THARIQAH NAQSYABANDIYAH

Thariqah Naqsyabandiyah

Peletak dasar Thariqah Naqsyabandiyah ini adalah Al-’Arif billah Asy­ Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Bahauddin Syaah Naqsyabandy Al-Uwaisi Al-Bukhori radhliallahu ‘anhu (717 – 865 H).

Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Al-Khoni.ra dalam bukunya Al-Hadaaiq Al-Wardiah bahwa Thariqah Naqsyabandiyah ini adalah thariqahnya para sahabat yang mulia radliallahu ‘anhum sesuai aslinya, tidak menambah clan tidak mengurangi. Ini merupakan untaian ungkapan dari langgengnya (terus menerus-red) ibadah lahir- batin dengan kesempurnaan mengikuti sunnah yang utama dan ‘azimah yang agung serta kesempurnaan dalam menjauhi bid’ah dan rukhshah (kemudahan/dispensasi) dalam segala keadaan gerak dan diam, serta langgengnya rasa khudlur bersama Allah ta’ala dan mengikuti Nabi SAW dengan segala yang beliau sabdakan dan memperbanyak dzikir qolby.

Dzikirnya para guru Naqsyabandiyah adalah qolbiyah (menggunakan hati). Dengan itu mereka bertujuan hanya kepada Allah ta’ala semata dengan tanpa riya ; dan mereka tidak menyatakan suatu perkataan dan tidak membaca suatu wirid kecuali dengan dalil atau sanad dari Kitab Allah ta’ala atau sunnah NabiNya, Muhammad SAW.

Asy-Syaikh Mushthafa bin Abu Bakar Ghiyatsuddin An-Naqsyabandi.ra menyatakan dalam risalahnya Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyah Thariqah Muhammadiyah bahwa thariqah ini memiliki tiga marhalah;

a.         Hendaklah anggota badan kita berhias dengan dhohirnya syari’ah Muhammadiyah.

b.         Hendaklah jiwa-jiwa kita bersih dari nafsu-nafsu yang hina, yaitu hasad, thama’, riya’, nifaq dan ‘ujub pada diri sendiri. Karena hal itu merupakan sifat yang paling buruk dan karenanya Iblis mendapatkan laknat.

c.          Berteman dengan para shodiqin (orang orang yang berhati jujur).

Thariqah Naqsyabandiyah ini mempunyai banyak cabang aliran thariqah di Mesir dan menyebar luas ke Iraq dan berpusat di Kota Arbil.

Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah

Untuk memasuki dan mengambil dzikir dari Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini, seseorang harus melaksanakan kaifiah atau tata cara sebagai berikut;

1.      Datang kepada calon guru mursyid untuk meminta izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izin dan perkenannya.

2.      Mandi taubat setelah shalat Isya’ sekaligus berwudlu’ yang sempurna.

3.      Shalat Hajat dua raka’at dengan niat masuk thariqah. Setelah Al-Fatihah, membaca surat Al-Kafirun pada raka’at pertama clan surat Al-Ikhlas pada raka’at kedua.

4.      Setelah salam membaca:

Dan dilanjutkan membaca istighfar 5 kali, atau 15 kali, atau 25 kali.

5.      Membaca Al-Fatihah sekali dan Surat AI-Ikhlas 3 kali, dengan niat menghadiyahkan pahalanya kepada Hadlratzrsy-Syarkh Muhammad Baha’uddin An-Naqsyabandi, serta memohon pertolongannya mudah­ mudahan keinginannya masuk thariqah diterima.

6.      Tidur miring kekanan dengan menghadap kiblat.

Setelah prosesi tersebut dilaksanakan, maka selanjutnya menghadap calon guru mursyidnya lagi untuk mendapatkan petunjuk dan pengarahan lebih lanjut, yang kemudian setelah itu akan dilakukan talqin dzikir atau bai’at dari sang guru mursyid itu kepadanya.

