       Memohon ridlo Allah ta’ala.

2.       An-Nabiyil Mushthofa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3.       Hadlratusy-Syarkh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili dan ahli silsilahnya.

4.       Guru Mursyidnya dan ahli silsilahnya.

c.       Membaca istighfar 100 kali.

d.      Membaca shalawat Nabi 100 kali sebagai berikut; Dalam kondisi normal/biasa:

Dalam kondisi mendesak atau musafir:

e.      Membaca tahlil/hailalah 100 kali, yang ditutup dengan 3 kali membaca:

f.        Kemudian dilanjutkan 3 kali membaca:

g.      Membaca Al-Fatihah 3 kali.

h.      Membaca Ayat Kursi sekali.

i.         Membaca Surat Al-Ikhlas 3 kali.

j.        Membaca Surat Al-Falaq 3 kali.

k.       Membaca Surat An-Nas 3 kali.

l.         Membaca do’a.

Keterangan:

-          Untuk pelaksanaan puasa 3 hari, tergantung kepada petunjuk guru mursyidnya. Misalnya pada saat pertama datang dan langsung mendapat izin serta perkenan dari guru mursyid untuk bai’at, maka puasa bisa dilaksanakan setelah bai’at atau diqodla’.

-          Pembacaan aurad tersebut diatas dilakukan setiap hari 2 kali, yaitu setiap pagi (ba’da shalat Shubuh) dan sore hari (ba’da shalat Maghrib).

-          Untuk bacaan aurad, kemungkinan ada perbedaan antara guru mursyid satu dengan yang lainnya, tetapi yang inti adalah sama yaitu; istighfar 100 kali, shalawat Nabi ala Syadzaliyah 100 kali dan tahlil 100 kali.

-          Sikap duduk pada saat melaksanakan aurad tersebut bisa dengan tawarruk shalat atau murabba (bersila) atau menurut petunjuk guru mursyidnya.

-          Awrad tersebut diatas adalah untuk para murid pemula, sedangkan bagi yang sudah meningkat pengajarannya maka sesuai dengan petunjuk dan arahan guru mursyidnya.

Suluk Thariqah Syadzaliyah

Para murid Thariqah Syadzaliyah hendaknya mengisi hari-harinya dengan suluk-suluk sebagai berikut ;

1.       Membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf setiap hari walau hanya satu maqra.

2.       Melaksanakan shalat lima waktu dengan berjama’ah.

3.       Mengajarkan ilmu atau mencari tambahan ilmu setiap hari.

Catatan:

1.       Keterangan mengenai kaifiah atau tata cara pelaksanaan aurad Thariqah Syadzaliyah ini diperoleh dari para murid Sayyidisy-Syaikh Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, dan dinukil dari kitab Aurad Ath-Tharriqah Asy-Syadzaliyah Al-‘Ulwiyah yang diterbitkan oleh Kanzus Shalawat Pekalongan, Jawa Tengah.

2.       Untuk kegiatan Irsyadat (bimbingan) dan Ta’limat (pengajaran) yang dilakukan oleh Sayyidis Syaikh Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin I-Iasyim bin Yahya adalah sebagai berikut;

a.      Setiap malam Rabu jam 20.00 sampai 21.30 WIB, dengan materi fiqh dan tasawwuf / kitab Ihya’ Ullumiddin (Untuk umum, khususnya para muridin thariqah).

b.      Setiap Rabu pagi jam 06.00 sampai 07.30 WIB, dengan materi fiqh / kitab Taqrib. (Khusus untuk wanita)

c.       Setiap Jum’at Kliwon jam 06.00 sampai 08.00 WIB, dengan materi thariqah dan tasawwuf  kitab jamii’il Ushul fil ’Auliya : (Untuk umum, khususnya para muridin thariqah)

3.       Sedangkan untuk kegiatan bai at yang dilakukan oleh beliau adalah; Setiap Jum’at Kliwon ba’da pengajian, yang biasanya dilakukan secara massal (banyak orang). Sedang untuk bai’at yang dilakukan secara perorangan atau jama’ah terbatas, tidak ada waktu khusus (tergantung situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi masing-masing yang bersangkutan).

4.       Adapun silsilah kemursyidan Sayyidis Syaikh Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya dalam Thariqah Syadzaliyah ini adalah sebagai berikut;

As-Sayyid Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya dari Sayyid Habib Muhammad Abdul Malik bin Ilyas dari ayahnya Sayyid al-Habib Muhammad Ilyas dari Sayyid Habib Ahmad Nahrawi Al-Makki dari Sayyid Sholeh Al-Mufti Al-Hanafi dari Sayyid Ali bin Thohir Al-Madani dari Sayyid Ahinad Minnatullah Al-Maliki Al-Azhuri dari Sayyid Muhammad Al-Bahiti dari Sayyid Yusuf Adl-Dlariri dari Sayyid Muhammad bin Al-Qasim As-Sakandari dari Sayyid Muhammad Az­Zurqoni dari Sayyid Ali Al-Ajhuri dari Sayyid Nur Al-Qarafi dari Sayyid Al­Hafidh Al-Qasqalandi dari Sayyid Taqiyuddin Al-Wasithi dari Sayyid Abil Fath Al-Maidumi dari Sayyid Abil ‘Abbas Al-Mursi dari Sayyidis Syaikh Abil Hasan Ali Asy-Syadzali dari Sayyid ‘Abdus Salam bin Masyisy dari Sayyid Abdur Rahman Al-Madani A1-Maghrabi dari Sayvid Taqiyuddin Al­Faqir dari Sayyid Fakhruddin dari Sayyid Nuruddin dai Sayyid Tajuddin dari Sayyid Syamsuddin dari Sayyid Zainuddin dari Sayyid Abu Ishad Ibrahim AI-Bashri dari Sayyid Abul Qosim Ahmad Al-Marwani dari Sayyid Sa’id dari Sayyid Sa’d dari Sayyid Abu Muhammad Fathus-Su’udi dari sayyid Abu Muhammad Al-Ghazwani dari Sayyid Abu Muhammad Jabir dari Sayyidina Hasan bin Ali dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhliallahu ’anhum ’ajmain dari Sayyidil Mursalin wa Nabibi Robbil-‘alamin wa Rasulillah ila kaffatil-kholaiq ajma’in Muhammad SAW dari Sayyidina Jibril AS dari Robbul-arbab wa Mu’tiqur-riqob Allah SWT.

 

 

Kriteria dan Adab Murid

Untuk menjaga hubungan yang begitu penting antara seorang murid dengan guru mursyidnya, maka seorang murid yang sudah berbai’at thariqah Syadzaliyah harus memiliki kriteria-­kriteria serta adab dan tatakrama seperti yang disebutkan oleh as-Sayyidi Syekh al-Arifbillah al-Imam al-Mursyid al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Yahya Ba’Alawy–Pekalongan, di dalam Kitab al-Awrad ath-Thariqah asy-Syadzaliyah ’Aliyah’, yaitu sebagai berikut :

 

  1. Jangan mempersalahkan Guru. Artinya jika ada murid bai’at kepada Guru kemudian murid itu tidak segera mendapat futuh, jangan sekali-kali menyangka yang bukan-bukan dan menyalahkan kepada Guru, akan tetapi teliti dan salahkanlah dirinya dan nafsunya sendiri. Sebab tidak adanya segera terfutuh itu, kemungkinan mengandung hikmah yang besar yang tidak diketahui. Bisa juga sebab diri sang murid masih sangat kotor karena masih sangat besar ta’aluqnya kepada aghyar (selain Allah).
  2. Murid tidak boleh menyembunyikan sesuatu dan keadaan dirinya kepada Guru, baik dhohir maupun batin, jika ada masalah (dalam hal ilmu, maisah -pekerjaan atau nafakah dan kesusahan pribadi) supaya berkata sejujurnya di hadapan Guru. Karena dengan itu Insya Allah Guru dapat memberi jalan keluar bagi masalahnya.
  3. Murid jangan sampai melakukan perkara yang menyebabkan mamqut atau mendapat murka dari Allah sebab ada ulama yang bersabda,” Innallaha yaghdlobu bi ghodobisy-syaikhi wa yardho li ridhoohu” (sesungguhnya Allah murka dengan murkanya sang Syaikh dan Allah pun akan ridho dengan ridhonya sang Syaikh).
  4. Murid agar meminta izin kepada Syaikh jika ingin melakukan suatu perkara. Terutama dalam hal perkawinan, pekerjaan dan tempat tinggal agar mendapat ridho dan doa restu dari sang Syaikh.
  5. Murid jangan membuat hati Gurunya ruwet atau susah dan berburuk sangka kepada Guru sebab semua tindakan Guru kepada murid itu pasti berdasarkan tujuan berbuat baik demi sang murid.
  6. Murid harus menetapi kepada Guru ketika berada di majelis zikir.Dan murid harus tanggap, athu diri terhadap perintah dan larangan Guru sehingga murid tidak perlu terlalu banyak bertanya atau meminta keterangan kepada Guru.
  7. Murid jangan menduakan Guru dengan seseorang di dalam masalah Mahabbah (kecintaan).
  8. Murid jangan hanya mujarodul i’tiqod artinya hanya mempunyai keyakinan yang baik kepada Guru, namun murid berusaha mempermudah segala perintah dan larangan Guru.
  9. Murid jangan sampai merubah dan berubah i’tiqod baiknya kepada Guru.

10.Murid harus mempunyai rasa dan merasakan, bahwa dia selalu haus membutuhkan ilmu sang Guru, walaupun si murid menjadi lebih alim atau lebih pandai.

11.Murid harus selalu memadukan hati di tawajjuh-kan kepada Allah, artinya selalu mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

12.Murid jangan mudah meninggalkan Guru. Sebab Sayyidi Syaikh Muhammad Wafa’ ra. Telah bersabda ,” Siapapun murid yang meninggalkan Guru, apalagi mendiamkan Guru maka murid tadi tidak bisa menerima bekas pengaruh (asrar), serta tidak bisa segera memperbaiki khotirul qolbi (gerakan hati).

13.Murid agar memperbanyak syukur kepada Allah jika murid tadi bisa sering berkumpul dengan Guru.

14.Murid jangan sampai mempersulit Guru pada waktu tarbiyah (pendidikan atau pelajaran). Artinya sang murid mendengarkan dan mentaati apa-apa yang disyaratkan Guru ketika ditarbiyah.

15.Murid jangan sampai mengatakan ”limaa” (mengapa) tentang suatu perkara kepada Guru. Seperti, mengapa Guru berkata seperti ini? Mengapa Guru bertindak seperti itu? dstnya. Sebab masyaikh thariqah telah mufakat bahwa murid yang mengucapkan lafal ”mengapa” kepada Guru, itu termasuk murid yang tidak beruntung di dalam bab thariqah.

16.Murid tidak boleh mempunyai i’tiqod bahwa ia dapat menandingi Gurunya, walaupun  dia telah berhikmah kepada Guru seribu tahun lamanya dan menafkahkan seluruh hartanya. Barangsiapa yang terlintas dalam hatinya seperti yang disebutkan tadi maka murid tersebut bisa khuruj anit thorieq atau keluar dari thariqah dan terhitung merusakkan janji atau bai’at.

17.Murid jangan datang kepada Guru, kecuali dia datang dengan membawa sifat tashdiq artinya mantap dan percaya kepada Guru. Walau sehari dapat menghadap seribu kali ia harus bisa mempunyai sifat tashdiq. Sebab Sayyidi Syaikh Ali bin Wafa’ telah berkata, ”Tidak adalagi murid yang menghadap Guru dengan hati yang tashdiq kecuali murid tadi menjadi golongan ahli dari Guru dan Guru tadi bisa juga menjadi wasilah terbukanya asrar sang murid disebabkan sifat tashdiq yang dimiliki oleh sang murid.”

18.Murid jika menghadap Guru harus mempunyai niat ihtida’ artinya meminta petunjuk kepada Guru, merasa dirinya sangat membutuhkan petunjuk Guru.

19.Murid jangan sampai mendahului berbicara kepada Guru kecuali darurat dan supaya sabar menunggu pertanyaan Guru dan ijin Guru untuk berbicara.

20.Murid harus menetapi tata krama adab kepada Guru jangan sampai sekalipun memberanikan diri meminta kepada Guru agar dirinya menjadi orang yang keramat atau menjadi wali atau menjadi khalifah dan jangan meminta Guru untuk memperlihatkan karomahnya karena siapapun yang meminta kepada Gurunya untuk memperlihatkan karomahnya berarti murid tidak percaya kepada sang Guru.

21.Murid jangan sampai memberatkan pendapat akalnya sendiri mengalahkan pendapat dan perkataan Guru.

22.Murid harus memiliki i’tiqod bahwa Gurunya merupakan ahli kamal atau sempurna.

23.Murid harus mendengarkan dan melaksanakan isyarat Guru dan harus sabar serta lapang dada jika Guru melarangnya melakukan suatu perkara.

24.Murid tidak boleh meneliti tindakan Guru dan ahwal (keadaan) Guru sebab meneliti ahwal Guru bisa menyebabkan mamqut.

25.Murid harus musholahah kepada Guru. Artinya jika Guru marah kepadanya harus segera shuluh (meminta maaf) walau murid tidak mengerti  kesalahannya.  Sebab murid yang tidak segera minta maaf atau meremehkan islah (damai) dengan Guru itu bisa menjadi khodzlan artinya rendah dan hina malah bisa menjadi sebab merosotnya maqam thariqahnya.

 

Didalam kitab Tarbiyyatul Muriddin wa tabyidis Salikin, menerangkan sebagai adabnya murid kepada guru Mursyidnya, yaitu:

  1. Mengagungkan Gurunya dhohiran wa bathinan. (lahir dan batin)
  2. Mengi’tiqodkan bahwa segala maksud serta upaya murid tidak akan berhasil, jika tidak sebab wasilah gurunya.
  3. Mengikuti, khidmat dan ridho dengan segala perintah Guru melakukan dengan badan dan hartanya.
  4. jangan menentang terhadap perkara yang dilakukan gurunya walaupun pada dhohirnya itu haram, bahkan harus dita’wilkan. Sesuai dengan kisah Nabiyullah Musa.as dengan Khidir.as yang diterangkan di dalam Al-Qur’an al-Karim surat al-Kahfi ;

øŒÎ)ur š^$s% 4Óy›qãB çm9tFxÿÏ9 Iw ßytö/r& #_¨Lym x÷è=ö/r& yìyJôftB Ç`÷ƒtóst7ø9$# ÷rr& zÓÅÓøBr& $Y7à)ãm ÇÏÉÈ   $£Jn=sù $tón=t/ yìyJøgxC $yJÎgÏZ÷t/ $u‹Å¡nS $yJßgs?qãm x‹sƒªB$$sù ¼ã&s#‹Î6y™ ’Îû ̍óst7ø9$# $\/uŽ|  ÇÏÊÈ   $£Jn=sù #y—ur%y` tA$s% çm9tFxÿÏ9 $oYÏ?#uä $tRuä!#y‰xî ô‰s)s9 $uZŠÉ)s9 `ÏB $tR̍xÿy™ #x‹»yd $Y7|ÁtR ÇÏËÈ   tA$s% |M÷ƒuäu‘r& øŒÎ) !$uZ÷ƒurr& ’n<Î) Íot÷‚¢Á9$# ’ÎoTÎ*sù àMŠÅ¡nS |Nqçtø:$# !$tBur çm‹Ï^9|¡øSr& žwÎ) ß`»sÜø‹¤±9$# ÷br& ¼çntä.øŒr& 4 x‹sƒªB$#ur ¼ã&s#‹Î6y™ ’Îû ̍óst7ø9$# $Y7pgx” ÇÏÌÈ   tA$s% y7Ï9ºsŒ $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£‰s?ö‘$$sù #’n?tã $yJÏd͑$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ   #y‰y`uqsù #Y‰ö6tã ô`ÏiB !$tRϊ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu‘ ô`ÏiB $tRωZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ   tA$s% ¼çms9 4Óy›qãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #’n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Y‰ô©â‘ ÇÏÏÈ   tA$s% y7¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÏÐÈ   y#ø‹x.ur çŽÉ9óÁs? 4’n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #ZŽö9äz ÇÏÑÈ   tA$s% þ’ÎT߉ÉftFy™ bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ   tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# Ÿxsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^ω÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.ό ÇÐÉÈ   $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym #sŒÎ) $t6Ï.u‘ ’Îû ÏpuZŠÏÿ¡¡9$# $ygs%tyz ( tA$s% $pktJø%tyzr& s-̍øóçFÏ9 $ygn=÷dr& ô‰s)s9 |M÷¥Å_ $º«ø‹x© #\øBÎ) ÇÐÊÈ   tA$s% óOs9r& ö@è%r& š¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÐËÈ   tA$s% Ÿw ’ÎTõ‹Åz#xsè? $yJÎ/ àMŠÅ¡nS Ÿwur ÓÍ_ø)Ïdöè? ô`ÏB “̍øBr& #ZŽô£ãã ÇÐÌÈ   $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym #sŒÎ) $u‹É)s9 $VJ»n=äñ ¼ã&s#tGs)sù tA$s% |Mù=tGs%r& $T¡øÿtR Op§‹Ï.y— ΎötóÎ/ <§øÿtR ô‰s)©9 |M÷¥Å_ $\«ø‹x© #[õ3œR ÇÐÍÈ   * tA$s% óOs9r& @è%r& y7©9 y7¨RÎ) `s9 yì‹ÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÐÎÈ   tA$s% bÎ) y7çGø9r’y™ `tã ¥äóÓx« $ydy‰÷èt/ Ÿxsù ÓÍ_ö6Ås»|Áè? ( ô‰s% |Møón=t/ `ÏB ’ÎoT߉©9 #Y‘õ‹ãã ÇÐÏÈ   $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym !#sŒÎ) !$u‹s?r& Ÿ@÷dr& >ptƒös% !$yJyèôÜtGó™$# $ygn=÷dr& (#öqt/r’sù br& $yJèdqàÿÍh‹ŸÒム#y‰y`uqsù $pkŽÏù #Y‘#y‰É` ߉ƒÌãƒ br& žÙs)Ztƒ ¼çmtB$s%r’sù ( tA$s% öqs9 |Mø¤Ï© |Nõ‹y‚­Gs9 Ïmø‹n=tã #\ô_r& ÇÐÐÈ   tA$s% #x‹»yd ä-#tÏù ÓÍ_øŠt/ y7ÏZ÷t/ur 4 y7ã¤Îm;tRé’y™ È@ƒÍrù’tGÎ/ $tB óOs9 ìÏÜtGó¡n@ ÏmøŠn=¨æ #·Žö9|¹ ÇÐÑÈ   $¨Br& èpoY‹Ïÿ¡¡9$# ôMtR%s3sù tûüÅ3»|¡yJÏ9 tbqè=yJ÷ètƒ ’Îû ̍óst7ø9$# ‘NŠu‘r’sù ÷br& $pkz:‹Ïãr& tb%x.ur Nèduä!#u‘ur Ô7Î=¨B ä‹è{ù’tƒ ¨@ä. >puZŠÏÿy™ $Y7óÁxî ÇÐÒÈ   $¨Br&ur ÞO»n=äóø9$# tb%s3sù çn#uqt/r& Èû÷üuZÏB÷sãB !$uZŠÏ±y‚sù br& $yJßgs)Ïdöãƒ $YZ»u‹øóèÛ #\øÿà2ur ÇÑÉÈ   !$tR÷Šu‘r’sù br& $yJßgs9ωö7ム$yJåk›5u‘ #ZŽöyz çm÷ZÏiB Zo4qx.y— z>tø%r&ur $YH÷q①ÇÑÊÈ   $¨Br&ur â‘#y‰Ågø:$# tb%s3sù Èû÷üyJ»n=äóÏ9 Èû÷üyJŠÏKtƒ ’Îû ÏpuZƒÏ‰yJø9$# šc%x.ur ¼çmtFøtrB ֔\x. $yJßg©9 tb%x.ur $yJèdqç/r& $[sÎ=»|¹ yŠ#u‘r’sù y7•/u‘ br& !$tóè=ö7tƒ $yJèd£‰ä©r& %y`̍÷‚tGó¡tƒur $yJèdu”\x. ZpyJômu‘ `ÏiB y7Îi/¢‘ 4 $tBur ¼çmçGù=yèsù ô`t㠓̍øBr& 4 y7Ï9ºsŒ ã@ƒÍrù’s? $tB óOs9 ìÏÜó¡n@ ÏmøŠn=¨æ #ZŽö9|¹ ÇÑËÈ

60. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya[885]: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

61. Maka tatkala mereka sampai ke Pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.

63. Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”.

64. Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

65. lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami[886].

66. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

67. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

68. dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

70. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

72. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.

73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

75. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

78. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

80. dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

81. dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

 

[885] Menurut ahli tafsir, murid Nabi Musa a.s. itu ialah Yusya ‘bin Nun.

[886] Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.

 

  1. Memilih apa yang menjadi pilihan Guru. Baik berupa ibadah atau adatjuz’iyyah atau kulliyah.
  2. Jangan membuka rahasia Guru walaupun telah tersebar ke orang banyak.
  3. Jangan mengi’tiqodkan terhadap kurangnya maqom Guru.
  4. Menjauhi perkara yang dibenci oleh Guru dan melakukan perjara yang disenangi Guru.

 

Adab Murid Terhadap Dirinya Sendiri, antara lain :

  1. Selalu merasa dilihat oleh Allah Ta’ala di dalam keadaan (tingkah lakunya) murid supaya dapat tersibukkan menjalankanlafal ”ALLAH ALLAH”  walaupun dalam keadaan bekerja.
  2. Mencari teman duduk yang baik, jangan duduk-duduk dengan orang yang buruk kelakuannya.
  3. Jangan berlebihan di dalam sandang pangan.
  4. Jangan tamak mengharapkan sesuatu barang yang berada dalam tangan orang lain.
  5. Jangan tidur dalam keadaan junub.
  6. Supaya me-langgeng-kan (nggantung wudhu) wudhu.
  7. Mengurangi / menyedikitkan tidur terlebih dalam waktu sahur.
  8. Jangan mujadalah ilmu (berdebat masalah ilmu) sebab itu dapat menyebabkan ghoflah (lupa) kepada Allah dan membutakan hati / menyebabkan hati menjadi gelap.
  9. Mau duduk-duduk bersama ikhwan ketika hati sedang sempit dan membicarakan adab thariqah.

10.Jangan tertawa terbahak-bahak.

11.Jangan (mujadalah ilmu / debat kusir).

12.Takut siksa Allah dan memohon ampunan-Nya. Jangan merasa telah bagus amalnya dan dzikirnya.

 

Adab Murid Terhadap Temannya dan Orang Islam Seluruhnya. Antara lain :

  1. Memulai mengucapkan salam dan berbicara yang baik.
  2. Rendah hati kepada temannya. Dan melihat bahwa dirinya lebih rendah dari temannya.
  3. Saling menolong dengan temannya dalam amal kebaikan dan taqwa serta cinta kepada Allah.
  4. Dapat menerima alasan temannya (dapat memberi maaf kepada temannya).
  5. Mau mendamaikan teman-temannya yang sedang bertengkar.
  6. Menjenguk ketika temannya sakit dan ber-ta’ziah ketika temannya meninggal.
  7. Baik persangkaannya kepada temannya.
  8. Menepati janji kepada temannya.

TALQIN

 

Dzikir yang diucapkan / diamalkan itu harus hasil dari menirukan ucapan Guru ketika dibai’at. Karena dengan begitu berarti pengakuan bahwa dalam berdzikir itu dia hanya mengikuti atau berjamaah, bukan rekayasa sendiri atau berdiri sendiri. Adapun faedah talqin dzikir atau bai’at dzikir itu ada dua (2) macam yaitu faidah umum dan faidah khusus.

Di sini yang perlu diterangkan adalah faidah yang umum. Ketahuilah bahwa dengan mentalqinkan dzikir/berbai’at kepada seorang Guru mursyid berarti engkau masuk silsilahnya para muthasowiffin, yang artinya masuk dalam kalangan para wali Allah. Jadi jika engkau bai’at thariqah berarti engkau turut melakukan perkara yang dijalankan para kekasih Allah yang agung-agung.

Perumpamaan orang dzikir yang telah ditalqin/dibai’at oleh guru mursyid itu, seperti sebuah lingkaran rantai yang saling bergandengan hingga kepada induknya; pokoknya yaitu Baginda Nabi Rasulullah SAW. Jadi seumpama induknya diseret atau digoyang maka gandengannya akan turut tertarik. Sebagaimana rantai jika di depan ditarik maka yang belakang pun akan turut tertarik.

Dan silsilah para wali sampai kepada Rasulullah SAW itu bagaikan sebuah lingkaran dari lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan. Berbeda dengan dzikir yang belum bertalqin/berbai’at kepada seorang guru mursyid, ibarat anak rantai yang terpisah. Seumpama yang didepan itu ditarik, maka yang lain tidak akan ikut tertarik. Karena itu kita semua perlu bersyukur kepada Allah SWT bagi yang telah diberi kesempatan berbai’at atau ghirah (semangat) dan kemauan untuk berbai’at kepada seorang guru mursyid. Begitu pula perlu bersyukur kepada Allah SWT bagi kita yang telah diperkenankan olehnya mengenal dan mengetahui tentang thariqah berikut dengan adab tata caranya. Tinggal kewajiban kita untuk beristiqomah menjalaninya serta senantiasa menjaga dan menjalankan syari’at dengan sungguh-sungguh. Dan hendaknya juga dapat istiqomah didalam murabithah (merekatkan hubungan) dengan guru mursyid kita masing-masing.

 

Adab Murid Terhadap Guru Mursyidnya di dalam Kitab al-Adab Fii ad-Diin, Imam Abu Hamid Ghazali rhm. :

  1. Mendahului Gurunya di dalam memberi salam.
  2. Tidak banyak berbicara di hadapannya.
  3. Berdiri untuk menghormatinya manakala Gurunya berdiri.
  4. Tidak mengatakan atau mengungkapkan kepada Guru ”pernyataan si fulan (Guru atau Syaikh yang lain) berlawanan dengan pernyataan Anda”.
  5. Tidak bertanya atau berbicara pada temannya yang berada dalam satu majelis dengan Gurunya.
  6. Tidak tersenyum ketika ia berbicara (serius).
  7. Tidak menampakkan pendapat yang berbeda dengan Gurunya.
  8. Tidak memegangi / menarik bajunya.
  9. Tidak bertanya tentang sesuatu persoalan di jalanan, hingga Guru sampai ke rumah.

10.Tidak banyak bertanya saat Guru sedang jenuh atau lelah.