Setelah menerima talqin dzikir atau bai’at, maka dia sudah tercatat sebagai anggota Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini, yang mempunyai kewajiban untuk mengamalkan wirid-wirid sebagai berikut:

a.      Membaca istighfar 5 kali, atau 15 kali, atau 25 kali.

b.      Membaca Al-Fatihah sekali dan 5urat Al-Ikhlas 3 kali, yang dihadiahkan kepada para guru mursyid thariqah ini sejak zaman ini sampai kepada Rasulullah shallallahu alarhi wa sallam, khususnya Hadlratusy-Sqaikh Muhammad Baha-uddin An-Naqsyabandi.

c.       Kedua bibir dirapatkan sambil lidah ditekan dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat dengan berbagai kerepotannya.

d.      Rabithah kepada Guru Mursyid.

e.      Menenangkan dan mengkonsentrasikan hati untuk senantiasa ingat Allah.

f.        Munajat dengan hatinya membaca:

g.      Kemudian dengan hatinya mewiridkan Ismudz-Dzat (Allah…, Allah-, Allah …) 5000 kali, dengan tanpa menggerakkan lidah, bibir clan seluruh anggota tubuhnya kecuali jari penunjuk untuk menarik hitungan tasbih. Dan setiap hitungan 100 diselingi membaca;

h.      Setelah selesai wirid, diam sejenak dan rabithah Guru Mursyid disertai permohonan anugerah barakahnya, kemudian berdo’a sebagai berikut:

Keterangan:

-          Pelaksanaan pembacaan aurad (wirid-wirid) tersebut dilakukan sehari sekali, waktunya bebas yang penting dicari waktu yang bisa istiqomah. -         Sikap duduk pada saat membaca arrrad tersebut adalah dengan duduk tawarruk shalat terbalik, artinya telapak kaki kanan dimasukkan dibawah lutut kaki kiri, kecuali ada udzur.

-          Para murid pemula cukup mengamalkan aurad tersebut. Sedang untuk murid yang sudah meningkat ajarannya, akan mendapatkan ajaran dzikir lainnya seperti Dzikir Latha-if, Dzikir Nafi Itsbat, Dzikir Wuquf, Dzikir Muroqobah Muthlaq, Dzikir Muroqobah Ahadiyatul Af’aal, Dzikir Muroqobah Ma’iyyah dan Dzikir Tahlil bil-lisan.

-    Di samping itu masih ada ajaran muroqobah, yaitu Muroqobah Aqrobiyah, Muroqobah Ahadiyah Adz-

      Dzat Ash-Shomad dan Muroqobah Ahadiyah Adz ­Dzat Ash-Shrifwal-Baht

-          Disamping ada juga ajaran Suluk, Khawajikan dan Tawajjuhan, yang semua hal tersebut diatas

secara terperinci dapat dibaca dalam kitab Risalah Mubarakah, yang disusun oleh Kiai Muhammad

Hambali Sumardi Al-Quddusi.

Suluk Thariqah

Disini penulis merasa perlu untuk memaparkan pelaksanaan suluk dalam Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini, karena ada aturan-aturan tertentu dalam kaifiah atau tata caranya, yaitu sebagai berikut;

1.  Memperoleh izin dari guru mursyid atau izin dari orang telah mendapat ijazah dari guru mursyidnya

untuk mengajarkan suluk.

2.  Kholwah, artinya menyepi atau memisahkan diri dari anak istri dan saudara-saudaranya yang tidak

sedang melakukan suluk.

3.  Berniat suluk untuk selama 40 hari, atau 20 hari atau minimal 10 hari, dengan niatan sebagai

berikut:

Sedangkan rukun-rukun suluk yang harus dipenuhi adalah;

a. Menyedikitkan bicara yang tidak perlu dan tidak ada manfaatnya.

b. Menyedikitkan makan, namun juga jangan sampai kelaparan sehingga tidak kuat melaksanakan

ibadah atau dzikir.

c. Menyedikitkan tidur, artinya mengurangi tidur seperti yang biasanya dilakukan.

d. Melanggengkan dzikir siang malam dengan memperhatikan adab dan tata kramanya, dengan jumlah

dzikir sesuai dengan tingkatan pengajarannya.

e. Tawajjuhan 3 kali sehari semalam, yaitu

1)      Setelah shalat Isya’ dengan terlebih dahulu mengkhatamkan khawajakan selain malam Selasa dan Jum’at,

2)      Pada waktu sahur setelah khataman selain malam Selasa dan Jum’at dan

3)      Setelah Dzuhur dengan tanpa khataman khawajakan. Setelah ‘Ashar khataman khawajakan saja.