Di dalam Kitab Risalah Al Wa’dhiyyah, Imam Ghazali menerangkan tata krama murid :

  1. Mendahulukan kesucian hati dari akhlak yang rendah dan sifat tercela, karena ilmu adalah ibadah dan sholatnya dari hati dan pendekatan batin (tawajjuh) kepada Allah.
  2. Memperkecil keterkaitan hati atau ta’aluq kepada kesibukan dunia. Dikatakan.” Ilmu tidak akan memberimu sebagian sampai kamu memberikan kepadanya keseluruhan”.
  3. Tidak menyombongkan ilmunya dan tidak membangkang kepada Gurunya. Tetapi tunduk dan patuh kepada nasihatnya seperti patuhnya pasien yang parah kepada dokter yang ahli.
  4. Penuntut ilmu yang masih pemula, hendaknya menghindari perbedaan pendapat ulama, baik berkaitan dengan ilmu dunia maupun ilmu akhirat.
  5. Seorang murid hendaknya tidak meninggalkan satu ilmu dari ilmu-ilmu yang terpuji dan tidak meninggalkan seluruhnya, kecuali melakukan kajian akan maksud dan tujuannya terlebih dahulu. Jika ada waktu ia dapat mendalaminya jika tidak maka mengambil yang terpenting saja.
  6. Tidak mempelajari suatu ilmu sekaligus, tetapi hendaknya secara berkala atau berjenjang dimulai dengan yang awal dan yang terpenting serta mengambil yang terbaik dari semuanya.
  7. Tidak mendalami suatu jenjang ilmu di atasnya sebelum jenjang ilmu di bawahnya dikuasai karena pada hakikatnya ilmu-ilmu itu disusun secara runut.
  8. Mengetahui faktor-faktor yang dengannya dapat mengetahui ilmu-ilmu yang terbaik.
  9. Niat murid hendaknya untuk memperbaiki lahir-bathin dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

10. Hendaknya mengetahui bahwa hubungan suatu ilmu pengetahuan dengan niat pemiliknya (penyusun).

 

Di dalam Kitab At-Tasawuf fii al-Islam, Al Mursyid Sayyidi Syaikh Abdul Halim Mahmud asy-Syadzali ra. Berwasiat bagi para murid :

Langkah awal yang harus dijalani dan diperhatikan oleh para murid (orang yang berkehendak menuju Allah SWT) thariqah ini melangkah di atas jalan kejujuran hati yang benar agar mampu membangun berdasarkan prinsip yang shahih. Para Syaikh Tasawuf berkata,” Mereka terhalang untuk wushul (sampai kehadirat Allah Ta’ala) karena menyia-nyiakan ushul (prinsip-prinsip akidah).

Sayyidi Syaikh Abu Ali Ad-Daqqaq rhm. Berkata,”Awal kewajiban yang harus diperhatikan oleh murid adalah meluruskan akidah antara dirinya dengan Allah Ta’ala, bersih dari segala dugaan dan syirik, jauh dari kesesatan dan bid’ah, menuangkan berbagai bukti dan hujjah. Seorang murid menjadi cela bila ia mengaitkan diri pada suatu mazhab yang bukan mazhab dari thariqah ini. Hal ini karena hujjah dalam persoalan mereka lebih jelas daripada siapapun. Kaidah mereka lebih kuat dibanding mazhab manapun.”

 

Manusia adakalanya terpukau pada ayat dan hadist, adakalanya cenderung pada penggunaan akal dan pikiran. Sementara itu para Syaikh golongan tasawuf thariqah melampaui semunya. Bagi manusia pada umumnya, sesuatu bisa saja tampak ghaib, namun pada kalangan sufi thariqah hal itu tampak jelas. Bagi khalayak, pengetahuan merupakan tumpuan, namun bagi kalangan sufi thariqah, pengetahuan maujud dari Allah-lah Yang Maha Haqq. Karena mereka adalah kalangan yang selalu bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla (ahlul wishol- ahli wushul). Sementara manusia pada umumnya berpihak pada pencarian bukti (ahlul istidlal).

 

Syarat Bai’at Thariqah :

  1. Aqil Baligh (umur lebih dari 18 tahun)
  2. Wanita yang sudah menikah harus mendapat izin dari suaminya
  3. Sebelum bai’at berpuasa sunah 3 hari : Senin, Selasa, Rabu atau Selasa, Rabu, Kamis.

 

Sebelum bai’at berniat :

  1. Niat wushul kepada Allah dengan mahabbah kepada Rasulullah SAW dengan cara ikut thariqah Syadzaliyah.
  2. Niat meninggalkan dosa besar dan mengurangi dosa kecil.
  3. Niat Takdzim kepada para Guru, Sholihin dan Auliya.

 

Awrad Thariqah :

  1. Diamalkan pada waktu ba’da (setelah) sholat Subuh dan ba’da sholat Maghrib.
  2. Jika kelupaan tidak diamalkan maka wajib diqodho (diganti).
  3. Ketika mau mengamalkannya harus dalam kondisi berwudhu atau suci. Dan posisinya duduk seperti tahiyat awal atau akhir.

 

Adab ketika berdoa kepada Allah selalu memohon :

  1. Minta diatur Allah di dalam agama, dunia dan akhirat.
  2. Minta dicukupkan oleh Allah di dalam agama, dunia dan akhirat.
  3. Minta diselamatkan oleh Allah di dalam agama, dunia dan akhirat.

 

Suluk Thariqah Syadzaliyah :

  1. Belajar atau mengajar, baik ilmu agama maupun ilmu umum.
  2. Diusahakan shalat fardhu berjama’ah.
  3. Membaca Al-Qur’an setiap hari walau hanya satu ayat.

 


DZIKIR

A. Pengertian Dzikir

Yang dimaksud dzikir di dalam thariqah adalah bacaan “Allah” atau bacaan “La ilaaha illallah”. Dzikir dengan bacaan ‘Allah'; yang biasanya dilakukan didalam hati, disebut dengan Dzikir Sirri atau Dzikir Khofi atau Dzikir Ismuz-Dzat, yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Sedang dzikir dengan bacaan ‘Laa ilaaha illallah'; yang biasanya dilakukan secara lisan , disebut Dzikir jahri atau Dzikir Nafi Itsbat, yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah. Kedua jenis dzikir dari kedua sahabat inilah yang menjadi sumber utama pengamalan thariqah, yang terus menerus bersambung sampai sekarang, kepada kita semua.

 

B. Talqin Dzikir

Di dalam thariqah ada yang disebut Talqinudz Dzikr, yakni pendiktean kalimat dzikir La ilaaha illallah dengan lisan (diucapkan) dan atau pendiktean Ismudz-Dzat lafadh Allah secara bathiniyah dari seorang Guru Mursyid kepada muridnya. Dalam pelaksanaan dzikir thariqah, seseorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang muttasil (bersambung) dari guru mursyidnya yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Penisbatan (pengakuan adanya hubungan) seorang murid dengan guru mursyidnya hanya bisa terjadi melalui talqin dan ta’lim(belajar) dari seorang guru yang telah memperoleh izin untuk memberikan ijazah yang sah yang bersandar sampai kepada Guru Mursyid Shohibut Thariqoh, yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Karena dzikir tidak akan memberikan faedah yang sempurna kecuali melalui talqin dan izin dari seorang guru mursyid. Bahkan mayoritas ulama thariqoh menjadikan talqin dzikir ini sebagai salah satu syarat dalam berthariqoh. Karena sirr(rahasia) dalam thariqoh sesungguhnya adalah keterikatan antara satu hati dengan hati yang lainnya sampai kepada Rasulullah SAW, yang bersambung sampai ke hadirat Yang Maha Haqq, Allah Azza wa jalla.

Dan seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir yang juga lazim disebut dengan bai’at dari seorang guru mursyid, berarti dia telah masuk silsilahnya para kekasih Allah yang agung. Jadi jika seseorang berbai’at Thariqoh berarti dia telah berusaha untuk turut menjalankan perkara yang telah dijalankan oleh mereka.

Perumpamaan orang yang berdzikir yang telah ditalqin/dibai’at oleh guru mursyid itu seperti lingkaran rantai yang saling bergandengan hingga induknya, yaitu Rasulullah SAW. Jadi kalau induknya ditarik maka semua lingkaran yang terangkai akan ikut tertarik kemanapun arah tarikannya itu. Dan silsilah para wali sampai kepada Rasulullah SAW itu bagaikan sebuah rangkaian lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan.

Berbeda dengan orang yang berdzikir yang belum bertalqin/berbai’at kepada seorang guru mursyid, ibarat anak rantai yang terlepas dari rangkaiannya. Seumpama induk rantai itu ditarik, maka ia tidak akan ikut tertarik. Maka kita semua perlu bersyukur karena telah diberi ghirah (semangat) dan kemauan untuk berbai’at kepada seorang guru mursyid. Tinggal kewajiban kita untuk beristiqomah menjalaninya serta senantiasa menjaga dan menjalankan syari’at dengan sungguh-sungguh. Dan hendaknya juga dapat istiqomah didalam murabithah (merekatkan hubungan) dengan guru mursyid kita masing-masing.

 

C. Dasar Talqin Dzikir

Di dalam mentalqin dzikir, seorang guru mursyid dapat melakukannya kepada jama’ah (banyak orang) atau kepada perorangan. Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW telah mentalqin para sahabatnya, baik secara berjama’ah maupun perorangan.

Adapun talqin Nabi SAW kepada para sahabatnya secara jama’ah sebagaimana diriwayatkan dari Syidad bin Aus RA: “Ketika kami (para sahabat) berada di hadapan Nabi SAW, beliau bertanya: “Adakah di antara kalian orang asing?” (maksud beliau adalah ahli kitab), aku menjawab: “Tidak.” Maka beliau menyuruh untuk menutup pintu, lalu berkata: “Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah La ilaaha illallah!” Kemudian beliau melanjutkan: “Alhamdulillah, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini (La ilaaha ilallah), Engkau perintahkan aku dengannya dan Engkau janjikan aku surga karenanya. Dan sungguh Engkau tidak akan mengingkari janji.” Lalu beliau berkata: “Ingat! Berbahagialah kalian, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.”

Sedangkan talqin Beliau kepada sahabatnya secara perorangan adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Yusuf Al-Kirwany dengan sanad yang sahih bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah memohon kepada Nabi SAW : “Ya Rasulullah, tunjukkan aku jalan yang paling dekat kepada Allah, yang paling mudah bagi para hambaNya dan yang paling utama di sisiNya!” Maka beliau menjawab: “Sesuatu yang paling utama yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah La illaaha illallaah. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi berada diatas daun timbangan dan La illaaha illallaah diatas daun timbangan satunya, maka akan lebih beratlah ia (La illaaha illallaah),”  lalu lanjut beliau: “Wahai Ali, kiamat belum akan terjadi selama di muka bumi masih ada orang yang mengucapkan kata Al­lah.” Kemudian Sahabat Ali berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku berdzikir menyebut Allah?,” Beliau pun menjawab: “Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, lalu tirukan tiga kali dan aku akan mendengarkannya.” Kemudian Nabi SAW mengucapkan La ilaaha illallah tiga kali dengan memejamkan kedua mata dan mengeraskan suara beliau, lalu Sahabat Ali bergantian mengucapkan La illaaha illallaah seperti itu dan Nabi SAW mendengarkannya. Inilah dasar talqin dzikir jahri (La illaaha illallaah).

Adapun talqin dzikir qolbi yakni dengan hati tanpa menggerakkan lisan dengan itsbat tanpa nafi, dengan lafadh Ismudz-Dzat (Allah) yang diperintahkan Nabi SAW dengan sabdanya: “Qul Allah tsumma dzarhum” (Katakan “Allah” lalu biarkan mereka), adalah dinisbatkan kepada Ash-­Shiddiq Al-Adhom (Abu Bakar Ash-Shiddiq RA) yang mengambilnya secara batin dari Al-Mushthofa SAW. Inilah dzikir yang bergaung mantap di hati Abu Bakar. Nabi SAW bersabda: “Abu Bakar mengungguli kalian bukan dikarenakan banyaknya puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang bergaung mantap di dalam hatinya.” Inilah dasar talqin dzikir sirri.

Semua aliran thariqah bercabang dari dua penisbatan ini, yakni nisbat kepada Sayyidina Ali karramallahu wajhah untuk dzikir jahri dan nisbat kepada Sayyidina Abu Bakar RA untuk dzikir sirri. Maka kedua beliau inilah sumber utama dan melalui keduanya pertolongan Ar-Rahman datang. Nabi SAW mentalqin kalimah thoyyibah ini kepada para sahabat radliallahu ‘anhum untuk membersihkan hati mereka clan mensucikan jiwa mereka, serta menghubungkan mereka ke hadirat Ilahiyah (Allah) dan kebahagiaan yang suci murni. Akan tetapi pembersihan dan pensucian dengan kalimat thoyyibah ini atau Asma-asma Allah lainnya itu, tidak akan berhasil kecuali apabila si pelaku dzikir menerima talqin dari syaikhnya yang alim, amil, kamil, fahim terhadap makna Al-Qur’an dan syari’ah, mahir dalam hadits atau sunnah dan cerdas dalam hal ‘aqidah dan ilmu kalam, dimana syekh tersebut juga telah menerima talqin kalimah thoyyibah tersebut dari syaikhnya yang terus bersambung dari syaikh agung yang satu dari syaikh agung lainnya sampai kepada Rasulullah SAW.

 

 

D. Adab Berdzikir

Untuk melaksanakan dzikir di dalam thariqah ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni Adab Berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al-Mafakhir Al-Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan pada fasal Adabudz-dzikr, sebagaimana dituturkan oleh Asy-Syekh Abdul Wahab Sya’rani.ra bahwa adab berdzikir itu banyak, tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum berdzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir dan 3 (tiga) adab dilakukan setelah selesai berdzikir.

 

Adapun 5 (lima) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah;

1.   Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya baik yang berupa ucapan, perbuatan maupun keinginan.

2.   Mandi dan atau wudlu.

3.   Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam berdzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan La ilaaha illallah.

4.   Menyaksikan dengan hatinya -ketika sedang melaksanakan dzikir ­terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.

5.   Meyakini bahwa dzikir thariqah yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat dari Rasulullah SAW, karena syaikhnya adalah na’ib (pengganti/wakil) dari beliau.

 


Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan di saat melakukan dzikir adalah;

1.   Duduk di tempat yang suci seperti duduknya di dalam shalat.

2.   Meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua pahanya.

3.   Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula pakaian di badannya.

4.   Memakai pakaian yang halal dan suci.

5.   Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.

6.   Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dhohir, karena tertutupnya indra dhohir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati/bathin.

7.   Membayangkan pribadi guru mursyidnya di antara kedua matanya. Dan ini menurut Para ulama thariqah merupakan adab yang sangat penting. (rabithah)

8.   Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) ataupun ramai (banyak orang). Bukannya kalau ramai banyak orang perasaannyaketika berdzikir lebih baik dan hebat, karena dilihat banyak orang ketimbang ketika sepi.

9.  Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan, seorang yang berdzikir akan sampai pada derajat Ash-Shiddi’qiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbersit didalam hatinya -berupa kebaikan dan keburukan­ kepada syaikhnya. Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti ia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan batiniyah).

10. Memilih shighot dzikir bacaan Laa ilaaha illallah, karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan-bacaan dzikir syar’i lainnya.

11. Menghadirkan makna dzikir di dalam hatinya.

12. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah, agar pengaruh kata ”illallah” terhujam di dalam hati dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.

 

Dan 3 (tiga) adab setelah berdzikir adalah;

1.  Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzikr. Para ulama thariqah berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar daripada apa yang dihasilkan oleh riyadlah dan mujahadah tiga puluh tahun.

2.  Mengulang-ulang pernafasannya berkali-kali. Karena hal ini -menurut para ulama thariqah- lebih cepat menyinarkan bashi’rah, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan-bisikan hawa nafsu dan syetan.

3.  Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat) di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq dan tahyij (rasa rindu dan gairah) kepada Al-Madzkur/Allah yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.

Para Guru Mursyid berkata: “Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tatakrama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan itu.” Wallahu a’lam.

 

 

Keterangan:

1.   Himmah para syaikh/guru mursyid adalah keinginan para beliau agar semua muridnya bisa wushul kepada Allah SWT.

2.   Sikap duduk pada waktu melakukan dzikir ada perbedaan antara aliran thariqah satu dengan lain-nya, bahkan antara satu mursyid dengan lainnya dalam satu aliran thariqah. Ada yang menggunakan cara duduk seperti duduk didalam shalat (tawarruk dan iftirasy), ada yang dengan tawarruk dibalik artinya kaki kanan yang dimasukkan dibawah lutut kiri, ada yang dengan duduk murobba’ (bersila) dan ada yang dengan cara seperti saat dibai’at oleh mursyidnya. Oleh karena itu maka sikap duduk didalam berdzikir bisa dilakukan sesuai dengan petunjuk guru mursyidnya masing-masing.

3.   Membayangkan pribadi syaikhnya seakan berada di hadapannya pada saat melakukan dzikir, yang lazim disebut “rabithah” atau “tashawwur” bagi seorang murid thariqah. Hal tersebut lebih berfaidah clan lebih mengena daripada dzikirnya itu. Karena syaikh adalah washillah/ perantara untuk wushul ke hadirat Sang Maha Haq ‘azza wa jalla bagi si murid, dan setiap kali bertambah wajah kesesuaian bayangannya bersama syaikhnya maka bertambah pula anugerah-anugerah dalam bathiniyahnya, dan dalam waktu dekat akan sampailah dia pada apa yang dicarinya (Allah). Dan lazimnya bagi seorang murid untuk fana’/lebur lebih dahulu dalam pribadi syaikhnya, kemudian setelah itu dia akan sampai pada fana’/lebur pada Allah ta’ala. Wallahu a’lam.

4.   Yang dimaksud dengan waridudz-dzrkr adalah adalah segala sesuatu yang datang/muncul di dalam hati berupa makna-makna atau pengertian-pengertian setelah berdzikir yang bukan dikarenakan oleh usaha kerasnya si pelaku dzikir.

 

Muhimmah, Tanda-tanda murid yang beruntung ada tiga :

 

  1. Cinta kepada guru bil itsar, artinya mementingkan kehendak guru mengalahkan kepentingannya sendiri.
  2. Apa yang menjadi kehendak dan perintah guru yang baik diterimanya dengan  hati yang lapang dan niat laa hawla quwwata illa billahil ’aliyyil adzhim.
  3. Sesuai di dalam setiap perkara yang dikerjakannya dengan yang dimaksudkan oleh gurunya.