Disamping itu ada adab atau tata krama suluk yang juga harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut;

a.      Ketika akan melakukan suluk, hendaknya minta izin dahulu kepada guru mursyidnya.

b.      Mandi taubat dan berwudlu yang sempurna.

c.       Shalat hajat dua raka’at dengan niat memasuki suluk.

d.      Ketika masuk ke tempat kholwat, membaca ta’awudz dan basmalah dengan ikhlas.

e.      Niat bersungguh-sungguh dalam ibadah dan memenjarakan nafsu.

f.        Melanggengkan wudhlu’ (suci).

g.      Tidak berbicara kecuali dzikrullah.

h.      Melanggengkan rabithah kepada guru mursyid.

i.         Sungguh-sungguh memperhatikan shalat Jum’at, jama’ah lima waktu, shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah dan shalat-shalat sunnat lainnya yang muakkadah.

j.        Melanggengkan dzikir, baik jahri maupun sirri; baik dzikir nafi itsbat maupun dzikir Ismudz-Dzat.

k.       Membiasakan tidak tidur. Artinya tidak tidur kecuali sangat kantuk dan kalaupun tidur niatnya untuk menghilangkan capeknya badan.

l.         Tidak menyandarkan tubuhnya pada sesuatu dan tidak tiduran diatas lemek (tikar atau lainnya).

m.     Ketika keluar (dari tempat khalwahnya) menundukkan kepala dan tidak melihat-lihat sesuatu kecuali ada perlu.

n.      Ketika berbuka, tidak memakan makanan yang berasal dari yang bernyawa.

Catatan:

-          Keterangan tentang Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah ini dinukil dari kitab Risalah Mubarakah yang disusun oleh Kyai Muhammad Hambali Mawardi Al-Quddusi, disamping juga penjelasan dari K.H.M.Salman Dahlawi, seorang mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren “Al-Manshur”, Popongan, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.

-          Untuk kegiatan sulukdan tawajjuhan khusus di tempat K.H. M. Salman Dahlawi diadakan 3 kali dalam setahun, yaitu Bulan Muharram, Rajab dan Ramadlan.

-          Untuk kegiatan tawajjuhan umum diadakan sekali dalam seminggu, yaitu setiap hari Selasa sebelum Dhuhur (antara jam 11.00 sampai 12.00).

-          Untuk kegiatan bai’at bisa dilakukan setiap saat, kecuali bulan-bulan suluk.

Adapun sanad kemursyidan K.H. M. Salman Dahlawi adalah sebagai berikut:

K.H.M. Salman Dahlawi dari Syaikh Manshur dari Syaikh Muhammad Al-­Hadi dari Syaikh Sulaiman Az-Zuhdi dari Syaikh Ismail Al-Barusi dari Syaikh Sulaiman Al-Quraimi dari Syaikh Khalid Al-Baghdadi dari Syaikh Abdullah Ad-Dahlawi dari Syaikh Habibillah dari Syaikh Nur Muhammad Al-Badwani dari Syaikh Saifiddin dari Syaikh Muhammad Ma’shum dari Syaikh Ahmad Al-Faruqi dari Syaikh Muhammad AI-Baqi Billah dari Syaikh Muhammad Al-Khawajiki dari Syaikh Darwisy Muhammad dari Syaikh Muhammad Az-Zahid dari Syaikh Ubaidillah Al-Ahrar dari Syaikh Ya’qub Al-Jarhi dari Syaikh Muhammad bin ‘Alauddin Al-’Atthar dari Syaikh Muhammad Baha-uddin An­Naqsyabandi dari Syaikh Amir Kullal dari Syaikh Muhammad Baba As­Samasi dari Syaikh Ali Ar-Rumaitini dari Syaikh Mahmud Al-Anjir Faghnawi dari Syaikh Arif Ar-Riwikari dari Syaikh Abdil Khaliq Al ­Ghajduwani dari Syaikh Yusuf Al-Hamadani dari Syaikh Abi Ali Al­ Fadlal dari Syaikh Abil Hasan Ali Al-Kharqani dari Syaikh Abi Yazid Taifur Al-Bustharni dari Syaikh Ja’far Ash-Shodiq dari Syaikh Qosim bin Muhammad dari Sayyidina Salman Al-Farisi dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radliallahu ‘anhum ajmain dari Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Sayyidina Jibril ‘alaihis-salam dari Allah ‘azza wa jalla.