 

demikian informasi yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi

 wabarakatuh,

THARIQAH QADIRIYAH

Thariqah Qadiriyah

Mu’assis (pendiri) Thariqah Qodiriyah adalah Wali Agung Sayyid Syaikh Abdul Qodir bin Musa Al-Jilany radhliallahu ‘anhu (470 – 561 H). Jalur nasab ayahnya sampai pada Sayyidina Hasan, sedang ibunya sampai Sayyidina Husein.

Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh dan prinsip-prinsip yang benar untuk thariqahnya yang agung dalam kitabnya Al-Ghaniyyah li Tholibii Thoriqil-Haq dan kitabnya Al-Fath Ar-Rabbany wal Faidl Ar-Rahmany.

Disamping itu beliau juga perintahkan para muridnya untuk berdzikir kepada Allah pada malam hari, siang hari dan setelah shalat lima waktu, agar dapat wushul kepadaNya.

Diantara nasehat-nasehatnya yang terabadikan antara lain;

“Janganlah seseorang menghukumi syirk, kufur atau nifaq kepada satu orangpun dari ahli qiblat (orang yang melaksanakan shalat). Karena hal itu akan mendekatkan pada sikap kasih sayang dan akan meninggikan derajat, serta memudahkan dari memasuki ilmu Allah, menjauhkan dari murka Allah dan mendekatkan pada ridla dan rahmatNya. la adalah pintu keagungan dan kemuliaan di sisi Allah, yang akan menyebabkan seorang hamba bersikap kasih sayang kepada makhluk semuanya.”

“Belajarlah fiqh, kemudian ‘uzlahlah.”

“Amal saleh adalah orang yang bisa srawung (bergaul) dengan Allah dengan kejujuran”

“Hakekat syukur adalah pengakuan terhadap kenikmatan dari Sang Pemberi nikmat.”

 

Thariqah Qodiriyah ini penganutnya tersebar meluas di Iraq, Mesir, Sudan, Libiya, Tunisia, Al-Jazair, Daratan Afrika dan juga di Indonesia.

wiridnya, selain ada yang harian, mingguan dan bulanan.

hariannya, membaca 165 dzikir tauhid setiap sehabis sholat 5 waktu.

mingguannya, melakukan tawajuhan

bulanannya, membaca manaqib Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani.rhm

 

demikan penjelasan dari kami. Semoga bermanfaat

 

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

THARIQAH NAQSYABANDIYAH

Thariqah Naqsyabandiyah

Peletak dasar Thariqah Naqsyabandiyah ini adalah Al-‘Arif billah Asy­ Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syaah Naqsyabandy Al-Uwaisi Al-Bukhori radhliallahu ‘anhu (717 – 865 H).

Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al-Khoni.ra dalam bukunya Al-Hadaaiq Al-Wardiah bahwa Thariqah Naqsyabandiyah ini adalah thariqahnya para sahabat yang mulia radliallahu ‘anhum sesuai aslinya, tidak menambah clan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus-red) ibadah lahir- batin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah (kemudahan/dispensasi) dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah ta’ala dan mengikuti Nabi SAW dengan segala yang beliau sabdakan dan memperbanyak dzikir qolby.

Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qolbiyah (menggunakan hati). Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah ta’ala semata dengan tanpa riya ; dan mereka tidak menyatakan suatu perkataan dan tidak membaca suatu wirid kecuali dengan dalil atau sanad dari Kitab Allah ta’ala atau sunnah NabiNya, Muhammad SAW.

Asy-Syaikh Mushthafa bin Abu Bakar Ghiyatsuddin An-Naqsyabandi.ra menyatakan dalam risalahnya Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyah Thariqah Muhammadiyah bahwa thariqah ini memiliki tiga marhalah;

a.         Hendaklah anggota badan kita berhias dengan dhohirnya syari’ah Muhammadiyah.

b.         Hendaklah jiwa-jiwa kita bersih dari nafsu-nafsu yang hina, yaitu hasad, thama’, riya’, nifaq dan ‘ujub pada diri sendiri. Karena hal itu merupakan sifat yang paling buruk dan karenanya Iblis mendapatkan laknat.

c.          Berteman dengan para shodiqin (orang orang yang berhati jujur).

Thariqah Naqsyabandiyah ini mempunyai banyak cabang aliran thariqah di Mesir dan menyebar luas ke Iraq dan berpusat di Kota Arbil.

Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah

Untuk memasuki dan mengambil dzikir dari Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini, seseorang harus melaksanakan kaifiah atau tata cara sebagai berikut;

1.      Datang kepada calon guru mursyid untuk meminta izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izin dan perkenannya.

2.      Mandi taubat setelah shalat Isya’ sekaligus berwudlu’ yang sempurna.

3.      Shalat Hajat dua raka’at dengan niat masuk thariqah. Setelah Al-Fatihah, membaca surat Al-Kafirun pada raka’at pertama clan surat Al-Ikhlas pada raka’at kedua.

4.      Setelah salam membaca:

Dan dilanjutkan membaca istighfar 5 kali, atau 15 kali, atau 25 kali.

5.      Membaca Al-Fatihah sekali dan Surat AI-Ikhlas 3 kali, dengan niat menghadiyahkan pahalanya kepada Hadlratzrsy-Syarkh Muhammad Baha’uddin An-Naqsyabandi, serta memohon pertolongannya mudah­ mudahan keinginannya masuk thariqah diterima.

6.      Tidur miring kekanan dengan menghadap kiblat.

Setelah prosesi tersebut dilaksanakan, maka selanjutnya menghadap calon guru mursyidnya lagi untuk mendapatkan petunjuk dan pengarahan lebih lanjut, yang kemudian setelah itu akan dilakukan talqin dzikir atau bai’at dari sang guru mursyid itu kepadanya.

Setelah menerima talqin dzikir atau bai’at, maka dia sudah tercatat sebagai anggota Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini, yang mempunyai kewajiban untuk mengamalkan wirid-wirid sebagai berikut:

a.      Membaca istighfar 5 kali, atau 15 kali, atau 25 kali.

b.      Membaca Al-Fatihah sekali dan 5urat Al-Ikhlas 3 kali, yang dihadiahkan kepada para guru mursyid thariqah ini sejak zaman ini sampai kepada Rasulullah shallallahu alarhi wa sallam, khususnya Hadlratusy-Sqaikh Muhammad Baha-uddin An-Naqsyabandi.

c.       Kedua bibir dirapatkan sambil lidah ditekan dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat dengan berbagai kerepotannya.

d.      Rabithah kepada Guru Mursyid.

e.      Menenangkan dan mengkonsentrasikan hati untuk senantiasa ingat Allah.

f.        Munajat dengan hatinya membaca:

g.      Kemudian dengan hatinya mewiridkan Ismudz-Dzat (Allah…, Allah-, Allah …) 5000 kali, dengan tanpa menggerakkan lidah, bibir clan seluruh anggota tubuhnya kecuali jari penunjuk untuk menarik hitungan tasbih. Dan setiap hitungan 100 diselingi membaca;

h.      Setelah selesai wirid, diam sejenak dan rabithah Guru Mursyid disertai permohonan anugerah barakahnya, kemudian berdo’a sebagai berikut:

Keterangan:

-          Pelaksanaan pembacaan aurad (wirid-wirid) tersebut dilakukan sehari sekali, waktunya bebas yang penting dicari waktu yang bisa istiqomah. –         Sikap duduk pada saat membaca arrrad tersebut adalah dengan duduk tawarruk shalat terbalik, artinya telapak kaki kanan dimasukkan dibawah lutut kaki kiri, kecuali ada udzur.

-          Para murid pemula cukup mengamalkan aurad tersebut. Sedang untuk murid yang sudah meningkat ajarannya, akan mendapatkan ajaran dzikir lainnya seperti Dzikir Latha-if, Dzikir Nafi Itsbat, Dzikir Wuquf, Dzikir Muroqobah Muthlaq, Dzikir Muroqobah Ahadiyatul Af’aal, Dzikir Muroqobah Ma’iyyah dan Dzikir Tahlil bil-lisan.

-    Di samping itu masih ada ajaran muroqobah, yaitu Muroqobah Aqrobiyah, Muroqobah Ahadiyah Adz-

      Dzat Ash-Shomad dan Muroqobah Ahadiyah Adz ­Dzat Ash-Shrifwal-Baht

-          Disamping ada juga ajaran Suluk, Khawajikan dan Tawajjuhan, yang semua hal tersebut diatas

secara terperinci dapat dibaca dalam kitab Risalah Mubarakah, yang disusun oleh Kiai Muhammad

Hambali Sumardi Al-Quddusi.

Suluk Thariqah

Disini penulis merasa perlu untuk memaparkan pelaksanaan suluk dalam Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini, karena ada aturan-aturan tertentu dalam kaifiah atau tata caranya, yaitu sebagai berikut;

1.  Memperoleh izin dari guru mursyid atau izin dari orang telah mendapat ijazah dari guru mursyidnya

untuk mengajarkan suluk.

2.  Kholwah, artinya menyepi atau memisahkan diri dari anak istri dan saudara-saudaranya yang tidak

sedang melakukan suluk.