Thariqah Qodiriyah Wan-Naqsyabandiyah

Seseorang yang akan memasuki clan mengambil Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah ini, maka dia harus melaksanakan kaifiah atau tata cara sebagai berikut;

1.      Datang kepada guru mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izinnya.

2.      Mandi taubat yang dilanjutkan dengan shalat Taubat dan shalat Hajat.

3.      Membaca istighfar 100 kali.

4.      Shalat Istikharah, yang bisa dilakukan sekali atau lebih sesuai dengan petunjuk sang Mursyid.

5.      Tidur miring kanan menghadap kiblat sambil membaca shalawat Nabi sampai tertidur.

Setelah kelima hal tersebut dilakukan, selanjutnya adalah; Pelaksanaan Talqin Dzikir/ Bai’at, dengan cara kurang lebihnya seperti tersebut di atas. Melakukan puasa dzir-ruh (puasa sambil menghindari memakan makanan yang berasal dari yang bernyawa) selama 41 hari.

Baru setelah itu, dia akan tercatat sebagai murid Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah. Adapun setelah menjadi murid thariqah ini, dia berkewajiban untuk mengamalkan wirid-wirid sebagai berikut;

a.         Diawali dengan membaca:

b.         Hadlrah Al-Fatihah kepada Ahli Silsilah Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah.

c.          Membaca Al-Ikhlas 3 kali, Al-Falaq 1 kali dan An-Nas 1 kali.

d.         Membaca Shalawat Ummy 3 kali.

e.         Membaca Istighfar 3 kali.

f.          Rabithah kepada Guru Mursyid sambil membaca:

g.         Membaca Dzikir Nafi Itsbat

 (65 kali).

Kemudian dilanjutkan dengan;

a.      Membaca lagi:

b.      Menenangkan dan menkonsentrasikan hati, kemudian kedua bibir dirapatkan sambil lidah              ditekan dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat dengan segala kerepotannya.

c.       Kemudian dengan hatinya mewiridkan dzikir Ismudz-Dzat  (Allah) 1000 kali.

Keterangan:

-          Semua wirid tersebut dilakukan setiap kali setelah shalat maktubah.

-          Untuk Dzikir Ismudz-Dzat, kalau sudah bisa istiqomah setelah shalat maktubah maka        ditingkatkan dengan ditambah setelah Qiyamul-lail dan setelah Shalat Dluha.

-          Untuk Dzikir Ismudz-Dzatboleh dilakukan sekali dengan cara diropel 5000 X (bagi yang masih ba’da maktubah) atau 7000 X (bagi yang sudah ditingkatkan).

-          Sikap duduk waktu melaksanakan wirid tersebut tidak ada keharusan tertentu. Jadi bisa dengan cara tawarruk, iftirasy atau bersila.

-          Bacaan aurad tersebut adalah bagi para mubtadi’ / pemula.

-          Ajaran aurad dan pelaksanaan amalan dzikir lainnya yang ada dalam Thariqah Qodiriyah   Wan Naqsyabandiyah ini secara lebih detail dan terperinci, dapat diketahui apabila seseorang telah masuk menjadi anggotanya dan meningkat ajarannya.

Keterangan:

-          Informasi mengenai kaifiah dan amalan dalam Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah ini diperoleh dari K.H. Abdul Wahhab Mahfudhi, seorang Mursyid Thariqah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren “Asy-Syarifah”, Brumbung, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.

-          Untuk kegiatan Tawajjuhan di tempat K.H. Abdul Wahhab Mahfudhi ­diadakan setiap hari Selasa untuk putri/ibu-ibu, dan setiap hari Rabu untuk putra/bapak-bapak, mulai jam 08.00 sampai jam 12.00 WIB (Dhuhur).

-          Untuk pelaksanaan bai’at, bisa dilakukan setiap saat.

Adapun sanad kemursyidan K.H. Abdul Wahhab Mahfudhi adalah sebagai berikut:

KH. Abdul Wahhab Mahfudhi dari Syaikh Ihsan dari Syaikh Muhammad Ibrohim dari Syaikh Abdul Karim Banten dari Syaikh Ahmad Khotib Sambas dari Syaikh Syamsuddin dari Syaikh Muhammad Murodi dari Syaikh Abdul Fath dari Syaikh Utsman dari Syaikh Syaikh Abdurrahim dari Syaikh Abu Bakar dari Syaikh Yahya dari Syaikh Hisammuddin dari Syaikh Waliuddin dari Syaikh Nuruddin dari Syaikh Syarofuddin dari Syaikh Syamsuddin dari Syaikh Muhammad Al-Hatak dari Syaikh Abdul Aziz dari Sulthonul Auliya’ Sayyidisy-Syaikh Abdul Qodir AI-Jilani dari Syaikh Abi Sa’id Al­Mubarok bin Mahzumi dari Syaikh Abul Hasan Ali Al-Makari dari Syaikh Abu Farh At-Thurthusi dari Syaikh Abdul Wahid At-Taimi dari Syaikh Siir As-Siqth dari Syaikh Abu Bakar Asy-Syibli dari Syaikh Sayyidit-Tho-ifah Ash-Shufiyah Abul Qosim AI-Junaidi Al-Baghdadi dari Syaikh Ma’ruf Al­Kurkhi dari Syaikh Abul Hasan Ali Ar-Ridlo bin Musa Ar-Rofi dari Syaikh Musa Al-Kadhim dari Sayyidina Al-Imam ja’far Ash-Shodiq dari Sayyidina Muhammad Al-Bakir dari Sayyidina Al-Imam Zainul Abidin dari Sayyidina Asy-Syahid Husein bin Sayyidatina Fatimah Az-Zahro’ dari Sayyidina Ali bin Abi Tholib dari Sayyidil Mursalin wa Nabibi Robbil-’alamin wa Rasulillah ila kaffatil-kholaiq ajma’in Muhammad SAW dari Sayyidina Jibril AS dari Robbul-arbab wa Mu’tiqur-riqob Allah SWT.

Thariqah Naqsyabandiyah al-Haqqani

Seseorang yang akan memasuki clan mengambil Thariqah Naqsyabandiyah Haqqaniah ini, maka dia harus melaksanakan kaifiah atau tata cara sebagai berikut;

1.      Datang kepada guru mursyid atau deputy, repersentatif yang telah mendapat otorisasi dari sang Mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izinnya, lalu melakukan ba’iat.

kemudian melakukan awrad (wirid harian) yang wajib dipenuhi oleh seorang murid, ada 3 tahapan:

1. Dzikir Pemula, Mubtadi (initiate)

2. Dzikir Persiapan, Musta’id (Prepared)

3. Dzikir tingkat akhir, Mureed (Determination)

bentuk dzkirnya;

The Daily Awrad (Spiritual Practices)

The Awrad of the Initiate

a) shahada three times [ash-hadu an la ilaha illallah wa ash-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasaluh];

b) “astaghfirullah” 25 times;

c) Fatiha one time with the intention of participating in the blessings sent down with it when it was revealed in Makkah.

d) Ikhlas  (Surat 112) 11 times;

e) Falaq (Surat 113) 1 time;

f) Nas (Surat 114) 1 time;

g) la ilaha illallah 10 times, the last time completing it with Muhammadun Rasulullah.

h) Salawat ash-sharifa 10 times [allahumma  alli cala Muhammadin wa `ala ali Muhammadin wa sallim];

i) “ihda‘,” that is, presenting the reward of the above recitation to the Prophet (s) and to the Shaykhs of the Naqshbandi Tariqat;

j) wrapping it up with Fatiha, with the intention of sharing in the Divine Graces and tajalli which were sent down when it was revealed in Madinah the second time.

k) Dhikr of the Glorious Name ‘Allah, Allah’ 1500 times;

l)  salawat [same as (h)] 100 times; 300 times on Mondays, Thursdays and Fridays.

m) one-thirtieth (juz’) of the Qur’an, or instead Ikhlas 100 times;

n) one chapter of Dala’il al-Khairat or instead salawat 100 times.

Awrad of those who are Prepared

The same as the awrad mentioned above, except that the Dhikr ‘Allah, Allah’ is increased from 1500 times to 2500 times by tongue and 2500 times by heart; the praise on the Prophet (salawat) from 100 to 300 times and on Mondays, Thursdays and Fridays to 500 times.

Awrad of the People of Determination

a) shahada three times;

b) seeking Allah’s forgiveness, “astaghfirullah” 70 times;

c) Fatiha one time with the intention of participating in the blessings sent down with it when it was revealed in Makka.