3.  Berniat suluk untuk selama 40 hari, atau 20 hari atau minimal 10 hari, dengan niatan sebagai

berikut:

Sedangkan rukun-rukun suluk yang harus dipenuhi adalah;

a. Menyedikitkan bicara yang tidak perlu dan tidak ada manfaatnya.

b. Menyedikitkan makan, namun juga jangan sampai kelaparan sehingga tidak kuat melaksanakan

ibadah atau dzikir.

c. Menyedikitkan tidur, artinya mengurangi tidur seperti yang biasanya dilakukan.

d. Melanggengkan dzikir siang malam dengan memperhatikan adab dan tata kramanya, dengan jumlah

dzikir sesuai dengan tingkatan pengajarannya.

e. Tawajjuhan 3 kali sehari semalam, yaitu

1)      Setelah shalat Isya’ dengan terlebih dahulu mengkhatamkan khawajakan selain malam Selasa dan Jum’at,

2)      Pada waktu sahur setelah khataman selain malam Selasa dan Jum’at dan

3)      Setelah Dzuhur dengan tanpa khataman khawajakan. Setelah ‘Ashar khataman khawajakan saja.

Disamping itu ada adab atau tata krama suluk yang juga harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut;

a.      Ketika akan melakukan suluk, hendaknya minta izin dahulu kepada guru mursyidnya.

b.      Mandi taubat dan berwudlu yang sempurna.

c.       Shalat hajat dua raka’at dengan niat memasuki suluk.

d.      Ketika masuk ke tempat kholwat, membaca ta’awudz dan basmalah dengan ikhlas.

e.      Niat bersungguh-sungguh dalam ibadah dan memenjarakan nafsu.

f.        Melanggengkan wudhlu’ (suci).

g.      Tidak berbicara kecuali dzikrullah.

h.      Melanggengkan rabithah kepada guru mursyid.

i.         Sungguh-sungguh memperhatikan shalat Jum’at, jama’ah lima waktu, shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah dan shalat-shalat sunnat lainnya yang muakkadah.

j.        Melanggengkan dzikir, baik jahri maupun sirri; baik dzikir nafi itsbat maupun dzikir Ismudz-Dzat.

k.       Membiasakan tidak tidur. Artinya tidak tidur kecuali sangat kantuk dan kalaupun tidur niatnya untuk menghilangkan capeknya badan.

l.         Tidak menyandarkan tubuhnya pada sesuatu dan tidak tiduran diatas lemek (tikar atau lainnya).

m.     Ketika keluar (dari tempat khalwahnya) menundukkan kepala dan tidak melihat-lihat sesuatu kecuali ada perlu.

n.      Ketika berbuka, tidak memakan makanan yang berasal dari yang bernyawa.

Catatan:

-          Keterangan tentang Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini dinukil dari kitab Risalah Mubarakah yang disusun oleh Kyai Muhammad Hambali Mawardi Al-Quddusi, disamping juga penjelasan dari K.H.M.Salman Dahlawi, seorang mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren “Al-Manshur”, Popongan, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.

-          Untuk kegiatan sulukdan tawajjuhan khusus di tempat K.H. M. Salman Dahlawi diadakan 3 kali dalam setahun, yaitu Bulan Muharram, Rajab dan Ramadlan.

-          Untuk kegiatan tawajjuhan umum diadakan sekali dalam seminggu, yaitu setiap hari Selasa sebelum Dhuhur (antara jam 11.00 sampai 12.00).

-          Untuk kegiatan bai’at bisa dilakukan setiap saat, kecuali bulan-bulan suluk.

Adapun sanad kemursyidan K.H. M. Salman Dahlawi adalah sebagai berikut:

K.H.M. Salman Dahlawi dari Syaikh Manshur dari Syaikh Muhammad Al-­Hadi dari Syaikh Sulaiman Az-Zuhdi dari Syaikh Ismail Al-Barusi dari Syaikh Sulaiman Al-Quraimi dari Syaikh Khalid Al-Baghdadi dari Syaikh Abdullah Ad-Dahlawi dari Syaikh Habibillah dari Syaikh Nur Muhammad Al-Badwani dari Syaikh Saifiddin dari Syaikh Muhammad Ma’shum dari Syaikh Ahmad Al-Faruqi dari Syaikh Muhammad AI-Baqi Billah dari Syaikh Muhammad Al-Khawajiki dari Syaikh Darwisy Muhammad dari Syaikh Muhammad Az-Zahid dari Syaikh Ubaidillah Al-Ahrar dari Syaikh Ya’qub Al-Jarhi dari Syaikh Muhammad bin ‘Alauddin Al-‘Atthar dari Syaikh Muhammad Baha-uddin An­Naqsyabandi dari Syaikh Amir Kullal dari Syaikh Muhammad Baba As­Samasi dari Syaikh Ali Ar-Rumaitini dari Syaikh Mahmud Al-Anjir Faghnawi dari Syaikh Arif Ar-Riwikari dari Syaikh Abdil Khaliq Al ­Ghajduwani dari Syaikh Yusuf Al-Hamadani dari Syaikh Abi Ali Al­ Fadlal dari Syaikh Abil Hasan Ali Al-Kharqani dari Syaikh Abi Yazid Taifur Al-Bustharni dari Syaikh Ja’far Ash-Shodiq dari Syaikh Qosim bin Muhammad dari Sayyidina Salman Al-Farisi dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radliallahu ‘anhum ajmain dari Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Sayyidina Jibril ‘alaihis-salam dari Allah ‘azza wa jalla.

Thariqah Qodiriyah Wan-Naqsyabandiyah

Seseorang yang akan memasuki clan mengambil Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah ini, maka dia harus melaksanakan kaifiah atau tata cara sebagai berikut;

1.      Datang kepada guru mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izinnya.

2.      Mandi taubat yang dilanjutkan dengan shalat Taubat dan shalat Hajat.

3.      Membaca istighfar 100 kali.

4.      Shalat Istikharah, yang bisa dilakukan sekali atau lebih sesuai dengan petunjuk sang Mursyid.

5.      Tidur miring kanan menghadap kiblat sambil membaca shalawat Nabi sampai tertidur.

Setelah kelima hal tersebut dilakukan, selanjutnya adalah; Pelaksanaan Talqin Dzikir/ Bai’at, dengan cara kurang lebihnya seperti tersebut di atas. Melakukan puasa dzir-ruh (puasa sambil menghindari memakan makanan yang berasal dari yang bernyawa) selama 41 hari.

Baru setelah itu, dia akan tercatat sebagai murid Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah. Adapun setelah menjadi murid thariqah ini, dia berkewajiban untuk mengamalkan wirid-wirid sebagai berikut;

a.         Diawali dengan membaca:

b.         Hadlrah Al-Fatihah kepada Ahli Silsilah Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah.

c.          Membaca Al-Ikhlas 3 kali, Al-Falaq 1 kali dan An-Nas 1 kali.

d.         Membaca Shalawat Ummy 3 kali.

e.         Membaca Istighfar 3 kali.

f.          Rabithah kepada Guru Mursyid sambil membaca:

g.         Membaca Dzikir Nafi Itsbat

 (65 kali).

Kemudian dilanjutkan dengan;

a.      Membaca lagi:

b.      Menenangkan dan menkonsentrasikan hati, kemudian kedua bibir dirapatkan sambil lidah              ditekan dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat dengan segala kerepotannya.

c.       Kemudian dengan hatinya mewiridkan dzikir Ismudz-Dzat  (Allah) 1000 kali.

Keterangan:

-          Semua wirid tersebut dilakukan setiap kali setelah shalat maktubah.

-          Untuk Dzikir Ismudz-Dzat, kalau sudah bisa istiqomah setelah shalat maktubah maka        ditingkatkan dengan ditambah setelah Qiyamul-lail dan setelah Shalat Dluha.

-          Untuk Dzikir Ismudz-Dzatboleh dilakukan sekali dengan cara diropel 5000 X (bagi yang masih ba’da maktubah) atau 7000 X (bagi yang sudah ditingkatkan).

-          Sikap duduk waktu melaksanakan wirid tersebut tidak ada keharusan tertentu. Jadi bisa dengan cara tawarruk, iftirasy atau bersila.

-          Bacaan aurad tersebut adalah bagi para mubtadi’ / pemula.

-          Ajaran aurad dan pelaksanaan amalan dzikir lainnya yang ada dalam Thariqah Qodiriyah   Wan Naqsyabandiyah ini secara lebih detail dan terperinci, dapat diketahui apabila seseorang telah masuk menjadi anggotanya dan meningkat ajarannya.

Keterangan:

-          Informasi mengenai kaifiah dan amalan dalam Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah ini diperoleh dari K.H. Abdul Wahhab Mahfudhi, seorang Mursyid Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren “Asy-Syarifah”, Brumbung, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

-          Untuk kegiatan Tawajjuhan di tempat K.H. Abdul Wahhab Mahfudhi ­diadakan setiap hari Selasa untuk putri/ibu-ibu, dan setiap hari Rabu untuk putra/bapak-bapak, mulai jam 08.00 sampai jam 12.00 WIB (Dhuhur).

-          Untuk pelaksanaan bai’at, bisa dilakukan setiap saat.

Adapun sanad kemursyidan K.H. Abdul Wahhab Mahfudhi adalah sebagai berikut:

KH. Abdul Wahhab Mahfudhi dari Syaikh Ihsan dari Syaikh Muhammad Ibrohim dari Syaikh Abdul Karim Banten dari Syaikh Ahmad Khotib Sambas dari Syaikh Syamsuddin dari Syaikh Muhammad Murodi dari Syaikh Abdul Fath dari Syaikh Utsman dari Syaikh Syaikh Abdurrahim dari Syaikh Abu Bakar dari Syaikh Yahya dari Syaikh Hisammuddin dari Syaikh Waliuddin dari Syaikh Nuruddin dari Syaikh Syarofuddin dari Syaikh Syamsuddin dari Syaikh Muhammad Al-Hatak dari Syaikh Abdul Aziz dari Sulthonul Auliya’ Sayyidisy-Syaikh Abdul Qodir AI-Jilani dari Syaikh Abi Sa’id Al­Mubarok bin Mahzumi dari Syaikh Abul Hasan Ali Al-Makari dari Syaikh Abu Farh At-Thurthusi dari Syaikh Abdul Wahid At-Taimi dari Syaikh Siir As-Siqth dari Syaikh Abu Bakar Asy-Syibli dari Syaikh Sayyidit-Tho-ifah Ash-Shufiyah Abul Qosim AI-Junaidi Al-Baghdadi dari Syaikh Ma’ruf Al­Kurkhi dari Syaikh Abul Hasan Ali Ar-Ridlo bin Musa Ar-Rofi dari Syaikh Musa Al-Kadhim dari Sayyidina Al-Imam ja’far Ash-Shodiq dari Sayyidina Muhammad Al-Bakir dari Sayyidina Al-Imam Zainul Abidin dari Sayyidina Asy-Syahid Husein bin Sayyidatina Fatimah Az-Zahro’ dari Sayyidina Ali bin Abi Tholib dari Sayyidil Mursalin wa Nabibi Robbil-‘alamin wa Rasulillah ila kaffatil-kholaiq ajma’in Muhammad SAW dari Sayyidina Jibril AS dari Robbul-arbab wa Mu’tiqur-riqob Allah SWT.

Thariqah Naqsyabandiyah al-Haqqani

Seseorang yang akan memasuki clan mengambil Thariqah Naqsyabandiyah Haqqaniah ini, maka dia harus melaksanakan kaifiah atau tata cara sebagai berikut;

1.      Datang kepada guru mursyid atau deputy, repersentatif yang telah mendapat otorisasi dari sang Mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izinnya, lalu melakukan ba’iat.

kemudian melakukan awrad (wirid harian) yang wajib dipenuhi oleh seorang murid, ada 3 tahapan:

1. Dzikir Pemula, Mubtadi (initiate)

2. Dzikir Persiapan, Musta’id (Prepared)

3. Dzikir tingkat akhir, Mureed (Determination)

bentuk dzkirnya;

The Daily Awrad (Spiritual Practices)

The Awrad of the Initiate

a) shahada three times [ash-hadu an la ilaha illallah wa ash-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasaluh];

b) “astaghfirullah” 25 times;

c) Fatiha one time with the intention of participating in the blessings sent down with it when it was revealed in Makkah.

d) Ikhlas  (Surat 112) 11 times;

e) Falaq (Surat 113) 1 time;

f) Nas (Surat 114) 1 time;

g) la ilaha illallah 10 times, the last time completing it with Muhammadun Rasulullah.

h) Salawat ash-sharifa 10 times [allahumma  alli cala Muhammadin wa `ala ali Muhammadin wa sallim];

i) “ihda‘,” that is, presenting the reward of the above recitation to the Prophet (s) and to the Shaykhs of the Naqshbandi Tariqat;

j) wrapping it up with Fatiha, with the intention of sharing in the Divine Graces and tajalli which were sent down when it was revealed in Madinah the second time.

k) Dhikr of the Glorious Name ‘Allah, Allah’ 1500 times;

l)  salawat [same as (h)] 100 times; 300 times on Mondays, Thursdays and Fridays.

m) one-thirtieth (juz’) of the Qur’an, or instead Ikhlas 100 times;

n) one chapter of Dala’il al-Khairat or instead salawat 100 times.

Awrad of those who are Prepared

The same as the awrad mentioned above, except that the Dhikr ‘Allah, Allah’ is increased from 1500 times to 2500 times by tongue and 2500 times by heart; the praise on the Prophet (salawat) from 100 to 300 times and on Mondays, Thursdays and Fridays to 500 times.

Awrad of the People of Determination

a) shahada three times;

b) seeking Allah’s forgiveness, “astaghfirullah” 70 times;

c) Fatiha one time with the intention of participating in the blessings sent down with it when it was revealed in Makka.

GrandShaykh said, “If someone reads Fatiha, he will not leave this world without attaining those Divine Favors that are hidden behind the meaning of the Fatiha which enable him to reach a state of submission to Allah, Almighty and Exalted. The blessings that Allah has sent down with the Fatiha when it was revealed to the Prophet (s) will never cease, and will last forever, with the one who recites the Fatiha. No one is able to know how much blessings there are except Allah and His Messenger (s). Whoever recites surat al-Fatiha, with the intention of sharing in these tajallis, will attain a high position and a great rank. And whoever recites without this intention, gets general Divine Favors only. This surah possesses innumerable and limitless stations (maqamat) in the Sight of Allah, Who is Powerful and Sublime.

d) Bismillah ir-Rahman ir-Raheem, amana-r-Rasul (Surat 2, verses 285-286), one time.

Whoever recites this ayat, will attain a high rank and a great position. He will get the Safety of al-Aman, in this world and the next. He will enter the Circle of Security in the Presence of Allah Almighty and Exalted, and he will reach all the stations of the Most Distinguished Naqshbandi Order. He will be an inheritor of the Secret of the Prophet (s) and of saints, and will arrive at the stage of Bayazid al-Bistami, the Imam of the Order, who said, “I am the Truth (al-Haqq).” This is the magnificent tajalli (manifestation) which belongs to this ayat, and to other ayats also.

GrandShaykh Khalid al-Baghdadi, one of the imams of this Order, received the Vision and the Secret of this Ayat, through which Allah made him special for his time.

e) Inshira  (Surah 94) 7 times.

On each letter and on each ayat there is a tajalli which is different from that on any other. Whoever recites an ayat or letter of the Qur’an, will attain the Divine grace that is particular to that ayat or letter

If anyone recites this surat of Qur’an, he will receive those Divine Graces, tajallis and virtues. Whoever wishes to obtain these virtues, must keep these awrad daily along with his obligations. Then he will gain True Life and Eternal Life.

These stations and continuous Divine Graces are closely bound together and they cannot be separated, so any deficiency in the awrad will automatically create a deficiency in the Divine Graces being sent down. As an example, if we want to wash our hands, we may wait in front of the tap for water to come out. If the pipes do not connect properly so that the water escapes before reaching the tap, then, no matter how long we wait, the water will not flow out. So we must not let any deficiency enter our dhikr until we obtain all the tajallis and Divine Graces.

f) Ikhlas  (Surah 112) 11 times.

Whoever recites this surah, must obtain the tajalli of the two Names of Glory, al-Ahad (the One), and as-Samad (the Eternal). Anyone who reads it, must get a portion of this tajalli.

g) Falaq (Surah 113) 1 time;

h) Nas (Surah 114) 1 time.

The reality of the Secret and the Perfect Wholeness (Kamal) of Allah’s Greatest Name is connected with these two surahs (Falaq & Nas). Since they mark the end of the Qur’an, they are linked and associated with the completion of the Divine Graces and tajallis. By means of these awrad, the Masters of the Most Distinguished Naqshbandi Order became Oceans of Knowledge and Gnosis. GrandShaykh cAbdullah ad-Daghestani said, “You have now reached the beginning, where each verse, letter and surah of the Qur’an has its own special tajalli, which do not resemble any others. For that reason the Messenger of Allah said, “I have left three things with my Ummah, death which makes them afraid, true dreams which give them good tidings, and the Qur’an which addresses them.” By means of the Qur’an Allah will open up the gates of Divine Grace in the Last Times, as it came down in the time of the Holy Prophet and the Companions, and in the times of the khalifas, and in the time of the saints.

g) la ilaha illallah 10 times, the last time completing it with Muhammadun Rasulullah;

h) salawat ash-sharifa 10 times;

i) ihda, presenting the reward of the above recitation to the Prophet (s) and to the Shaykhs of the Naqshbandi Tariqat;

j) concluding with Fatiha, with the intention of sharing in the Divine Graces and tajalli which were sent down when it was revealed in Madinah the second time;

k) sit on the knees, meditating on the connection (rabitah) to your Shaykh, from your Shaykh to the Prophet (s) and from the Prophet (s) to the Divine Presence, reciting “Allahu Allahu Allahu  Haqq” three times;

l) Dhikr of the Glorious Name ‘Allah, Allah’ 5000 times by tongue, 5000 times by heart;

m) Praising the Prophet (s) through salawat 1000 times, and on Mondays, Thursdays and Fridays 2000 times.

n) one-thirthieth of the Qur’an (juz), or instead Ikhlas 100 times;

o) one chapter of Dala’il al-Khairat or instead salawat 100 times;

lebih lengkap informasinya dapat dilihat langsung di web http://www.naqshbandi.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.