GrandShaykh said, “If someone reads Fatiha, he will not leave this world without attaining those Divine Favors that are hidden behind the meaning of the Fatiha which enable him to reach a state of submission to Allah, Almighty and Exalted. The blessings that Allah has sent down with the Fatiha when it was revealed to the Prophet (s) will never cease, and will last forever, with the one who recites the Fatiha. No one is able to know how much blessings there are except Allah and His Messenger (s). Whoever recites surat al-Fatiha, with the intention of sharing in these tajallis, will attain a high position and a great rank. And whoever recites without this intention, gets general Divine Favors only. This surah possesses innumerable and limitless stations (maqamat) in the Sight of Allah, Who is Powerful and Sublime.

d) Bismillah ir-Rahman ir-Raheem, amana-r-Rasul (Surat 2, verses 285-286), one time.

Whoever recites this ayat, will attain a high rank and a great position. He will get the Safety of al-Aman, in this world and the next. He will enter the Circle of Security in the Presence of Allah Almighty and Exalted, and he will reach all the stations of the Most Distinguished Naqshbandi Order. He will be an inheritor of the Secret of the Prophet (s) and of saints, and will arrive at the stage of Bayazid al-Bistami, the Imam of the Order, who said, “I am the Truth (al-Haqq).” This is the magnificent tajalli (manifestation) which belongs to this ayat, and to other ayats also.

GrandShaykh Khalid al-Baghdadi, one of the imams of this Order, received the Vision and the Secret of this Ayat, through which Allah made him special for his time.

e) Inshira  (Surah 94) 7 times.

On each letter and on each ayat there is a tajalli which is different from that on any other. Whoever recites an ayat or letter of the Qur’an, will attain the Divine grace that is particular to that ayat or letter

If anyone recites this surat of Qur’an, he will receive those Divine Graces, tajallis and virtues. Whoever wishes to obtain these virtues, must keep these awrad daily along with his obligations. Then he will gain True Life and Eternal Life.

These stations and continuous Divine Graces are closely bound together and they cannot be separated, so any deficiency in the awrad will automatically create a deficiency in the Divine Graces being sent down. As an example, if we want to wash our hands, we may wait in front of the tap for water to come out. If the pipes do not connect properly so that the water escapes before reaching the tap, then, no matter how long we wait, the water will not flow out. So we must not let any deficiency enter our dhikr until we obtain all the tajallis and Divine Graces.

f) Ikhlas  (Surah 112) 11 times.

Whoever recites this surah, must obtain the tajalli of the two Names of Glory, al-Ahad (the One), and as-Samad (the Eternal). Anyone who reads it, must get a portion of this tajalli.

g) Falaq (Surah 113) 1 time;

h) Nas (Surah 114) 1 time.

The reality of the Secret and the Perfect Wholeness (Kamal) of Allah’s Greatest Name is connected with these two surahs (Falaq & Nas). Since they mark the end of the Qur’an, they are linked and associated with the completion of the Divine Graces and tajallis. By means of these awrad, the Masters of the Most Distinguished Naqshbandi Order became Oceans of Knowledge and Gnosis. GrandShaykh cAbdullah ad-Daghestani said, “You have now reached the beginning, where each verse, letter and surah of the Qur’an has its own special tajalli, which do not resemble any others. For that reason the Messenger of Allah said, “I have left three things with my Ummah, death which makes them afraid, true dreams which give them good tidings, and the Qur’an which addresses them.” By means of the Qur’an Allah will open up the gates of Divine Grace in the Last Times, as it came down in the time of the Holy Prophet and the Companions, and in the times of the khalifas, and in the time of the saints.

g) la ilaha illallah 10 times, the last time completing it with Muhammadun Rasulullah;

h) salawat ash-sharifa 10 times;

i) ihda, presenting the reward of the above recitation to the Prophet (s) and to the Shaykhs of the Naqshbandi Tariqat;

j) concluding with Fatiha, with the intention of sharing in the Divine Graces and tajalli which were sent down when it was revealed in Madinah the second time;

k) sit on the knees, meditating on the connection (rabitah) to your Shaykh, from your Shaykh to the Prophet (s) and from the Prophet (s) to the Divine Presence, reciting “Allahu Allahu Allahu  Haqq” three times;

l) Dhikr of the Glorious Name ‘Allah, Allah’ 5000 times by tongue, 5000 times by heart;

m) Praising the Prophet (s) through salawat 1000 times, and on Mondays, Thursdays and Fridays 2000 times.

n) one-thirthieth of the Qur’an (juz), or instead Ikhlas 100 times;

o) one chapter of Dala’il al-Khairat or instead salawat 100 times;

lebih lengkap informasinya dapat dilihat langsung di web http://www.naqshbandi.org

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: